Headlines
Loading...
Selamatkan Remaja dari Ancaman HIV

Selamatkan Remaja dari Ancaman HIV


Oleh. Desi Ernawati, S.Si.
(Aktivis Muslimah)

SSCQMedia.Com—Secara global, Indonesia termasuk salah satu negara dengan beban HIV yang tinggi. Sekitar 4 persen dari total orang dengan HIV (ODHIV) merupakan kelompok usia menengah. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan dan perlindungan perlu diperkuat sejak remaja melalui pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif.

Remaja yang sehat secara jasmani merupakan salah satu fondasi utama untuk mewujudkan bangsa yang maju dan membangun peradaban. Ketika sebagian besar penduduk remajanya terjangkit berbagai penyakit, terlebih HIV, akan semakin sulit bagi bangsa tersebut untuk menghasilkan generasi yang mampu membangun peradaban yang tinggi.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa hingga Mei 2026, dari total 386.469 ODHIV yang hidup dan mengetahui status HIV-nya, sebanyak 10.530 orang atau sekitar 3 persen di antaranya merupakan anak usia 0–18 tahun. Sebanyak 5.335 orang merupakan anak usia SMP dan SMA atau 13–18 tahun. Namun, belum semua anak dengan HIV (ADHIV) segera memulai pengobatan antiretroviral (ARV) setelah diketahui berstatus positif (Kompas.com).

Penyebab Merebaknya HIV

Data di atas menunjukkan bahwa HIV juga ditemukan pada kelompok usia produktif, termasuk remaja. Hal ini menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak. Salah satunya disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak. Ia menyampaikan bahwa penyebab penularan HIV/AIDS di tengah masyarakat cukup beragam, mulai dari perilaku seksual berisiko hingga penggunaan narkoba. Ia juga mengajak masyarakat untuk mencermati akar permasalahannya sekaligus memberikan perhatian kepada orang yang telah hidup dengan HIV.

Tidak jauh berbeda dengan pandangan tersebut, Rumah Sakit Hermina sebagai salah satu fasilitas kesehatan memberikan alternatif solusi berupa program ABCDE. Abstinence, yaitu tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah; Be faithful, yaitu setia kepada pasangan; Condom, yaitu menggunakan kondom dalam hubungan seksual; Drug No, yaitu tidak menggunakan obat-obatan terlarang; dan Education, yaitu memberikan informasi terkait HIV/AIDS.

Beberapa faktor penularan HIV yang perlu diperhatikan antara lain penggunaan narkoba suntik, hubungan seksual berisiko, transfusi darah yang tidak aman, penularan dari ibu kepada bayi, serta faktor lainnya.

Berbagai tawaran solusi tersebut penting dalam perspektif kesehatan, tetapi belum menyentuh akar permasalahan secara menyeluruh. Solusi yang disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Timur dan Rumah Sakit Hermina lebih banyak menggunakan pendekatan kesehatan. Begitu pula lembaga KPA Kabupaten Tangerang yang memandang pencegahan melalui edukasi kepada siswa sebagai salah satu solusi alternatif.

Cara pandang terhadap persoalan HIV tersebut masih kental dengan paradigma sekularisme-liberal sehingga belum menyentuh akar persoalan dan cenderung berfokus pada aspek kesehatan. Akibatnya, solusi yang ditawarkan dinilai belum fundamental.

Narasi bahwa meningkatnya temuan kasus HIV tidak bisa secara langsung dimaknai meningkatnya kasus penularan,  karena bisa disebabkan oleh semakin efektifnya deteksi dini perlu disikapi secara kritis. Peningkatan deteksi memang dapat membuat lebih banyak kasus teridentifikasi, tetapi hal tersebut tidak serta-merta menghilangkan pentingnya mengkaji faktor-faktor yang menyebabkan penularan HIV.

Salah dalam membaca masalah dan mendefinisikan akar persoalan akan membuat solusi yang ditawarkan kurang tepat sasaran. Pencegahan melalui edukasi seksual dan konsep safe sex, misalnya, belum menyentuh akar masalah dari sisi perilaku dan nilai. Edukasi seksual yang berorientasi sekuler sering kali berfokus pada aspek kesehatan medis, seperti pencegahan penyakit menular seksual atau kehamilan yang tidak diinginkan.

Jika demikian, benarkah HIV sekadar persoalan penyakit yang hanya ditinjau dari sisi kesehatan? Apa sebenarnya faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus HIV/AIDS? Bagaimana menyelamatkan remaja dari ancaman HIV sebagai seorang Muslim?

Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mengurai persoalan menggunakan cara pandang Islam, bukan semata-mata pola pikir sekuler seperti yang berkembang saat ini.

Fenomena HIV tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor, termasuk perilaku seksual berisiko, penggunaan narkoba suntik, serta faktor lainnya. Pengaruh media digital, budaya permisif, dan semakin longgarnya kontrol sosial terhadap perilaku generasi muda juga perlu menjadi perhatian.

Pandangan Islam Mengenai HIV

Dalam pandangan Islam, persoalan remaja yang terjangkit HIV/AIDS bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan sistem kehidupan yang membentuk perilaku manusia. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan sosial, standar benar dan salah dapat bergeser dan hanya diukur berdasarkan pertimbangan manfaat menurut manusia.

Akibat pengaruh pemahaman sekuler, sebagian umat Islam menjadikan aturan manusia sebagai sistem kehidupan dan mengesampingkan aturan Allah sebagai Pencipta manusia. Padahal, Allah telah memberikan seperangkat aturan kehidupan melalui syariat Islam.

Rusaknya pergaulan yang tidak berlandaskan aturan Islam dapat memunculkan berbagai persoalan. HIV merupakan salah satu persoalan yang perlu dicegah melalui penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.

Sebagai sistem kehidupan, Islam mengatur tata pergaulan laki-laki dan perempuan. Aturan tersebut mencakup kewajiban menjaga pandangan, larangan mendekati zina, ketentuan berpakaian sesuai syariat, aturan pernikahan, serta ketentuan 'uqubat bagi pelanggaran hukum syarak.

Dengan aturan tersebut, Islam mengatur interaksi laki-laki dan perempuan agar tetap berada dalam koridor yang dibenarkan syariat dan tidak mengarah pada hubungan seksual di luar pernikahan.

Berikutnya adalah penerapan sistem pendidikan Islam. Tujuannya adalah membentuk kepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami. Remaja diharapkan mampu menjaga diri dan organ reproduksinya sebagai bagian dari amanahj serta memahami bahwa setiap perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Dengan demikian, hanya dengan kembali kepada syariat Islam kita mampu menyelamatkan remaja dari berbagai perilaku berisiko yang dapat berdampak pada kesehatan dan kehidupan mereka. Generasi muda perlu dijaga agar mampu memikul tanggung jawab sebagai penopang peradaban pada masa mendatang.

Wallahualam bissawab. [ry/UF]

Baca juga:

0 Comments: