Oleh: Naila
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com— Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia memperingati hari kelahiran (Maulid) Nabi Muhammad saw., tepatnya pada tanggal 12 Rabiulawal. Bagi umat Islam, hari tersebut sangat bermakna karena pada hari itulah lahir sosok yang sangat mulia, yang telah berhasil mengubah sistem kehidupan masyarakat dari masyarakat jahiliah yang penuh kegelapan menuju sistem kehidupan yang penuh cahaya dan ketinggian peradaban.
Oleh karena itu, sebagai wujud syukur dan rasa cinta kepada Rasulullah Muhammad saw., umat Islam selalu merayakan hari kelahiran beliau dengan berbagai acara, seperti tabligh akbar yang diwarnai dengan selawat kepada Nabi Muhammad saw. serta pembacaan kitab Al-Barzanji. Cukupkah amalan-amalan tersebut menunjukkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad saw.? Benarkah kita mencintai Nabi?
Mencintai Rasulullah saw. adalah suatu kewajiban karena merupakan kesempurnaan iman seorang muslim. Mencintai beliau tidak cukup hanya di lisan sebagai ungkapan emosional, tetapi membutuhkan pembuktian yang nyata dengan menjadikan beliau sebagai teladan.
Allah Swt. menegaskan dalam surah Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”
Ini berarti kecintaan kepada Rasulullah mengharuskan umat Islam berittiba’ (mengikuti) seluruh perjalanan kehidupan Rasulullah. Tidak hanya meneladani akhlak beliau, tetapi juga meneladani beliau dalam ketaatan kepada Allah Swt. pada setiap aspek kehidupan.
1. Hubungan Manusia dengan Allah
Aspek pertama adalah hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah), seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Dalam aspek ritual ini, masih banyak umat Islam yang mengikuti ajaran Rasulullah saw.
2. Hubungan Manusia dengan Dirinya Sendiri
Aspek kedua adalah hubungan manusia dengan dirinya sendiri (habluminannafsi), seperti akhlak, makanan, minuman, dan pakaian.
Pada aspek ini, umat Islam banyak yang tidak peduli terhadap ajaran Rasulullah. Mereka menerapkan sistem sekuler sebagai aturan. Hal ini dapat kita lihat dalam aspek pergaulan. Moral generasi saat ini kian memprihatinkan. Perzinaan, perilaku menyimpang, kekerasan, dan kriminalitas semakin marak.
Dalam urusan makanan dan minuman, standar halal dan haram sedikit terabaikan. Kesyubhatan menyebar luas sehingga umat sulit membedakan antara yang halal dan haram.
Begitu pun dalam hal pakaian. Kebiasaan mempertontonkan aurat menjadi hal yang lumrah. Padahal, Rasulullah saw. mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali muka dan telapak tangan. Adapun aurat laki-laki adalah bagian tubuh dari pusar sampai lutut.
3. Hubungan Manusia dengan Masyarakat
Aspek ketiga adalah hubungan manusia dengan masyarakat (habluminannas). Dalam aspek ini, tampak sekali penerapan sistem sekuler dijadikan landasan dalam sebuah aturan.
Dalam perekonomian, misalnya, diterapkan sistem ribawi sebagai penyangga ekonomi negara. Padahal, Islam melarang dengan keras riba.
Dalam aspek pemerintahan, sistem demokrasi dijadikan sebagai penentu penerapan hukum, yang notabene menjadikan manusia sebagai pembuat hukum.
Umat Islam saat ini sangat bangga dengan nasionalisme yang dicekokkan oleh imperialisme Barat. Pemahaman ini dijadikan oleh Barat untuk melumpuhkan persatuan umat. Sungguh, betapa miris wajah umat Islam saat ini.
Barat menyadari bahwa kekuatan umat Islam terletak pada pemahaman Islam sebagai ideologi sehingga ajaran Islam dikebiri. Ketika Barat berhasil menenggakkan racun sekularisme, umat Islam kehilangan jati dirinya sebagai umat terbaik.
Terlebih setelah Khilafah Utsmaniyah berhasil diruntuhkan pada tahun 1924 di Turki melalui Mustafa Kemal. Sejak saat itu, politik dunia Islam berubah. Umat Islam terperosok dalam jurang kehidupan, menjadi bulan-bulanan negara besar. Dunia Islam terpecah menjadi beberapa negara dan sumber daya alamnya dirampas. Yang tersisa hanyalah kelemahan dan kepedihan.
Kondisi ini berjalan hingga sekarang. Meskipun perayaan Maulid Nabi Muhammad saw. setiap tahun tidak pernah terlewatkan, faktanya umat Islam saat ini belum mengalami perubahan.
Mencintai Nabi Muhammad saw. haruslah disandingkan dengan kecintaan kepada Allah Swt., menjadikan ketundukan dan kepatuhan hanya kepada hukum Allah (syariat Islam), serta menjadikan momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. ini sebagai sarana membangun kesadaran kebangkitan umat akan jati dirinya sebagai umat terbaik.
Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan perjuangan dengan cara mewujudkan syariat Islam secara kaffah dalam institusi khilafah Islam, dengan metode dakwah yang dicontohkan Rasulullah Muhammad saw., yaitu melalui pembinaan untuk mengubah pemikiran, politik ideologis, dengan berjemaah, dan tanpa kekerasan.
Wallahu bish-shawab. [My/Ekd]
Baca juga:
0 Comments: