Oleh: Alfi Ummuarifah
Pegiat Literasi Islam Kota Medan
SSCQMedia.com—Siapa yang bisa menghentikan tindakan negara arogan ini? Jika ada yang masih berprasangka baik, sesungguhnya mereka hanya sedang menutup mata dan berpura-pura tidak mengetahui. Padahal, mereka juga cemas karena ditipu entitas penjajah itu. Buktinya sudah sangat kuat. Namun, negara-negara Muslim dan mayoritas negara di dunia hanya diam membisu.
Mayoritas negara di dunia ini bingung hendak berbuat apa. Lihatlah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang bersumpah untuk menghancurkan infrastruktur dan mempertahankan pasukan di wilayah yang disebut sebagai "zona keamanan" di Lebanon, Suriah, dan Gaza.
Komentar tersebut disampaikannya saat berkunjung ke Lebanon selatan pada Rabu (12/8/2026) waktu setempat.
Peristiwa ini muncul hampir dua bulan setelah Israel dan Lebanon menyepakati kesepakatan kerangka kerja yang disponsori Amerika Serikat. Kesepakatan ini melibatkan perlucutan senjata kelompok Hizbullah. Parahnya, kesepakatan ini didukung Iran. Dalam kesepakatan tersebut juga terjadi penarikan bertahap pasukan Israel dari Lebanon selatan serta pengerahan tentara Lebanon ke wilayah tersebut.
Amerika Serikat berencana mengadakan pembicaraan baru antara Israel dan Lebanon pada awal September mendatang di Roma, Italia. Katz dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berulang kali berjanji untuk tidak menarik diri dari "zona keamanan" di Lebanon selatan. Ada sebidang wilayah tempat pasukan Israel beroperasi yang membentang sekitar 10 kilometer (enam mil) ke Lebanon. Wilayah ini merupakan tempat yang sangat strategis.
Beginilah ucapan sombong dari pemimpin negara arogan tersebut. "Seperti yang telah dinyatakan dengan jelas oleh perdana menteri dan saya, kami tidak akan menarik diri dari zona keamanan ini," kata Katz selama kunjungan ke pasukan Israel di Lebanon selatan, menurut pernyataan dari kantornya, dilansir kantor berita AFP pada Kamis (13/8/2026).
"Militer Israel berada di sini untuk melindungi komunitas di utara dan pasukannya sendiri. Kami akan membersihkan area ini dan menjamin keamanan penduduk di utara. Kami sama sekali tidak akan mundur dari zona keamanan, tidak di Lebanon, tidak di Suriah, dan tidak di Gaza," cetus Menteri Pertahanan Israel itu.
Katz kemudian mengatakan di Lebanon selatan bahwa militer Israel "menghancurkan infrastruktur bawah tanah" di daerah tersebut dan "menghancurkan semua rumah".
Hizbullah kemudian menyeret Lebanon ke dalam perang Timur Tengah pada awal Maret lalu dengan serangan roket yang ditujukan ke Israel. Serangan itu dilakukan untuk membalas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan AS-Israel.
Israel kemudian merespons dengan serangan udara besar-besaran dan invasi darat ke Lebanon selatan. Israel juga telah melakukan serangan dan bombardir berulang kali di Suriah sejak penggulingan Presiden Bashar al-Assad, dengan mengatakan bahwa mereka berupaya membangun zona demiliterisasi di selatan negara itu.
Bagaimana dengan Gaza? Ternyata, pasukan Israel menduduki lebih dari 60 persen wilayah yang porak-poranda akibat perang tersebut. Pekan lalu, Netanyahu menolak rencana damai Gaza yang dimediasi AS dan telah didukung oleh kelompok Hamas. Netanyahu mengatakan bahwa militer Israel tidak akan melakukan penarikan pasukan sampai Hamas benar-benar dilucuti senjatanya.
Betapa malang nasibmu, Gaza. Engkau kini sendiri. Mayoritas negara di dunia, khususnya di dunia Islam, terjebak dalam banyak kesepakatan yang "mengebiri" mereka. Mereka dikerangkeng oleh kepentingan politik culas para polisi dunia. Para penguasa di negara-negara itu begitu mudah diperdaya oleh musang berbulu domba. Wajar karena loyalitas mereka bukan untuk Islam, kaum Muslimin, bahkan kemanusiaan sekalipun.
Kini, negara-negara itu membisu. Tak berkutik dalam menghadapi keputusan yang dibuat sendiri. Menyesal pun tak berguna lagi. Kekuatan negara-negara itu tidak sekuat ketika mereka dahulu bergabung dalam negara yang bernama Khilafah Islam.
Padahal, dahulu Kekhilafahan Islamlah yang menjaga negara-negara para nabi itu. Para penguasa yang berani itu tidak sedikit pun bergeming untuk memberikan, bahkan menjual, sejengkal tanah pun kepada negara-negara penjajah. Para penguasa itu sangat cerdas. Mereka bisa membaca tipu daya di balik manisnya mulut berbisa pemimpin negara penjajah. Mereka adalah para khalifah yang memiliki wawasan luas sebagai seorang Muslim negarawan, seorang pemimpin yang menetapkan keputusan hanya untuk Islam dan kaum Muslimin.
Kini, saat kekhilafahan itu tiada, Palestina, Lebanon, Suriah, Uyghur, dan banyak negara pecahan lainnya dikuasai penjajah curang itu. Tak ada lagi militer milik kaum Muslimin yang menjaga perbatasan atau tanah ribath itu. Kini, militer negara-negara Muslim dan dunia menjadi penjaga perbatasan dan penjaga kepentingan negara komprador itu bersama ayah kandungnya. Kesepakatan BoP yang dibangga-banggakan pun tak punya nyali hanya untuk sekadar menunjukkan kebenciannya. Mereka dikebiri racun bernama Sepilis (sekuler, kapitalis, liberalis).
Mereka adalah para penguasa yang sadar dan tidak sadar jika sedang didikte dan dikendalikan dengan pola yang terstruktur, sistematis, dan masif. Mereka yang sadar tidak punya kuasa. Mereka yang tidak sadar justru terkena balasan kenikmatan dunia yang menggiurkan.
Demikianlah, hanya khilafah Islam yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menghentikan penjajahan fisik dan nonfisik ini. Semoga dakwah dan perjuangan ideologis yang kita lakukan hari ini menjadi satu bata demi satu bata untuk menguasai kembali kekuatan yang dahulu pernah dimiliki kaum Muslimin.
Intinya, pasukan Israel tak akan sekuat itu jika kaum Muslimin di sana sadar bahwa penjajahan harus segera dihapuskan dari seluruh dunia. Kapan Gaza akan bebas? Saat khilafah itu berdiri kembali. Semoga Allah menyegerakan tujuan perjuangan para pengemban dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam di seluruh penjuru dunia, termasuk Gaza.
Amin.
Wallahu a'lam bissawab. [Hz/IWP]
Baca juga:
0 Comments: