Aneksasi Terus Terjadi, Butuh Persatuan Umat Kembali
Oleh: Naila Dhofarina Noor, S.Pd.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Palestina masih menghadapi kehancuran yang terus meluas. Wilayah Tepi Barat pun menjadi sasaran ekspansi Israel. Fakta terbaru, pada 5 Agustus 2026, Aljazeera melaporkan insiden di Kamp Pengungsi Qalandiya, dekat Ramallah, Tepi Barat. Sejumlah bangunan usaha digerebek oleh pasukan Israel disertai ancaman pembongkaran. Mereka juga melukai delapan warga Palestina. Tidak hanya itu, pasukan Israel menduduki atap rumah penduduk dan menangkap sedikitnya 20 warga Palestina.
Fakta tersebut terjadi di tengah rencana pembangunan permukiman berkapasitas sekitar 9.000 unit di lokasi bekas Bandara Atarot yang berbatasan langsung dengan Qalandiya. Demikian disampaikan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 2023 silam.
Dalam beberapa pekan terakhir, penggrebekan tercatat mencapai sekitar 50 kali per hari. Bahkan, jurnalis yang meliput tidak lepas dari sasaran kekerasan pasukan Israel.
Selain pembangunan 9.000 unit tersebut, otoritas Israel juga berencana membangun 2.300 unit rumah baru untuk meningkatkan ekspansinya. Pembangunan dilakukan di atas tanah warga Palestina berdasarkan Undang-undang Properti Absen Israel. Israel mengklaim sebagai tanah negara sehingga bisa terus menyita lahan warga negara. Setidaknya terdapat 6,9 hektare tanah milik warga Palestina yang dilaporkan telah disita.
Sementara itu, proyek Board of Peace (BoP) yang disebut-sebut sebagai bagian dari upaya pembangunan kembali Gaza juga menuai sorotan. Proyek pertamanya bukan pembangunan fasilitas sipil warga yang terdampak perang tetapi justru membangun markas di wilayah selatan Gaza dekat Israel. Pangkalan militer dengan sekitar 150 personel militer dari Maroko akan ditempatkan di sana.
Aneksasi dan Kontroversi BoP
Aneksasi yang dilakukan Israel telah begitu terang. Di balik berbagai kebijakan tersebut, terdapat dukungan politik dari Amerika Serikat dan sejumlah negara yang memiliki hubungan strategis dengan Amerika Serikat. Berbagai tindakan kekerasan, kekejian, dan pencaplokan tanah warga Palestina terus berlangsung, sementara upaya internasional untuk menghentikannya dinilai belum mampu memberikan efek yang signifikan dan membuat jera.
Memang kita dapati adanya penentangan dari banyak negara di dunia dan PBB akan tindakan ilegal Israel ini. Namun, tetap saja aneksasi dilakukan tanpa ada pelarangan tegas. Israel terus dengan agendanya membangun Israel raya dengan kerja yang sangat serius.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan Palestina tidak bisa diberikan oleh zionis Israel karena berseberangan dengan tujuan mereka mendirikan Israel Raya. Solusi yang ditawarkan tentang solusi dua negara pun juga mustahil mencapai kesepakatan karena kerasnya keinginan Israel menguasai wilayah Palestina secara mutlak.
Perkembangan BoP semakin menambah kompleksitas persoalan. Rencana demi rencana pembangunan atas nama proyek BoP semakin membantu ekspansi yang mereka lakukan. Karena itu, keterlibatan berbagai negara dalam BoP perlu dicermati secara kritis agar rekonstruksi Gaza benar-benar berorientasi pada kepentingan dan keselamatan rakyat Palestina.
Persatuan Negeri Muslim, Kunci Pembebasan Palestina
Sebagaimana fakta yang ada, rakyat Palestina terus menghadapi serangan dan berbagai bentuk tekanan dari zionis. Perdamaian bukan yang zionis inginkan. Oleh karenanya, jihad menjadi hal yang tidak terelakkan. Jihad adalah kunci untuk menghadapi mereka dengan kekuatan fisik berdasarkan kekuatan iman.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْۗ وَمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ
“Wahai Nabi! Perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS At-Tahrim: 9)
Pemahaman yang benar mengenai jihad penting diberikan kepada umat agar ajaran tersebut tidak disalahpahami. Jihad merupakan bagian dari ajaran Islam yang memiliki ketentuan syariat dan tidak dapat disamakan begitu saja dengan tindakan kekerasan atau terorisme.
Selain itu, berbagai kebijakan yang mengatasnamakan perdamaian dan rekonstruksi Gaza juga perlu dikaji secara kritis. Umat jangan sampai turut mendukung penguasanya yang bergabung di BoP. Hal ini dikarenakan BoP adalah alat mereka melegalisasi tindakan ilegal mereka dalam upaya aneksasi Palestina. Jelas BoP menyimpang dari semangat perdamaian dan persatuan umat. Bergabung dengannya merupakan bentuk dari pengkhianatan.
Karena itu, keterlibatan negara-negara Muslim dalam berbagai proyek dan kerja sama internasional perlu dikawal agar kepentingan Palestina tidak dikorbankan demi kepentingan politik maupun ekonomi.
Persatuan negeri-negeri Muslim perlu terus diperjuangkan atas dasar keimanan. Sebagaimana umat Islam pernah memiliki kekuatan yang lahir dari persatuan, sudah semestinya umat hari ini membangun kembali solidaritas dan kekuatan politik yang satu dan mampu memperjuangkan kepentingan umat.
Upaya penyelamatan Palestina membutuhkan gerakan dakwah politis yang masif, kesadaran politik umat, solidaritas kemanusiaan, serta dukungan nyata dari berbagai elemen umat. Sungguh, Allah Maha Melihat dan memperhitungkan setiap upaya yang dilakukan hamba-Nya.
Insyaallah, di saat yang menurut Allah tepat nanti, kita akan menjumpai bergabungnya seluruh negeri muslim dalam naungan khilafah. Inilah kekuatan politik umat yang dibangun oleh taqwallah dan ittiba' Rasulullah. Inilah janji kemenangan dari Allah dan bisyarah dari Rasulullah. Allahu Akbar!
Hendaknya kita sebagai umat Islam memiliki mental pemenang, bukan pengikut yang pencundang. Hubungan di antara para musus Islam sejatinya sebatas hubungan kepentingan semata yang sewaktu-waktu akan putus begitu saja. Bahkan, bisa jadi saling berpecah belah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَا يُقَاتِلُوۡنَكُمۡ جَمِيۡعًا اِلَّا فِىۡ قُرًى مُّحَصَّنَةٍ اَوۡ مِنۡ وَّرَآءِ جُدُرٍؕ بَاۡسُهُمۡ بَيۡنَهُمۡ شَدِيۡدٌ ؕ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيۡعًا وَّقُلُوۡبُهُمۡ شَتّٰىؕ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمۡ قَوۡمٌ لَّا يَعۡقِلُوۡنَۚ
“Mereka tidak akan memerangi kamu secara bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena mereka orang-orang yang tidak mengerti.”
(QS Al-Hasyr: 14)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan tidak hanya lahir dari banyaknya jumlah, tetapi juga dari persatuan dan keteguhan.
Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Sekarang, apalagi yang kita tunggu untuk segera bersatu? [R/End]
Baca juga:
0 Comments: