Headlines
Loading...
Tawuran Anak, Alarm Keras Perilaku di Luar Batas

Tawuran Anak, Alarm Keras Perilaku di Luar Batas

Oleh: Dewi Puspita Sari, M.T.
(Pengamat Kebijakan Publik)

SSCQMedia.Com — Alih-alih menorehkan prestasi, anak-anak di negeri ini kembali menjadi sorotan karena berbagai perilaku menyimpang. Bukan lagi sekadar kenakalan remaja yang berakhir tanpa dampak, perilaku tersebut seolah menjadi ajang mencari pengakuan dan validasi. Tawuran bahkan dianggap sebagai tren. Sebagian pelaku mengaku hanya ikut-ikutan, sementara yang lain mengaku ketagihan.

Perkelahian yang dahulu identik dengan orang dewasa kini justru dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar berusia 10 hingga 12 tahun.

Ironisnya, tawuran yang dilakukan anak-anak ini tidak kalah mengkhawatirkan karena mereka membawa senjata layaknya orang dewasa. Meskipun belum menimbulkan korban jiwa, fenomena ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi orang tua, masyarakat, dan pemerintah yang memiliki tanggung jawab untuk membina serta menjaga ketertiban masyarakat agar peristiwa serupa tidak terus berulang.

Belum selesai satu kasus, muncul lagi kejadian serupa. Tawuran seakan menjadi penyakit sosial yang terus menular.

Kasus yang lebih tragis terjadi di Jalan Lavon, Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang. Seorang pelajar meninggal dunia akibat sabetan senjata tajam saat terjadi tawuran antarpelajar. Polisi berhasil menangkap dua pelaku pengeroyokan dalam waktu kurang dari 24 jam. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 4 Juni 2026, sekitar pukul 19.00 WIB, melibatkan dua kelompok pelajar dari salah satu SMP di wilayah Cikupa dan salah satu SMP di wilayah Rajeg. Akibat bentrokan itu, seorang pelajar dari kelompok Cikupa meninggal dunia pada Jumat, 5 Juni 2026 (news.detik.com, 5 Juni 2026).

Generasi Kehilangan Arah

Fenomena yang terjadi pada generasi saat ini dipandang sebagai buah dari penerapan sistem kehidupan yang jauh dari tuntunan Islam. Sistem yang menjadikan hawa nafsu sebagai tolok ukur dengan paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme melahirkan generasi yang memisahkan agama dari kehidupan, tidak mampu membedakan yang benar dan salah secara hakiki, serta menganggap semua pandangan memiliki nilai yang sama. Kebebasan bertingkah laku pun kerap dibenarkan atas nama hak asasi manusia.

Akibatnya, lahirlah perilaku yang merusak, seperti tawuran yang justru dianggap sebagai kebanggaan ketika berhasil melumpuhkan lawan. Rasa empati memudar hanya karena persoalan sepele. Masa kanak-kanak yang semestinya dipenuhi tawa dan keceriaan berubah menjadi amarah serta kebencian, diperparah oleh lingkungan yang abai.

Fitrah yang suci perlahan terkikis oleh tontonan dan narasi yang buruk sehingga membentuk pola pikir yang angkuh dan gemar menyakiti sesama demi sebuah kemenangan.

Anak-anak ibarat kertas putih yang dapat diwarnai dengan berbagai nilai. Tanggung jawab mendidik, membina, dan mengarahkan mereka berada di pundak orang tua, guru, masyarakat, dan negara sebagai pengurus urusan rakyat agar mereka kelak menjadi generasi penerus peradaban.

Namun, bagaimana mungkin berharap lahirnya pendidikan yang berkualitas dalam sistem saat ini? Pendidikan yang seharusnya menjadi hak setiap anak justru terasa seperti barang mewah. Banyak anak putus sekolah karena himpitan ekonomi. Mereka mengalami krisis keteladanan, pendidikan, dan perhatian sehingga jalanan menjadi tempat mencari pengakuan.

Dalam Islam, anak yang belum balig belum dibebani tanggung jawab hukum sebagaimana orang dewasa. Ali bin Abi Thalib meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

"Pena diangkat dari tiga golongan: orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga balig, dan orang yang kehilangan akal hingga sadar kembali."
(HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya).

Persoalannya, standar penanganan terhadap anak dalam sistem saat ini dinilai berbeda dengan ketentuan Islam. Islam memiliki aturan yang jelas mengenai pertanggungjawaban hukum sesuai dengan tingkat kematangan seseorang. Sanksi diterapkan secara adil dan proporsional sehingga mampu memberikan efek jera sekaligus menjadi penebus kesalahan.

Islam Melahirkan Generasi Emas

Diperlukan kesadaran bersama yang melahirkan sinergi untuk mengembalikan kehidupan yang mulia sehingga mampu mencetak generasi tangguh sebagaimana generasi Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Generasi inilah yang diharapkan mampu melanjutkan perjuangan menegakkan Islam sebagai jalan menuju kemuliaan.

Dalam pandangan Islam, masyarakat akan dibina dengan satu akidah, satu pemikiran, satu perasaan, dan satu aturan yang sama, yaitu Islam. Sebab, Islam memiliki metode penerapan yang khas dan konsisten.

Rasulullah ﷺ sebagai teladan sepanjang masa telah memberikan contoh penerapan Islam ketika memimpin negara. Beliau membina umat, menyeru kepada Islam, berdakwah, sekaligus menerapkan syariat secara menyeluruh hingga lahir peradaban Islam yang mampu mempersatukan wilayah-wilayah yang luas selama berabad-abad.

Dalam peradaban Islam, generasi senantiasa diarahkan kepada keimanan dan ketakwaan sehingga melahirkan produktivitas yang membawa kemaslahatan bagi umat. Akidah Islam menjadi fondasi kehidupan, sedangkan pendidikan Islam menjadi pedoman dalam proses pembentukan karakter.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata,

"Tidak ada kekayaan yang lebih utama daripada akal, tidak ada musibah yang lebih besar daripada kebodohan, dan tidak ada warisan yang lebih baik daripada pendidikan."

Ketika suasana kehidupan dipenuhi nilai-nilai Islam, anak-anak akan lebih mudah tumbuh dalam kebaikan. Sebaliknya, apabila yang mereka lihat dan rasakan setiap hari adalah keburukan, karakter buruk pula yang akan terbentuk.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

"Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, niscaya engkau akan disibukkan dengan hal-hal yang batil."

Wallāhu a'lam. [Rn/IDP]

Baca juga:

0 Comments: