Headlines
Loading...
Maulid Nabi Bukan Panggung Nostalgia

Maulid Nabi Bukan Panggung Nostalgia

Oleh: Ummu Faiha Hasna
(Pena Muslimah Cilacap)

SSCQMedia.Com—Bulan Maulid bukan sekadar momentum untuk mengenang kelahiran Nabi saw., tetapi juga menjadi momen bagi umat Islam untuk kembali menumbuhkan kecintaan kepada Baginda Nabi sekaligus meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, sayang seribu sayang, potret umat hari ini menunjukkan bahwa individu-individu Muslim mengalami split personality, dalam arti memiliki kepribadian ganda. Di satu sisi, mengaku beriman dan berpikir, tetapi di sisi lain bertindak dengan kerangka sekuler dalam urusan ekonomi, politik, hukum, dan sosial.

Umat Islam di berbagai negeri hari ini juga terpecah-belah oleh sekat-sekat nasionalisme sempit yang justru diwariskan penjajah. Negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia, tunduk pada aturan dan tekanan kekuatan global. Mulai dari utang luar negeri yang mencekik, impor bahan kebutuhan pokok, hingga ketergantungan pada kebijakan lembaga keuangan internasional.

Sementara itu, ada hal yang paling menyayat hati, yaitu saudara-saudara di Palestina terus dibantai dan digusur dari tanahnya sendiri, sementara negeri-negeri Muslim yang jumlahnya lebih dari 50 negara tak mampu menghadirkan pertolongan nyata karena tersekat oleh kedaulatan nasional masing-masing dan ketiadaan politik yang menyatukan. Mengapa kondisi ini masih terus berlanjut?

Akar Masalah

Penyebab utamanya adalah umat Islam sudah tidak lagi menerapkan Islam sebagai mabda atau ideologi. Faktanya, sebagian besar umat Islam hari ini menjalankan Islam hanya sebatas ritual, tradisi turun-temurun, dan simbol-simbol keagamaan yang dirayakan secara seremonial tanpa substansi perjuangan.

Di Indonesia, fenomena ini terlihat jelas. Salah satunya saat peringatan Maulid Nabi. Sayangnya, saat peringatan ini digelar meriah dan selawat dikumandangkan di mana-mana, ajaran Islam tentang sistem ekonomi, hukum, dan politik pemerintahan justru dianggap sebagai wilayah asing yang tidak perlu disentuh. Bahkan, dicurigai sebagai sesuatu yang berbahaya.

Racun Sekularisme dan Liberalisme

Sekularisme dan liberalisme sejatinya telah ditanamkan Barat sejak masa kolonial. Sekularisme sendiri, menurut Wikipedia, adalah sebuah prinsip yang bertujuan menjalankan urusan manusia berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sekuler, yakni pemisahan agama dan negara serta pendekatan naturalistik tanpa melibatkan agama.

Racun sekularisme ini dilanggengkan melalui sistem pendidikan, hukum, dan politik pascakemerdekaan. Akibatnya, umat kehilangan kunci kebangkitannya sendiri, yaitu penerapan syariat secara kafah secara menyeluruh, alias tidak setengah-setengah.

Warisan Nabi saw. berupa sistem pendidikan Islam yang pernah dicontohkan Rasulullah di Madinah dan berhasil menyatukan umat dalam satu kepemimpinan, atau dalam sejarah dikenal sebagai institusi khilafah, justru dicampakkan dan dianggap usang. Padahal, dahulu sistem inilah yang mengantarkan umat pada kejayaan dan peradaban yang diakui dunia.

Maulid Nabi Harus Dikembalikan

Sebagai momentum penyadaran, Maulid Nabi seharusnya dikembalikan pada fungsi aslinya, bukan sekadar rutinitas tahunan. Tercatat dalam tinta peradaban Islam bahwa Salahuddin al-Ayyubi menghidupkan kembali tradisi perayaan Maulid Nabi justru dalam konteks membangkitkan kembali semangat juang yang saat itu tengah lesu menghadapi pendudukan pasukan Salib atas Baitulmaqdis.

Maulid bagi Salahuddin bukan panggung nostalgia, melainkan momentum mengobarkan kembali semangat (ghirah) perjuangan hingga Al-Quds berhasil dibebaskan.

Pelajaran ini sangat relevan bagi umat Islam di Indonesia hari ini. Peringatan Maulid seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif untuk menyadari bahwa penderitaan Palestina, Muslim Uighur, Muslim Kashmir yang terus tertindas, umat yang terpecah, serta negeri-negeri Muslim yang lemah bukanlah takdir yang tidak bisa diubah, melainkan akibat dari ditinggalkannya jalan perjuangan Nabi saw.

Cinta kepada Nabi yang sejati bukanlah cinta yang berhenti pada selawat, pujian, dan lisan semata. Akan tetapi, keimanan sejati terhadap Islam menuntut ketundukan penuh pada seluruh ajaran yang dibawa Rasulullah saw., bukan memilah-milah seperti prasmanan: mana yang nyaman diamalkan atau diambil dan mana yang ditinggalkan karena dianggap tidak relevan dengan zaman.

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an surah Ali 'Imran ayat 31:

(Qul in kuntum tuhibbunallaha fattabi'uni yuhbibkumullahu wa yaghfir lakum dzunubakum, wallahu ghafurur rahim.)

"Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Tolok Ukur Cinta Bukan Pengakuan

Al-Qur'an mengajarkan bahwa tolok ukur cinta bukanlah pengakuan, melainkan ittiba', yakni mengikuti Rasulullah secara menyeluruh dalam apa pun yang dicontohkan Rasulullah. Hal ini merupakan bentuk keterikatan pada syariat dan metode perjuangan Nabi saw., bukan sekadar ritual, tetapi juga dalam mengatur masyarakat dan negara (daulah).

"Sungguh, akan ada di antara kalian kenabian selama Allah menghendaki, kemudian Allah mengangkatnya. Kemudian akan ada kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian." (HR. Ahmad)

Hadis ini juga menjadi kabar gembira sekaligus janji bahwa kepemimpinan Islam yang menyatukan seluruh umat dalam satu institusi khilafah bukanlah gagasan usang. Akan tetapi, hal ini merupakan kabar gembira dari risalah Nabi yang dijanjikan akan kembali tegak.

Maka dari itu, sungguh, momentum Maulid Nabi tahun ini semestinya menjadi titik balik bagi umat Islam di seluruh jagat raya untuk memobilisasi kembali kekuatan yang selama ini tercerai-berai. Sebab, cinta kepada Nabi sejatinya bermakna cinta kepada seluruh syariat yang dibawa beliau.

Cinta ini harus diwujudkan dalam bentuk perjuangan nyata memperjuangkan tegaknya kembali syariat Islam secara menyeluruh, termasuk sistem politik yang pernah mempersatukan umat dan menjadikannya kekuatan yang disegani di dunia.

Penerapan aturan kehidupan sekuler yang diterapkan di negeri-negeri Muslim saat ini mewajibkan umat Islam memperjuangkan penerapan syariat secara sempurna melalui kepemimpinan Islam, yakni khilafah yang dipimpin seorang khalifah, sebagaimana dakwah yang dicontohkan Rasulullah di Makkah.

Metode perjuangan yang ditempuh beliau melalui tiga tahapan (marhalah), yaitu tatsqif, tafa'ul ma'al ummah, dan istilamul hukmi. Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta.

Namun, selama umat masih memisahkan cinta kepada Nabi dari syariat kafah dan perjuangannya, selama itu pula perayaan Maulid hanya akan menjadi seremoni tahunan tanpa makna. Sementara itu, janji kebangkitan yang dikabarkan Rasulullah saw. akan terus tertunda oleh banyaknya kelalaian dari umatnya sendiri.

Wallahu a'lam. [My/HEM]

Baca juga:

0 Comments: