Headlines
Loading...

Oleh: Isnawati
Muslimah Penulis Peradaban

SSCQMedia.Com—Israel kembali mengubah wajah Jalur Gaza. Melalui citra satelit terungkap bahwa negara tersebut membangun tembok tanah raksasa yang membelah lebih dari separuh wilayah Gaza. Tembok sepanjang sekitar 23 kilometer itu dibangun selama beberapa bulan terakhir dan melintasi sejumlah kawasan permukiman Palestina yang telah hancur akibat serangan. Keberadaan tembok ini dinilai semakin memperdalam pemisahan wilayah yang dihuni lebih dari dua juta warga Palestina (CNBC Indonesia, 22 Juli 2026).

Fakta ini tidak dapat dipandang sekadar sebagai pembangunan infrastruktur biasa. Ketika sebuah wilayah dibelah oleh penghalang permanen, yang berubah bukan hanya bentang alamnya, tetapi juga kehidupan manusia yang tinggal di dalamnya.

Jalan yang dahulu menghubungkan keluarga dapat terputus. Akses menuju berbagai kawasan menjadi semakin terbatas. Ruang hidup masyarakat pun perlahan berubah menjadi wilayah yang terpisah-pisah.

Pembangunan tembok tersebut menunjukkan bahwa perubahan di Palestina terus berlangsung, bukan hanya melalui perang bersenjata, tetapi juga melalui penguasaan wilayah secara fisik.

Infrastruktur permanen seperti ini memiliki dampak yang jauh lebih panjang daripada dentuman bom. Ketika batas-batas baru dibangun, kenyataan baru pun sedang diciptakan. Wilayah yang dahulu menyatu perlahan dipisahkan hingga keterpisahan itu dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Pembangunan Terencana

Inilah yang seharusnya menjadi perhatian dunia. Konflik Palestina ternyata tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga melalui perubahan geografis yang dilakukan sedikit demi sedikit. Ketika tembok berdiri membelah wilayah, kontrol atas ruang ikut berubah.

Mobilitas masyarakat dibatasi. Hubungan antarkawasan dipersulit. Pada akhirnya, harapan untuk menyatukan kembali Gaza menjadi semakin berat.

Keadaan ini menunjukkan bahwa penguasaan wilayah tidak selalu dilakukan melalui senjata. Pembangunan fisik yang bersifat permanen juga mampu mengubah peta politik dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan tembok tidak dapat dipisahkan dari upaya memperkuat penguasaan atas wilayah Palestina.

Semakin lama kondisi ini dibiarkan, semakin sulit pula mengembalikan keadaan seperti semula.

Dampaknya bukan hanya dirasakan hari ini. Anak-anak Palestina akan tumbuh dengan kenyataan bahwa tanah tempat mereka dilahirkan telah terbelah. Mereka akan mengenal pembatas sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Generasi demi generasi berisiko mewarisi keterpisahan yang terus dipelihara hingga menjadi keadaan yang dianggap wajar.

Inilah yang membuat persoalan Palestina semakin menyakitkan. Dunia menyaksikan perubahan besar itu terjadi, tetapi langkah nyata untuk menghentikannya masih sangat terbatas.

Sementara perhatian dunia sering berpindah dari satu isu ke isu lain, perubahan di lapangan terus berlangsung tanpa henti.

Allah Swt. berfirman, "Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka." (QS. Hud: 113).

Ayat ini mengingatkan bahwa seorang muslim tidak boleh bersikap pasif terhadap kezaliman, apalagi membiarkannya memperoleh legitimasi.

Persatuan Umat

Sungguh, umat Islam tidak semestinya hanya menjadi penonton. Setiap kebijakan atau rencana yang memperkuat penguasaan atas wilayah Palestina harus dikaji secara kritis. Umat tidak boleh mudah menerima propaganda yang seolah-olah menampilkan semua langkah tersebut sebagai jalan menuju perdamaian, padahal dampaknya justru semakin mempersempit masa depan Palestina.

Dalam perspektif fikih, normalisasi atau perdamaian yang melegitimasi pendudukan atas tanah Palestina tidak dapat dibenarkan dan hukumnya haram. Oleh karena itu, umat Islam harus terus memberikan dukungan kepada rakyat Palestina sesuai dengan kemampuan masing-masing serta tidak berhenti memperjuangkan hak mereka atas tanah yang dijajah.

Di sisi lain, kondisi ini menjadi pengingat bahwa perpecahan politik di dunia Islam merupakan salah satu penyebab lemahnya respons terhadap persoalan Palestina. Ketika negeri-negeri Muslim berjalan sendiri-sendiri, kekuatan besar umat menjadi tercerai-berai.

Akibatnya, berbagai perubahan yang terjadi di Palestina terus berlangsung tanpa mampu dihentikan secara efektif. Semua kalangan harus terus mengingatkan agar umat Islam tidak tertipu oleh propaganda yang mengaburkan akar persoalan Palestina, termasuk berbagai gagasan seperti Building of Peace maupun New Gaza yang dipandang dapat memperkuat legitimasi atas pendudukan wilayah.

Dalam pandangan Islam, jihad melawan penjajahan Zionis merupakan fardu kifayah bagi umat Islam. Sungguh, ketiadaan Khilafah menyebabkan kewajiban tersebut tidak dapat dijalankan secara sempurna.

Oleh karena itu, umat perlu terus diingatkan tentang pentingnya menjaga persatuan dan tidak melupakan pengkhianatan yang dilakukan oleh sebagian penguasa Muslim terhadap perjuangan Palestina. Umat juga harus terus menyerukan perjuangan menegakkan Khilafah sebagai junnah (perisai) bagi Palestina dan seluruh kaum Muslim.

Palestina tidak membutuhkan simpati yang hanya muncul ketika pemberitaan sedang ramai. Palestina membutuhkan pembelaan yang lahir dari persatuan umat dan kepemimpinan yang mampu menjaga kehormatan kaum Muslim. Selama umat terus terpecah, tembok demi tembok akan semakin mudah berdiri. Namun, ketika umat bersatu dalam kepemimpinan Islam yang menerapkan syariat, umat Islam tidak akan mudah lagi ditipu, dipecah belah, ataupun dijajah. Itulah harapan yang harus terus hidup di hati kaum Muslim dan menjadi jalan menuju kemuliaan Palestina serta seluruh dunia Islam.

Wallahu a'lam bishawab. [MA/HEM]

Baca juga:

0 Comments: