Saat Islam Diterapkan, Pengangguran Bukan Bayang-Bayang
Oleh: Wilda Nusva Lilasari, S.M.
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Dilansir dari Kompas.com (7 Agustus 2026), jumlah pengangguran yang berlatar belakang pendidikan sarjana mencapai 1.033.182 orang, mencakup lulusan sarjana terapan, S-1, S-2, hingga S-3. Pertumbuhan lapangan kerja formal yang membutuhkan keterampilan tinggi ternyata belum sebanding dengan jumlah lulusan perguruan tinggi.
Selama ini, kita sering meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi akan selalu diikuti dengan bertambahnya kesempatan kerja. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Kita justru menghadapi fenomena jobless growth, yaitu kondisi ketika ekonomi tumbuh, tetapi kesempatan kerja tidak bertambah secara memadai.
Kompas.com pada 4 Agustus 2026 juga menyoroti fenomena tersebut. Beberapa perusahaan besar di sektor tekstil, garmen, alas kaki, elektronik, hingga teknologi kembali melakukan efisiensi tenaga kerja akibat melemahnya permintaan global, tekanan impor, dan percepatan otomatisasi.
Tidak heran jika mahasiswa kemudian menagih janji 19 juta lapangan kerja. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dinilai belum banyak menyerap tenaga kerja sesuai kompetensi, khususnya lulusan perguruan tinggi.
Ketika Ekonomi Tumbuh, tetapi Pekerjaan Menyusut
Jobless growth menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis membuat lapangan kerja bertambah.
Perubahan terbesar sebenarnya bukan hanya terjadi pada angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada karakter industri. Dunia sedang bergerak dari industri padat karya menuju industri yang semakin padat teknologi.
Sebuah pabrik modern dapat menghasilkan output jauh lebih besar dibandingkan satu dekade lalu, tetapi dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit. Di sektor jasa, pekerjaan administrasi, layanan pelanggan, hingga analisis dasar mulai banyak dibantu oleh sistem berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Produktivitas meningkat, biaya produksi turun, dan keuntungan perusahaan dapat bertambah. Namun, kebutuhan terhadap tenaga kerja justru dapat menyusut.
Akibatnya, ketika pertumbuhan ekonomi tidak diikuti pertumbuhan lapangan kerja yang sebanding, PHK dan pengangguran menjadi persoalan nyata. Bursa kerja dipenuhi pencari kerja. Bahkan, ada orang tua yang harus mengantar dan menunggu anaknya berburu pekerjaan.
Kondisi ini tentu membuat kita bertanya, kalau ekonomi tumbuh, mengapa mendapatkan pekerjaan yang layak justru terasa semakin sulit?
Bukan Karena Sarjana Tidak Mampu
Dalam kapitalisme, pertumbuhan ekonomi lebih banyak diukur melalui aktivitas ekonomi dan akumulasi modal, bukan semata-mata dari terpenuhinya kesejahteraan setiap individu.
Dalam mekanisme pasar kerja, lulusan S-1, S-2, dan S-3 yang tidak segera terserap pasar kerja berisiko dipandang hanya berdasarkan nilai ekonominya. Padahal, mereka memiliki ilmu, keterampilan, dan kemampuan yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kemajuan masyarakat.
Masalahnya, mereka berada dalam sistem yang membuat potensi tersebut tidak selalu mendapatkan ruang.
Karena itu, jangan sampai pengangguran selalu disederhanakan menjadi persoalan individu dengan kalimat, “Kurang berusaha mencari kerja.” Memang, setiap orang harus berusaha. Namun, persoalan tersebut juga harus dilihat secara sistemis.
Jika jumlah lapangan kerja memang tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja, apakah adil jika seluruh kesalahan dibebankan kepada individu?
Dalam kapitalisme, penciptaan lapangan kerja banyak diserahkan kepada mekanisme pasar dan pihak swasta. Negara lebih banyak berperan sebagai fasilitator agar aktivitas ekonomi berjalan.
Padahal, negara seharusnya tidak hanya bertanya, “Berapa besar pertumbuhan ekonomi?” tetapi juga, “Apakah rakyat bisa hidup layak? Apakah mereka mendapatkan pekerjaan? Apakah ilmu dan kemampuan mereka benar-benar dapat digunakan?”
Islam memiliki cara pandang yang berbeda.
Islam Memuliakan Manusia
Allah Swt. berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.’”
(QS. At-Taubah: 105)
Islam mendorong manusia untuk bekerja dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Namun, Islam juga tidak berhenti pada tuntutan kepada individu. Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ
“Dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-haknya.”
(QS. Asy-Syu’ara: 183)
Ayat tersebut menunjukkan larangan merugikan dan mengurangi hak manusia. Prinsip ini dapat menjadi landasan bahwa kehidupan masyarakat harus dibangun dengan menjaga hak dan kemaslahatan manusia.
Artinya, jangan sampai sistem ekonomi membuat manusia kehilangan kesempatan untuk hidup layak, mendapatkan pekerjaan, memperoleh pendidikan, dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Belajar dari Rasulullah saw.
Ada kisah seorang laki-laki Anshar yang datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta bantuan.
Rasulullah saw. tidak sekadar memberikan sesuatu untuk dikonsumsi. Beliau meminta laki-laki tersebut menjual barang yang dimilikinya.
Setelah mendapatkan dua dirham, satu dirham digunakan untuk membeli makanan bagi keluarganya dan satu dirham lainnya untuk membeli kapak.
Rasulullah saw. kemudian membantu memasangkan pegangan kapak tersebut dan memintanya mencari kayu bakar untuk dijual.
Beberapa waktu kemudian, laki-laki itu kembali kepada Rasulullah saw. setelah mendapatkan hasil dari pekerjaannya. Kisah tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Kisah ini sederhana, tetapi pesannya kuat. Islam tidak ingin orang yang membutuhkan dibiarkan dalam ketidakberdayaan.
Islam mendorong adanya usaha dan pemberdayaan agar seseorang dapat memenuhi kebutuhannya dengan bekerja.
Jadi, bukan sekadar, “Kamu harus bekerja,” tetapi juga, “Bagaimana agar kamu bisa bekerja?”
Di sinilah peran negara menjadi penting.
Islam Menghargai Orang Berilmu
Islam juga sangat menghargai ilmu dan orang yang menguasainya.
Sejarah peradaban Islam menunjukkan lahirnya banyak ilmuwan yang memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia, salah satunya Muhammad bin Musa al-Khawarizmi dalam bidang matematika.
Artinya, orang berilmu bukan dipandang sebagai beban. Ilmu mereka justru harus digunakan untuk kemaslahatan umat.
Bayangkan jika ahli teknologi, insinyur, dokter, peneliti, ekonom, ahli pertanian, ahli energi, dan berbagai tenaga ahli lainnya mendapatkan ruang untuk mengembangkan ilmunya. Potensi tersebut tentu dapat menjadi kekuatan besar bagi negara.
Bagaimana Islam Mengatasi Pengangguran?
Pertama, Islam menjadikan pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu sebagai salah satu ukuran keberhasilan ekonomi, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi atau akumulasi modal.
Kedua, negara bertanggung jawab terhadap rakyat yang kehilangan pekerjaan. Syariat mengatur hubungan kerja sekaligus melindungi hak pekerja. Negara tidak boleh sekadar mengatakan bahwa urusan pekerjaan adalah urusan pasar.
Ketiga, negara berperan sebagai ra'in, yaitu pengurus dan pelindung urusan rakyat. Negara perlu membuka lapangan kerja, mengembangkan industri strategis, menyediakan pendidikan dan pelatihan, serta membantu penempatan kerja sesuai dengan kemampuan rakyat.
Keempat, sumber daya strategis seperti minyak, gas, tambang, hutan, dan air harus dikelola untuk kemaslahatan rakyat. Jika sumber daya tersebut tidak hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi industri dan produk bernilai tambah, tentu akan membutuhkan banyak tenaga ahli.
Ahli pertambangan dibutuhkan untuk mengelola tambang. Ahli teknik dibutuhkan untuk mengembangkan industri. Ahli kimia dibutuhkan untuk mengolah bahan mentah. Peneliti dibutuhkan untuk melakukan inovasi.
Dengan demikian, lulusan S-1, S-2, dan S-3 bukan menjadi beban keluarga, masyarakat, apalagi negara. Mereka adalah potensi yang harus dimanfaatkan.
Pada akhirnya, persoalan pengangguran bukan sekadar tentang ada atau tidaknya pekerjaan. Ini tentang bagaimana negara memandang manusia, ilmu, harta, dan sumber daya alam.
Jika manusia hanya dipandang sebagai bagian dari mesin ekonomi, ketika tidak menghasilkan keuntungan, ia mudah dianggap tidak berguna. Namun, Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kehormatan dan potensi.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar janji bertambahnya lapangan kerja, tetapi sistem yang benar-benar menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan.
Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, ilmu, tenaga, sumber daya, dan potensi manusia dapat diarahkan untuk kemaslahatan seluruh rakyat. Dengan begitu, pengangguran tidak lagi menjadi bayang-bayang yang terus menghantui generasi hari ini.
Wallahu a'lam bish-shawab. [R/End]
Baca juga:
0 Comments: