Headlines
Loading...
Tembok Pemisah Gaza, Bukti Ambisi Zionis

Tembok Pemisah Gaza, Bukti Ambisi Zionis

Oleh: Zhiya Kelana
Kontributor SSCQMedia.com

SSCQMedia.com — Entitas Zionis Israel kembali menunjukkan wajah penjajahannya di Gaza. Israel diam-diam membangun tembok tanah raksasa sepanjang 23 km yang membelah lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza (Associated Press, 21/7/2026).

Keberadaan penghalang ini terungkap melalui citra satelit yang menunjukkan pembangunannya berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Proyek tersebut melintasi sejumlah permukiman Palestina yang telah hancur akibat dibombardir dan dihuni oleh lebih dari dua juta penduduk (Kompas.id, 21/7/2026).

Pembangunan tembok ini memperluas pemisahan wilayah di Jalur Gaza. Rakyat Palestina yang sudah terjepit oleh blokade kini semakin dikurung dan dipisahkan satu sama lain. Sementara itu, dunia hanya menyaksikan dan mengeluarkan kecaman tanpa tindakan nyata. Krisis kemanusiaan di Gaza terus memburuk di tengah minimnya tempat perlindungan dan bantuan (Al Jazeera, 23/7/2026).

Fakta tersebut menegaskan bahwa penjajahan Israel tidak pernah berhenti. Setiap hari terdapat perluasan wilayah, penghancuran rumah, dan pembangunan infrastruktur pendudukan baru. Tembok ini merupakan bentuk nyata aneksasi yang dilakukan secara sistematis dan terencana. Dunia internasional hanya mampu bersuara, tetapi tidak menghentikan tindakan yang dinilai sebagai kejahatan tersebut.

Ambisi Penjajahan, Bukan Keamanan

Pembangunan tembok yang membelah Gaza menegaskan, menurut penulis, ambisi entitas Zionis Israel untuk menguasai seluruh wilayah Gaza hingga tidak tersisa. Tembok ini bukan semata-mata untuk alasan keamanan, tetapi untuk mengokohkan pendudukan dan mencaplok tanah Palestina sedikit demi sedikit (Republika.co.id, 22/7/2026).

Israel menggunakan dalih keamanan untuk menutupi tujuan aslinya, yaitu melenyapkan keberadaan Palestina.

Israel dinilai tidak akan memberikan kemerdekaan kepada rakyat Palestina sekalipun dunia menentangnya. Sejarah panjang konflik dan pendudukan menunjukkan bahwa berbagai perjanjian dan gencatan senjata belum mampu menghentikan konflik secara permanen. Setiap kali muncul tekanan internasional, Israel tetap melanjutkan berbagai kebijakan yang berdampak terhadap kehidupan rakyat Palestina.

Narasi BoP dan “New Gaza” yang digembar-gemborkan, menurut penulis, hanyalah propaganda untuk menipu. Proyek tersebut dinilai tidak akan mengantarkan Palestina pada kemerdekaan. Berharap kemerdekaan dan pengakuan negara Palestina dari Israel, menurut penulis, merupakan sebuah kekeliruan. Penulis berpandangan bahwa penjajah tidak akan memberikan hak kepada pihak yang dijajah tanpa adanya tekanan dan perlawanan.

Akar masalahnya, menurut penulis, adalah tidak adanya kekuatan politik Islam yang mampu menghentikan penjajahan. Negara-negara muslim terpecah belah dan sibuk dengan urusan dalam negeri masing-masing. Sebagian penguasa bahkan melakukan normalisasi hubungan dengan entitas Zionis. Akibatnya, Palestina dinilai dibiarkan menghadapi kekuatan militer Israel.

Jihad dan Khilafah, Kunci Pembebasan

Umat Islam, menurut penulis, tidak boleh tertipu oleh propaganda negara kafir seperti BoP dan “New Gaza”. Solusi damai yang ditawarkan penjajah dinilai hanya menjadi jebakan untuk melanggengkan penjajahan. Selama umat masih percaya pada solusi dua negara, menurut penulis, selama itu pula penjajahan akan terus berlanjut.

Dalam perspektif Islam yang dianut penulis, berdamai dengan entitas Zionis Israel dinilai haram. Menegakkan jihad melawan entitas Zionis Israel dinilai sebagai kewajiban atas umat Islam. Namun, ketiadaan Khilafah menyebabkan umat Islam dinilai tidak dapat menegakkan jihad secara sempurna karena tidak adanya komando dan kekuatan politik tunggal.

Allah SWT berfirman:

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah semata.”

(QS. Al-Baqarah: 193)

Ayat tersebut, menurut penulis, menegaskan bahwa perlawanan terhadap penjajah merupakan kewajiban hingga tidak ada lagi penindasan dan agama Islam dapat ditegakkan. Jihad dipandang sebagai jalan untuk mengusir penjajah dari tanah kaum muslimin.

Karena itu, umat perlu terus diingatkan terkait apa yang dipandang penulis sebagai pengkhianatan sebagian penguasa muslim yang melakukan normalisasi dengan penjajah. Umat harus diajak fokus pada perjuangan menegakkan Khilafah yang akan menjadi junnah atau perisai bagi rakyat Palestina dan seluruh umat Islam. Dengan institusi Khilafah, menurut penulis, umat memiliki negara yang dapat mengerahkan tentara, dana, dan kekuatan politik untuk membebaskan Al-Aqsa.

Persatuan umat di bawah kepemimpinan Khilafah dipandang sebagai kunci kemenangan Palestina dan seluruh dunia Islam. Di bawah Khilafah, umat Islam dinilai tidak akan mudah ditipu, dipecah belah, dan dijajah. Sumber daya umat akan dikerahkan untuk membela saudara di Palestina, bukan sekadar menghasilkan pernyataan kecaman. Khilafah akan menjadikan pembebasan Palestina sebagai salah satu prioritas politik luar negerinya.

Tembok sepanjang 23 km di Gaza merupakan tamparan keras bagi umat Islam. Hal tersebut membuktikan, menurut penulis, bahwa selama umat Islam masih tercerai-berai dalam puluhan negara bangsa, penjajah akan terus memperluas penjajahannya. Selama tidak ada negara yang benar-benar membela Palestina, tembok tersebut dinilai akan terus bertambah panjang.

Sudah saatnya kita sadar dan kembali pada solusi yang diyakini sebagai solusi hakiki. Pembebasan Palestina, menurut penulis, tidak akan datang dari PBB, perundingan, atau bantuan kemanusiaan semata. Pembebasan Palestina diyakini akan terwujud ketika umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan, yaitu Khilafah, yang menerapkan Islam secara kaffah dan mengerahkan kekuatan untuk membebaskan tanah kaum muslimin.

Wallahu a'lam bish-shawab. [Rn/IWP]

Baca juga:

0 Comments: