Oleh: Imas Sunengsih, S.E., M.E.
Aktivis Muslimah Intelektual
SSCQMedia.Com—Indonesia kembali berduka. Pasalnya, banyak bencana terjadi akhir-akhir ini, seperti gempa di NTT, karhutla di Kalimantan, dan erupsi empat gunung secara bersamaan. Tidak sedikit kerugian yang dialami.
Seperti yang dikutip dari Kompas.com, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Ibu di Maluku Utara telah mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026).
Dari banyaknya bencana yang terjadi, muncul pertanyaan: apakah ini hanya sekadar bencana atau justru merupakan sebuah peringatan dari Sang Pencipta?
Jika dilihat dari sisi geologis, Indonesia memang berada di Cincin Api dan pertemuan tiga lempeng besar, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Kemudian, dari faktor klimatologi dan geografis (hidrometeorologi), Indonesia mengalami curah hujan yang tinggi, sekitar 1.000 hingga 4.000 mm per tahun.
Namun, ada faktor yang lebih memperparah kondisi bencana, yaitu rusaknya lingkungan yang disebabkan oleh ulah tangan manusia. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Untuk itu, dapat diambil pelajaran bahwa terjadinya banyak bencana merupakan bentuk peringatan dari Sang Pencipta. Di mana hari ini banyak manusia serakah yang berambisi mengeruk kekayaan tanpa melihat halal dan haram. Sehingga, tidak ada aturan agama yang mengatur mereka. Manusia serakah ini terus-menerus merusak dan mengeksploitasi alam secara membabi buta.
Perusakan alam yang dilakukan tidak hanya merugikan manusia, tetapi juga ekosistem yang ada, termasuk binatang yang menjadi korban ganasnya sebuah sistem yang diterapkan hari ini. Kerusakan yang dialami negeri ini sudah sangat mengkhawatirkan, bahkan di ambang kehancuran.
Inilah tabiat buruk dari sebuah sistem kapitalisme yang berasaskan sekularisme. Sistem tersebut telah banyak menimbulkan kerusakan di semua aspek kehidupan, termasuk rusaknya alam dan lingkungan. Lantas, apakah ini akan terus dibiarkan saja tanpa adanya perbaikan dan perubahan?
Tentu jawabannya tidak. Perubahan secara menyeluruh harus dilakukan dengan mengganti sistem yang rusak ini dengan sistem yang paripurna, yakni sistem Islam yang telah terbukti selama belasan abad, baik secara fakta maupun data, memberikan solusi tuntas bagi problem kehidupan.
Perubahan ini harus dilakukan secara revolusioner, tidak tambal sulam seperti ala kapitalisme yang justru menimbulkan banyak masalah dari solusi yang ditawarkan. Sistem Islam justru akan menyelesaikan masalah secara tuntas sampai ke akar-akarnya. Tentu diperlukan peran pemimpin negara yang sigap dalam mengurus urusan umat.
Perlu dipahami bahwa perubahan yang benar itu wajib mencontoh teladan terbaik manusia, yakni Rasulullah saw. Beliau berhasil mendirikan negara Islam di Madinah dengan menerapkan sistem Islam di semua aspek kehidupan. Di mana beliau sebagai pemimpin melaksanakan amanah dengan penuh tanggung jawab dalam mengurus rakyatnya dan berhasil menciptakan kestabilan, baik dalam maupun luar negeri.
Begitu pun dengan pemimpin yang hendak diwujudkan oleh kaum muslim hari ini. Pemimpin yang harus dicari memiliki kriteria pemimpin yang telah ditetapkan syarak. Sudah dipastikan akan amanah karena paham bahwa amanah tersebut akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt.
Ketika pun terjadi bencana, pemimpin negara Islam akan menangani bencana dengan serius, misalnya dengan memitigasi sejak awal wilayah-wilayah yang rawan bencana serta melakukan upaya preventif dan kuratif ketika terjadi bencana. Sudah disiapkan rancangan ataupun segala sesuatu yang dibutuhkan dengan mengerahkan segala kemampuan untuk melindungi rakyatnya dari setiap bencana.
Dengan demikian, langkah pertama yang harus dilakukan kaum muslim hari ini, yaitu kembali menjadikan sistem Islam kafah sebagai sebuah aturan kehidupan. Kemudian, mewujudkan sistem tersebut dalam sebuah institusi negara yang bernama Khilafah ala minhaj nubuwwah. Inilah yang menjadi fokus perjuangan kaum muslim di seluruh dunia saat ini.
Yakinlah bahwa sistem Islam kafah akan kembali tegak dan berjaya sesuai dengan apa yang telah dijanjikan oleh Allah Swt. dan dikabarkan oleh Rasulullah saw. Tinggal upaya kita yang sungguh-sungguh dan serius dalam perjuangan ini.
Dengan demikian, dibutuhkan kerja sama, kekompakan, dan langkah bersama dari komponen umat untuk saling bahu-membahu mewujudkan kembali kehidupan Islam yang akan menegakkan dan menerapkan sistem Islam kafah pada institusi Khilafah ala minhaj nubuwwah. Karena hanya dengan khilafah, peradaban Islam akan kembali gemilang dan menjadi mercusuar dunia.
Kejayaan Islam, insyaallah, tidak lama lagi, atas izin Allah Swt., akan kembali ke pangkuan kaum muslim. Kaum muslim akan terbebas dari segala bentuk penjajahan dan akan terlindungi dari segala bencana yang terjadi karena memiliki pelindung yang luar biasa dalam mengurus rakyatnya dengan baik.
Wallahu a'lam bish-shawab. [Rn/Hem]
Baca juga:
0 Comments: