Headlines
Loading...
Merayakan Maulid, Menghidupkan Risalah Rasulullah

Merayakan Maulid, Menghidupkan Risalah Rasulullah

Oleh: Aas K
Aktivis Muslimah

SSCQMedia.Com— Setiap tahun, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. dengan berbagai bentuk kegiatan. Dilansir dari media daring SindoNews.com pada Minggu (23/8/2026), peringatan Maulid Nabi digelar dalam beragam bentuk.

Salawat dilantunkan, tablig akbar digelar, kajian diselenggarakan, bahkan pawai dilakukan sebagai bentuk kegembiraan dan kecintaan kepada Rasulullah saw. Namun, di tengah semarak peringatan tersebut, ada satu pertanyaan penting yang patut direnungkan: apakah kecintaan kepada Rasulullah saw. telah benar-benar melahirkan keterikatan kepada risalah yang beliau bawa?

Jangan sampai Maulid hanya menjadi momentum seremonial yang membangkitkan emosi sesaat, tetapi tidak mengubah cara pandang dan perilaku umat dalam menjalani kehidupan. Sebab, mencintai Rasulullah saw. bukan sekadar memperbanyak salawat dan memuji akhlaknya. Cinta kepada Rasulullah saw. seharusnya melahirkan ittiba', yakni mengikuti petunjuk dan tuntunan beliau dalam seluruh aspek kehidupan.

Allah Swt. berfirman:

“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu...”
(QS. Ali 'Imran: 31)

Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya memiliki konsekuensi berupa mengikuti Rasulullah saw. Karena itu, ukuran cinta bukan hanya seberapa meriah seseorang memperingati Maulid, tetapi sejauh mana kehidupan umat berusaha mengikuti risalah yang dibawa Rasulullah saw.

Rasulullah saw. tidak hanya membawa ajaran tentang ibadah ritual dan akhlak individual. Beliau membawa risalah Islam yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Islam mengatur hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri, dan sesama manusia, termasuk urusan sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, dan pemerintahan.

Karena itu, ketika umat memperingati kelahiran Rasulullah saw., semestinya momentum tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengingat kembali perjuangan beliau dalam mengubah masyarakat jahiliah menuju masyarakat yang tunduk kepada Allah Swt.

Rasulullah saw. menghadapi masyarakat yang memiliki berbagai bentuk penyimpangan. Beliau kemudian melakukan pembinaan umat, menyampaikan Islam, membangun kesadaran, serta memperjuangkan perubahan masyarakat berdasarkan risalah Islam.

Inilah yang semestinya menjadi bahan renungan umat hari ini: apakah kita hanya mencintai sosok Rasulullah saw., atau juga bersungguh-sungguh mengikuti risalah dan perjuangan beliau?

Realitas kehidupan umat Islam saat ini menunjukkan bahwa banyak persoalan muncul ketika aturan kehidupan tidak lagi menjadikan wahyu sebagai standar utama. Nilai material, kepentingan ekonomi, kebebasan tanpa batas, dan kepentingan politik sering menjadi pertimbangan dalam menentukan arah kehidupan.

Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Karena itu, orientasi hidup semestinya tidak hanya mengejar keuntungan duniawi, tetapi juga tunduk kepada aturan Allah.

Allah Swt. berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maka, momentum Maulid seharusnya menjadi sarana untuk mengembalikan kesadaran umat bahwa kehidupan tidak boleh dilepaskan dari tuntunan Allah Swt. Kecintaan kepada Rasulullah saw. tidak cukup diwujudkan dengan simbol dan seremoni. Kecintaan tersebut harus mendorong umat untuk mempelajari Islam, mengamalkannya, dan berusaha menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

Rasulullah saw. telah memberikan teladan bagaimana perubahan masyarakat dilakukan. Beliau membina para sahabat dengan akidah Islam, mendakwahkan Islam kepada masyarakat, menghadapi berbagai tantangan, kemudian membangun kehidupan masyarakat yang berlandaskan wahyu. Dari perjalanan tersebut, umat dapat mengambil pelajaran bahwa perubahan membutuhkan pembinaan umat, dakwah, kesabaran, dan keteguhan dalam memegang prinsip Islam.

Karena itu, peringatan Maulid hendaknya tidak berhenti pada pertanyaan, “Seberapa besar kita mencintai Rasulullah saw.?” tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih mendasar, “Sudahkah kecintaan itu membuat kita mengikuti risalah beliau?”

Ittiba' kepada Rasulullah saw. berarti menjadikan beliau sebagai teladan dalam kehidupan. Mengikuti beliau berarti berusaha menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya sesuai dengan tuntunan yang beliau ajarkan.

Jika Maulid mampu menghidupkan kembali kesadaran ini, maka peringatan tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan tahunan. Ia dapat menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, mempererat ukhuwah, dan mendorong umat untuk semakin memahami serta mengamalkan ajaran Islam.

Allah Swt. telah menegaskan bahwa Rasulullah saw. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Maka, sudah semestinya Maulid menjadi momentum untuk mengenalkan kembali Islam sebagai risalah yang membawa rahmat, bukan sekadar perayaan yang berulang setiap tahun.

Pada akhirnya, cinta kepada Rasulullah saw. bukan hanya tentang mengingat kelahirannya, tetapi tentang mengikuti ajarannya. Bukan hanya memperbanyak pujian kepadanya, tetapi berusaha menjalankan risalahnya. Bukan hanya merayakan Maulid, tetapi menjadikan keteladanan Rasulullah saw. sebagai inspirasi untuk memperbaiki diri dan masyarakat.

Jika Maulid mampu melahirkan kesadaran seperti itu, maka peringatan Maulid tidak akan berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan yang nyata kepada Rasulullah saw. melalui ittiba' terhadap risalah Islam.

Wallahu a'lam bish-shawab. [My/UF]

Baca juga:

0 Comments: