Euforia Kemenangan Spanyol dan Ilusi Kemerdekaan Palestina
Oleh: Rida Nurjannah
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Dunia baru saja disuguhi pesta besar dari lapangan hijau. Spanyol berhasil menjadi juara Piala Dunia. (Kompaspedia, 20/7/2026).
Prestasi gemilang tersebut dirayakan jutaan orang di berbagai penjuru dunia. Namun, ada hal menarik di balik kemenangan kali ini.
Di tengah gegap gempita selebrasi, dukungan emosional juga muncul dari sebagian masyarakat Muslim kepada Timnas Spanyol. Alasannya bukan semata-mata karena kemampuan mereka mengolah bola, melainkan karena sikap politik pemerintah Spanyol yang cukup vokal dalam mendukung Palestina dan mengecam tindakan Israel terhadap rakyat Palestina.
Alhasil, media sosial dipenuhi narasi pujian. Spanyol dielu-elukan sebagai pahlawan moral dan dianggap sebagai harapan baru bagi keadilan bagi Palestina. Banyak yang merasa bahwa dukungan tersebut merupakan kemajuan besar karena ada negara Eropa yang berani mengambil sikap politik terhadap persoalan Palestina.
Jika ditarik lebih dalam, justru di sinilah letak paradoks yang perlu diperhatikan.
Tanpa sadar, kita dapat terjebak dalam romantisme politik praktis ala sistem sekuler-kapitalistik. Umat Islam mudah terpesona oleh dukungan simbolik, diplomasi, atau pengakuan politik dari negara-negara Barat. Padahal, persoalan Palestina tidak cukup diselesaikan hanya melalui dukungan diplomatik atau pengakuan di atas kertas.
Sejarah juga menunjukkan bahwa pembagian wilayah dan kepentingan politik negara-negara Barat di Timur Tengah telah memberikan dampak panjang terhadap kawasan tersebut. Salah satu yang sering dibahas adalah Perjanjian Sykes-Picot pada 1916 yang membagi wilayah kekuasaan dan pengaruh Inggris serta Prancis di kawasan Timur Tengah.
Karena itu, menggantungkan harapan pembebasan Palestina hanya pada simpati negara-negara Eropa merupakan sikap yang perlu dikritisi.
Spanyol, sekuat apa pun sikap kemanusiaannya terhadap Palestina, tetap merupakan bagian dari tatanan internasional yang menjalankan politik berdasarkan kepentingan nasional dan dinamika geopolitik. Dukungan diplomatik tentu memiliki arti, tetapi tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi rakyat Palestina.
Yang ditawarkan melalui berbagai jalur diplomasi, termasuk gagasan solusi dua negara, juga masih menyisakan persoalan mendasar. Bagi banyak pihak yang mengkritiknya, solusi tersebut belum mampu menjawab persoalan penjajahan, penguasaan wilayah, pengungsian, serta hak-hak rakyat Palestina.
Persoalan Palestina bukan sekadar sengketa batas wilayah. Di dalamnya terdapat persoalan kemanusiaan, sejarah, politik, serta hak rakyat Palestina untuk hidup merdeka dan bermartabat.
Ketika kita terlalu bersorak karena dukungan negara-negara Barat, kesadaran politik umat justru dapat menjadi tumpul jika dukungan tersebut dianggap sebagai solusi akhir. Solidaritas terhadap Palestina harus tetap dibangun di atas kesadaran bahwa penderitaan rakyat Palestina membutuhkan perjuangan yang konsisten, bukan sekadar euforia sesaat.
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap pasif terhadap penderitaan sesama Muslim. Palestina memiliki tempat penting dalam kesadaran umat Islam. Karena itu, dukungan kepada rakyat Palestina harus diwujudkan melalui berbagai bentuk nyata yang sesuai dengan kemampuan dan ketentuan syariat, seperti doa, bantuan kemanusiaan, edukasi, advokasi, serta dukungan terhadap upaya penghentian penjajahan dan perlindungan terhadap warga sipil.
Allah Swt. berfirman:
“Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 73)
Ayat tersebut menjadi pengingat pentingnya kekuatan dan solidaritas umat dalam menghadapi berbagai persoalan. Ikatan kaum Muslimin tidak semestinya hanya didasarkan pada kepentingan politik sesaat, tetapi juga pada akidah dan kepedulian terhadap penderitaan sesama.
Rasulullah saw. bersabda:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kasih sayang, belas kasihan, dan simpati di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh merasa sakit, seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut menggambarkan kuatnya ikatan persaudaraan di antara kaum Muslimin. Umat Islam di Indonesia, Turki, Mesir, Arab Saudi, Palestina, dan berbagai belahan dunia lainnya merupakan bagian dari satu umat yang memiliki tanggung jawab moral untuk saling peduli dan membantu.
Karena itu, solidaritas terhadap Palestina tidak boleh berhenti pada euforia kemenangan sebuah tim sepak bola atau kegembiraan terhadap dukungan politik dari negara tertentu. Dukungan tersebut seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi rakyat Palestina dan mendorong upaya yang nyata, berkelanjutan, serta berorientasi pada keadilan.
Sudah saatnya umat mengalihkan fokus dari euforia sesaat dunia modern, baik budaya pop maupun hiburan global, menuju kesadaran yang lebih mendalam tentang persoalan umat. Kemerdekaan Palestina tidak cukup diperjuangkan melalui sorak-sorai di tribun stadion atau dukungan di media sosial. Diperlukan solidaritas yang konsisten, kepedulian kemanusiaan, kekuatan politik, dan perjuangan diplomatik yang terus-menerus untuk mewujudkan keadilan bagi rakyat Palestina.
Dukungan negara mana pun terhadap Palestina patut diapresiasi selama benar-benar berkontribusi terhadap perlindungan rakyat Palestina dan terwujudnya keadilan. Namun, umat Islam tidak boleh menggantungkan seluruh harapan pada perubahan sikap politik negara lain. Kesadaran, persatuan, dan kepedulian umat harus tetap menjadi kekuatan utama dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.
Wallahu a'lam bish-shawab. [My/End]
Baca juga:
0 Comments: