Oleh: Naila Dhofarina Noor, S.Pd.
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com — Pemandangan para bapak dan ibu guru yang membereskan ompreng para siswa di sekolah sudah bukan hal yang perlu diperdebatkan. Hal tersebut nyata adanya, sebagaimana terlihat dari banyaknya unggahan di media sosial terkait hal ini. Makanan yang tidak dihabiskan selalu saja terjadi di setiap sekolah sehingga bapak dan ibu guru harus mengurusnya agar tidak mubazir. Ada siswa yang berasal dari keluarga kalangan atas maupun menengah yang kebutuhan pokok pangannya sudah terpenuhi. Kondisi tersebut tentu tidak sebanding dengan masalah stunting yang masih tinggi di sejumlah daerah.
Fakta mengejutkan, ternyata Papua termasuk dalam 10 provinsi dengan angka stunting dan gizi buruk akut yang tinggi. Menurut Kementerian Kesehatan, di sana hanya beroperasi 1% dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara itu, Jawa memiliki 53% dapur MBG, padahal angka stunting di wilayah ini tergolong rendah.
Di sisi lain, Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) melalui Muhammad Qodari pada Selasa, 29 Juli 2026, menyebutkan ada 414 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menerima transfer anggaran hingga ratusan miliar rupiah, tetapi belum beroperasi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, yang mengatakan adanya anomali dalam pemeriksaan ribuan rekening virtual account milik SPPG. Ia juga menyatakan bahwa terdapat 414 SPPG yang rekeningnya bermasalah, mulai dari memiliki rekening ganda hingga dapurnya belum beroperasi.
Deretan fakta di atas menunjukkan bahwa program MBG tidak benar-benar fokus menyelesaikan masalah stunting dan gizi buruk. Anggaran terus mengucur, tetapi pelaksanaannya jauh dari sikap amanah. Akibatnya, generasi di wilayah 3T tidak mendapat perhatian semestinya dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Sementara itu, penguasa atau pejabat menggelar bancakan dan menyampaikan laporan-laporan yang tidak berbasis data. Jelas, kerjanya tidak berpihak kepada rakyat. Rakyat dibiarkan menangis dan mengais sendiri kebutuhannya.
Program populis ini merupakan produk kebijakan kapitalisme yang orientasinya adalah kepentingan kapitalis. Pencitraan penguasa untuk kepentingan kontestasi pada periode berikutnya pun tidak dapat dihindari. Hal ini karena penguasa bekerja untuk mencari keuntungan bagi segelintir pihak yang berada di lingkaran pendukungnya. Penguasa dipilih, katanya, melalui pesta demokrasi yang melibatkan seluruh rakyat. Namun, nyatanya, dalam sistem demokrasi, penguasa menjadi sibuk mengamankan barisannya, bukan memikirkan nasib rakyat. Biaya mahal untuk menjadi jawara dalam kontestasi demokrasi pun sudah menjadi hal yang umum diketahui khalayak.
Islam sebagai agama yang sempurna juga memiliki pembahasan mengenai bagaimana semestinya peran penguasa. Islam menetapkan bahwa penguasa atau pemimpin adalah ra'in, yang berarti pengurus rakyat. Pemimpin wajib bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya karena setiap kebijakan akan dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat. Dengan dorongan iman dan takwa, mereka menerima amanah tersebut sehingga memiliki kesadaran untuk memperhatikan setiap rakyatnya, terlebih jika menyangkut nyawa.
Dalam menerapkan sistem pemerintahan, Islam berorientasi pada terwujudnya kemaslahatan rakyat sehingga fokus pada penyelesaian masalah yang dihadapi rakyat, bukan sibuk dengan pencitraan. Pemilihan pemimpin diselenggarakan dengan prinsip yang mudah, efektif, dan efisien sehingga tidak membutuhkan biaya besar yang dapat melahirkan politik balas budi dan membuka peluang untuk mempermainkan anggaran kebijakan.
Demikianlah permasalahan yang terjadi hari ini, bahkan semakin rumit dan kompleks karena Islam tidak diterapkan. Manusia yang baik, ketika menjalankan sistem pemerintahan yang tidak bersumber pada aturan Allah, pada akhirnya dapat membawa rakyat ke dalam lembah kesempitan hidup secara berjemaah. Semoga ada perbaikan yang hakiki dengan kembali kepada sistem Islam agar kemuliaan hidup di dunia dan akhirat dapat diraih. Amin.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Thaha [20]: 124)
[Ni/AA]
Baca juga:
0 Comments: