Oleh: Puput Ariantika, S.T.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Agustus adalah bulan bersejarah bagi bangsa Indonesia. Merah Putih dikibarkan, lagu Indonesia Raya dikumandangkan, dan kemerdekaan Republik Indonesia kembali dirayakan. Namun, di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan tahun ini, ada satu pertanyaan yang layak direnungkan: benarkah kita telah merdeka?
Penjajah telah pergi. Dahulu, mereka merampas tanah dan menindas rakyat dengan senjata. Hari ini, bentuk penjajahan dapat hadir melalui sesuatu yang lebih halus, yakni penguasaan pemikiran. Sekarang kita menganggap kebebasan sebagai hak melakukan apa saja tanpa batas. Halal dan haram pun diabaikan dari kehidupan. Oleh karena itu, makna kemerdekaan patut kembali dipertanyakan.
Bagi seorang Muslim, merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan bangsa lain. Merdeka berarti terbebas dari penghambaan kepada selain Allah dan memilih tunduk kepada aturan-Nya. Sebagaimana firman Allah Swt.:
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya? Mereka menakut-nakutimu dengan sesembahan selain Allah. Siapa yang Allah biarkan sesat, tidak ada satu pun yang memberi petunjuk kepadanya.”
(QS Az-Zumar: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin yang benar-benar merdeka adalah orang yang hanya takut dan tunduk kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.
Pena di Medan Pemikiran
Jika penjajahan hari ini berusaha membentuk pemikiran manusia, maka perjuangan untuk melawannya pun harus menyentuh ruang yang sama. Di sinilah ilmu, dakwah, dan tulisan memiliki peran.
Sebuah tulisan yang hanya terdiri atas ratusan kata dapat memiliki pengaruh yang melampaui ruang dan waktu. Ia dapat hadir di layar seseorang yang sedang mencari jawaban, membuka mata seseorang yang selama ini menerima informasi tanpa berpikir, atau bahkan mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan.
Tidak semua perubahan harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan dapat dimulai dari sebuah kalimat sederhana yang membuat seseorang berhenti menggulir layar, kemudian berpikir.
Dari sebuah tulisan, lahir pertanyaan. Dari pertanyaan, tumbuh pencarian. Dari pencarian, seseorang akan menemukan ilmu. Ilmu yang benar akan mengantarkan manusia kepada kesadaran hingga tercermin dalam tingkah lakunya.
Bagi seorang Muslim, menulis bukan sekadar menuangkan kata-kata. Tulisan adalah sarana menyampaikan kebenaran dan mengajak kepada kebaikan. Sebaris kata yang lahir dari ilmu memang tampak kecil di hadapan luasnya dunia. Kita tidak pernah tahu hati siapa yang akan terbuka karenanya.
Dahulu, para pejuang meraih kemerdekaan dengan berperang di medan pertempuran. Kini, medan tempur itu berpindah ke buku, media massa, dan layar dalam genggaman kita. Jika pemikiran bisa menjadi pintu masuk penjajahan, maka tulisan yang benar akan menjadi jalan untuk membangun kembali kesadaran.
Setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi, entah melalui pendidikan, dakwah, maupun bidang lainnya. Bagi seorang penulis, kontribusi dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, yakni sebaris kata untuk merdeka.
Satu tulisan yang lahir dari niat lurus bisa mengubah cara berpikir seseorang. Dia bisa menyadarkan yang terlelap dalam arus informasi keliru, bahkan menghidupkan kembali semangat yang mulai pudar. Satu peluru mungkin berhenti pada satu sasaran, tetapi tulisan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tanggung Jawab Penulis Muslim
Tulisan tidak selalu membawa kebaikan. Tanpa ilmu dan tanggung jawab, tulisan yang seharusnya menjadi cahaya justru dapat menjadi sumber kegelapan. Satu tulisan yang keliru dapat menyebarkan kesalahpahaman kepada banyak orang. Satu informasi yang tidak diperiksa kebenarannya dapat menjadi fitnah ketika berpindah dari satu layar ke layar lainnya.
Seorang Muslim yang menulis harus memastikan bahwa kata-kata yang ditorehkannya memiliki dasar kebenaran.
Di tengah derasnya arus informasi saat ini, para penulis memiliki tanggung jawab untuk tidak sekadar mengejar tulisan yang ramai dibaca. Seorang penulis harus membaca sebelum menulis, memeriksa sebelum menyebarkan, dan memahami sebelum mengajak orang lain mengikuti pemikirannya.
Sebab, setiap kata yang dituliskan bukan hanya berpotensi memengaruhi pembaca, tetapi juga merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. kelak.
Menjadi penulis Muslim bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga menentukan ke mana kata-kata itu akan membawa pembacanya. Apakah pembaca semakin jauh dari kebenaran atau semakin dekat kepada Allah? Apakah semakin tunduk kepada Allah atau justru kepada hawa nafsunya?
Di sinilah kemerdekaan menemukan maknanya.
Tulisan tidak seharusnya menjadi alat untuk membebaskan manusia dari batasan agama agar ia dapat mengikuti apa saja yang diinginkannya. Sebaliknya, tulisan dapat menjadi jalan untuk membebaskan manusia dari kebingungan, kesesatan pemikiran, dan penghambaan kepada selain Allah.
Sebab, manusia yang mengetahui kebenaran dan memilih tunduk kepada Allah adalah manusia yang memahami makna kemerdekaan yang sesungguhnya.
Khatimah
Kemerdekaan bukan sekadar kebebasan, tetapi amanah yang harus dijaga. Jika dahulu para pahlawan berjuang dengan berbagai cara untuk merebut kemerdekaan, hari ini kita memiliki ilmu, dakwah, dan pena.
Menulislah. Mungkin hanya sebaris kata. Kita tidak pernah tahu tulisan mana yang akan mengetuk kesadaran pembacanya. Sebab, bisa jadi sebuah perubahan besar bermula dari sebaris kata untuk merdeka.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. [R/End]
Baca juga:
0 Comments: