Maulid: Momentum Meneladani Perjuangan Nabi
Oleh: Nur Afni
Pemerhati Sosial dan Politik
Deli Serdang
SSCQMedia.Com— Setiap tahun, umat Islam merayakan Maulid Nabi Muhammad saw. dengan melantunkan selawat, menggelar tablig akbar, bahkan melakukan pawai di jalan raya. Namun, sayangnya, perayaan Maulid Nabi saw. sering kali hanya berhenti pada aspek ritual dan emosional semata. Padahal, Rasulullah saw. adalah suri teladan terbaik sepanjang masa hingga hari kiamat. Namun, mengapa momentum Maulid Nabi saw. hanya berfokus pada ibadah ritual semata?
Dalam menyambut Rabiulawal 1448 Hijriah, Kementerian Agama (Kemenag) mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. ini digelar melalui kegiatan Blissful Mawlid 1448 H. Salah satu agenda utamanya adalah Gema Selawat Kebangsaan, sebuah gerakan nasional yang mengajak masyarakat memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw.
Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, mengatakan bahwa Gema Selawat Kebangsaan dirancang sebagai ruang bersama untuk menghidupkan tradisi selawat sekaligus meneladani akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa (SindoNews, 23 Agustus 2026).
Kecintaan kepada Rasulullah saw. merupakan salah satu pilar keimanan kaum muslimin. Iman seorang muslim tidak sempurna hingga Rasulullah saw. lebih dicintai daripada dirinya sendiri, keluarganya, dan seluruh manusia. Mencintai dan mengingat Rasulullah saw. tidak cukup jika hanya diwujudkan dalam perayaan tahunan atau sekadar mengenang hari kelahiran beliau. Sejatinya, peringatan Maulid harus menjadi bukti nyata cinta kita kepada Rasulullah saw. dengan kesiapan untuk mengemban seluruh risalah yang beliau bawa, yakni terikat dan menerapkan seluruh syariat Islam dalam segala aspek kehidupan, baik individu, masyarakat, maupun negara.
Keteladanan Rasulullah saw. mencakup seluruh dimensi kehidupan. Beliau adalah seorang kepala negara, panglima perang, hakim, pemimpin masyarakat, suami, ayah, pendidik, ekonom, sekaligus nabi dan rasul yang membawa risalah Islam untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya.
Selama 23 tahun masa kerasulannya, beliau tidak hanya mengajarkan akhlak, tetapi juga mendirikan Daulah Islam pertama di Madinah, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar, membangun masyarakat Islam, menerapkan hukum-hukum Allah, mengatur hubungan internasional, memimpin jihad, mengelola Baitulmal, dan menegakkan keadilan. Dengan demikian, Islam hadir sebagai cahaya yang menerangi hati seluruh umat manusia.
Akan tetapi, di balik semaraknya ungkapan cinta tersebut, tersimpan ironi yang besar. Banyak orang mengaku mencintai Rasulullah saw., tetapi mengabaikan risalah yang beliau bawa. Rasulullah saw. dimuliakan secara pribadi, tetapi syariatnya dipinggirkan. Sunahnya dipuji, tetapi sistem kehidupan Islam yang beliau tegakkan justru ditolak dan ditakuti. Bahkan, tidak sedikit yang memusuhi pihak-pihak yang menyerukan penerapan syariat Islam secara kaffah, padahal sejatinya itulah bagian dari misi Rasulullah saw.
Fenomena ini jelas menunjukkan adanya kesenjangan antara pengakuan cinta dan pembuktiannya. Dalam Islam, cinta kepada Rasulullah saw. bukan sekadar perasaan atau ungkapan lisan, tetapi harus diwujudkan dengan ketaatan, loyalitas, dan kesediaan mengikuti seluruh ajaran beliau tanpa memilih-milih sesuai dengan hawa nafsu.
Rasulullah saw. tidak hanya diutus untuk masyarakat pada zaman dahulu. Meski saat ini zaman berubah mengikuti perkembangan teknologi dan digitalisasi, risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. tetap relevan sebagai solusi atas berbagai kompleksitas persoalan kehidupan modern.
Bahkan, seluruh problematika yang dihadapi masyarakat saat ini terjadi karena tidak menerapkan syariat Islam secara utuh dalam segala aspek kehidupan sebagaimana yang beliau contohkan.
Kaum muslimin mengaku mencintai Rasulullah saw., tetapi realitas kehidupan saat ini justru dibangun di atas sistem, nilai, dan aturan yang bertentangan dengan ajaran beliau. Tidak sedikit kaum muslimin yang lebih membela demokrasi daripada Khilafah, padahal demokrasi berasal dari manusia, sedangkan Khilafah merupakan ajaran Islam. Kaum muslimin juga lebih memercayai kapitalisme daripada sistem ekonomi Islam, padahal kapitalisme sangat bertentangan dengan syariat Islam.
Mirisnya, bahkan ada yang menganggap syariat sebagai ancaman dan hambatan bagi kehidupan modern. Ditambah lagi, saat ini negara kita dan hampir seluruh negara di dunia mengemban sistem kapitalisme sekuler yang berasaskan pemisahan agama dari kehidupan. Demi mempertahankan eksistensinya, sistem tersebut dinilai terus menghalangi kebangkitan umat Islam yang menuntut perubahan menuju sistem Islam. Bahkan, sistem Islam, yakni Khilafah, dilabeli sebagai sesuatu yang menakutkan, sementara para aktivisnya dilabeli dengan berbagai stigma buruk.
Realitas umat saat ini menunjukkan kenyataan yang memprihatinkan. Sunah dalam urusan ibadah sering dikampanyekan, sedangkan sunah dalam penegakan hukum Islam, pemberantasan riba, penerapan sistem ekonomi Islam, pengelolaan sumber daya alam, hingga kepemimpinan politik Islam justru dianggap tidak relevan dengan kemajuan zaman.
Padahal, Rasulullah saw. tidak pernah memisahkan aturan agama dari kehidupan atau menerapkan sekularisme. Seluruh sunah beliau merupakan satu kesatuan yang membentuk sistem kehidupan secara utuh. Mengikuti sebagian sunah dan meninggalkan sebagian lainnya jelas bukanlah wujud kecintaan yang sempurna kepada Rasulullah saw. Sikap demikian justru menunjukkan bahwa hawa nafsu masih lebih dominan daripada ketundukan terhadap wahyu Allah.
Islam datang sebagai agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam menunjukkan dengan sangat jelas bahwa tidak ada satu pun bidang kehidupan yang dibiarkan tanpa tuntunan syariat. Islam tidak hanya mengatur salat, zakat, dan haji, tetapi juga mengatur pemerintahan, ekonomi, peradilan, pendidikan, kesehatan, media, teknologi, hubungan sosial, hingga politik luar negeri. Karena itu, memisahkan aturan agama dari kehidupan sama artinya dengan menolak kesempurnaan syariat yang telah Allah turunkan.
Rasulullah saw. tidak membutuhkan pengakuan cinta yang hanya terhenti di lisan. Bukti cinta yang sesungguhnya adalah menaati, mengikuti, dan memperjuangkan seluruh risalah yang beliau bawa. Karena itu, pengakuan cinta kepada Rasulullah saw. yang tidak disertai ittiba' terhadap sunah dan syariat beliau pada hakikatnya merupakan klaim cinta tanpa bukti, bahkan pengkhianatan terhadap pengakuan cinta itu sendiri.
Sudah saatnya kaum muslimin bangkit dan bersatu untuk meneruskan kembali estafet perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabat dalam menegakkan sistem Islam di muka bumi. Dakwah Rasulullah saw. tidak pernah hanya terfokus pada perbaikan akidah atau sarana ibadah semata. Namun, terdapat tiga tahapan dakwah Rasulullah saw. dalam menegakkan Daulah Islam, yaitu:
Pertama, tahap pembinaan (tasqif).
Tahap ini dilakukan dengan pembinaan pemikiran Islam secara intensif agar umat memahami Islam secara benar sesuai dengan syariat Allah Swt., disertai dengan pembentukan kelompok atau kutlah. Rasulullah saw. membina para sahabat secara rahasia di rumah Arqam bin Abi Arqam selama tiga tahun untuk menanamkan akidah yang kuat.
Kedua, tahap interaksi dengan umat (tafa'ul ma'al ummah).
Tahap ini dilakukan dengan menyebarkan ideologi Islam ke tengah masyarakat secara luas melalui dakwah politik (kifah siyasi) dan pertarungan pemikiran (shira'ul fikri) untuk melawan tradisi rusak yang melekat erat di masyarakat. Pada tahapan ini juga dilakukan upaya mencari pertolongan atau kekuatan politik (talabun nushrah) kepada para tokoh yang berpengaruh di masyarakat.
Rasulullah saw. mulai berdakwah secara terang-terangan di Makkah, menentang penyembahan berhala, serta menghadapi berbagai penolakan, propaganda, dan siksaan dari kaum kafir Quraisy.
Ketiga, tahap penerimaan syariat atau penyerahan kekuasaan (istilam al-hukmi).
Tahap ini dilakukan dengan menerapkan Islam secara menyeluruh (kaffah) melalui institusi negara. Proses tersebut dilakukan dengan mengambil alih kekuasaan secara damai setelah mendapatkan dukungan (nushrah) dari para pemegang kekuatan.
Contoh yang tertulis dalam sirah adalah keberhasilan dakwah Mus'ab bin Umair di Madinah yang berujung pada Baiat Aqabah II, kemudian hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah dan berdirinya Daulah Islam pertama di Madinah.
Sejatinya, ungkapan cinta kita kepada Rasulullah saw. adalah dengan melihat dan mengikuti bagaimana perjuangan beliau dalam menerapkan Islam. Dengan metode inilah Islam diyakini akan tegak kembali dengan mengganti sistem kapitalisme yang berasal dari kompromi manusia dan kembali kepada sistem yang sahih, yakni sistem Islam, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Wallahualam bissawab. [Ni/WA]
Baca juga:
0 Comments: