Headlines
Loading...

Oleh: Imas Sunengsih, S.E., M.E.
Aktivis Muslimah Intelektual

SSCQMedia.com—Indonesia berduka. Gempa yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menewaskan banyak korban dan menghancurkan ribuan rumah. Namun, di tengah kondisi duka tersebut, pesta perayaan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-81 digelar dengan sangat meriah dan bertabur bintang.

Dilansir dari detik.com, hingga hari ketiga, Selasa (18/8/2026) pukul 23.30 WIB, tercatat 202 korban. Sebanyak 70 orang meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka. “Total korban adalah 202 orang, meninggal dunia 70 orang dan luka-luka 132 orang,” kata Direktur Operasi Basarnas, Laksma TNI Yudhi Bramantyo, dalam konferensi pers, Selasa (18/8/2026).

Korban diperkirakan masih dapat bertambah karena masih banyak desa yang terisolasi. Medan yang cukup sulit akibat banyaknya material yang menutupi akses jalan turut menghambat proses evakuasi dan penyaluran bantuan. Dibutuhkan kesigapan pemerintah untuk menjangkau daerah-daerah yang belum mendapatkan bantuan.

Kesulitan yang dirasakan rakyat NTT seolah tidak dirasakan oleh para pejabat negeri ini. Mereka tetap khidmat mengikuti pesta perayaan kemerdekaan RI ke-81 yang diiringi lantunan musik dan berbagai sajian istimewa. Sementara itu, rakyat NTT berjibaku untuk bertahan hidup di tengah bencana.

Dua kondisi tersebut tampak menjadi potret kehidupan di dalam sistem sekuler kapitalistik. Sistem ini dinilai melahirkan individualisme yang minim empati. Kesigapan pemerintah sebagai pengurus rakyat dengan penuh tanggung jawab pun jauh dari harapan.

Rakyat akan dibantu ketika ada kepentingan. Hal ini sering terjadi menjelang pemilu. Ketika sudah menjabat, janji-janji tersebut seolah dilupakan. Para penguasa lebih mementingkan kursi jabatan, kepentingan partai, dan para pendukungnya. Inilah gambaran negara demokrasi yang ada di negeri ini. Semboyan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” pada akhirnya hanya menjadi ilusi.

Berbeda halnya dengan pemerintahan yang diatur oleh sistem Islam kaffah. Dalam sistem tersebut, pemimpin merupakan orang yang bertanggung jawab mengurusi rakyatnya secara totalitas. Rasulullah saw. mengingatkan dalam sebuah hadis:

Ø£َÙ„َا ÙƒُÙ„ُّÙƒُÙ…ْ رَاعٍ ÙˆَÙƒُÙ„ُّÙƒُÙ…ْ Ù…َسْئُولٌ عَÙ†ْ رَعِÙŠَّتِÙ‡ِ

Artinya:

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Pemimpin yang bertanggung jawab, beriman, dan bertakwa diyakini hanya dapat diwujudkan dalam pemerintahan Islam. Hal tersebut telah berlangsung selama berabad-abad. Namun, kepemimpinan tersebut kemudian runtuh pada 3 Maret 1924 M.

Pemerintahan dalam sistem Islam kaffah memiliki penanganan yang bersifat preventif dan kuratif dalam menghadapi bencana. Ketika terjadi gempa, pemerintah akan bertindak sigap dengan menerjunkan aparatur negara. Bantuan segera dikirim sesuai kebutuhan, disertai tenaga medis untuk membantu para korban.

Pemulihan pun dilakukan dengan segera agar kondisi masyarakat dapat kembali pulih. Pembangunan pascabencana akan segera dibenahi dan dibangun kembali. Pemerintah dalam sistem Islam akan bekerja secara totalitas demi kesejahteraan rakyat.

Kaum muslim tentu merindukan kehidupan di bawah naungan sistem Islam kaffah. Di bawah panji la ilaha illallah Muhammadur Rasulullah, kaum muslim akan mendapatkan perlindungan dari berbagai marabahaya. Sebab, pemimpin akan menjadi perisai bagi umat dan menjadi garda terdepan dalam melindungi rakyat.

Kerinduan tersebut harus diwujudkan melalui perjuangan secara totalitas untuk menegakkannya karena hal itu merupakan kewajiban kaum muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Kewajiban tersebut tidak akan gugur selama sistem Islam kaffah belum tegak dalam institusi negara.

Untuk itu, diperlukan persepsi yang sama mengenai metode perjuangan. Ruang-ruang diskusi terbuka lebar untuk membahas problematika umat, akar masalahnya, dan mencari solusi fundamentalnya.

Dakwah harus digencarkan agar pemahaman Islam ideologis menjadi kepemimpinan berpikir bagi kaum muslim. Metode perjuangan pun harus sesuai dengan metode perjuangan Rasulullah saw. Beliau merupakan teladan bagi umat manusia dan telah berhasil menegakkan negara yang kuat sehingga disegani oleh musuh.

Sudah saatnya kita menyatukan kekuatan dan potensi untuk memperjuangkan Islam bersama kelompok dakwah ideologis. Langkah hari ini harus segera dilakukan karena kerusakan telah menggurita di dunia Islam.

Jangan pernah gentar menghadapi berbagai rintangan, baik yang datang dari internal maupun dari musuh-musuh Islam. Yakinlah bahwa janji Allah akan terjadi. Akan tegak kembali negara Islam kaffah yang bernama Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah.

Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah akan kembali sebagaimana yang dijanjikan Allah Swt. dalam QS. An-Nur ayat 55 dan kabar gembira dari Rasulullah saw. bahwa akan ada “Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah” sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Ahmad.

Jadi, sudah tidak ada keraguan lagi dalam perjuangan. Kita harus yakin bahwa perjuangan ini merupakan perjuangan untuk melanjutkan kehidupan Islam. Bumi akan penuh dengan keberkahan dan menjadi cahaya yang menyinari dunia ketika sistem Islam kaffah tegak memimpin dunia.

Negara Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah akan disegani oleh musuh-musuh Islam. Mereka tidak akan melakukan penjajahan terhadap negeri-negeri kaum muslim. Negeri Islam akan terjaga, begitu pun kaum muslim akan terlindungi dari berbagai bentuk kebrutalan penjajahan.

Wallahualam bissawab. [My/PR]

Baca juga:

0 Comments: