Oleh: Radiyah Ummu Ar-Rafa
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Pagi ini, Senin, 27 Juli 2026. Alhamdulillah, ya Allah, napas masih berembus, jantung masih berdetak, dan mata masih dapat menyaksikan indahnya dunia.
Matahari masih bersinar terang, menjalankan fitrahnya sebagai makhluk yang taat kepada perintah Allah Swt. Pancaran sinarnya memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup seluruh manusia. Teringat firman Allah Swt. dalam QS. Asy-Syams ayat 1,
وَالشَّمْسِ وَضُحٰىهَا
Artinya:
"Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari."
Alhamdulillah, kita masih dapat menikmati hangatnya sinar matahari. Sulit dibayangkan apabila matahari tidak lagi bersinar. Dunia akan gelap gulita dan manusia akan mengalami kesulitan menjalankan berbagai aktivitas.
Sepanjang safar selama dua pekan, banyak hal baru yang saya rasakan. Hamparan pepohonan hijau, indahnya lautan dengan riak ombak saat menyeberang antara Pulau Sumatra melalui Pelabuhan Bakauheni dan Pulau Jawa melalui Pelabuhan Merak, hutan yang membentang di sepanjang perjalanan, bunga-bunga yang bermekaran, hamparan sawah yang luas, birunya langit, hingga putihnya awan, semuanya membuat hati tertegun. Masyaallah, sungguh Allah Maha Besar.
Udara segar pun masih dapat dinikmati tanpa harus membayar sedikit pun. Bayangkan jika setiap hembusan napas harus dibayar sebagaimana seseorang yang membutuhkan tabung oksigen di rumah sakit. Betapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Sungguh, manusia tidak akan mampu membayar seluruh nikmat yang telah Allah Swt. berikan. Lalu, sudahkah kita benar-benar mensyukurinya?
Berulang kali Allah Swt. mengingatkan manusia agar senantiasa bersyukur atas limpahan nikmat-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ar-Rahman ayat 13,
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Artinya:
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Sujud syukur kepada-Mu, ya Rabb, atas segala nikmat yang Engkau limpahkan kepada hamba. Nikmat-Mu tidak terhitung dengan angka maupun logika. Hamba hanya memohon sedikit, tetapi Engkau memberikan jauh lebih banyak. Apa yang menurut manusia mustahil, bagi-Mu tidak ada yang mustahil. Dengan kehendak-Mu, kun fayakun, segala sesuatu dapat terjadi.
Ada beberapa pertanyaan penting yang patut kita renungkan sebagai bahan muhasabah.
1. Dari Mana Manusia Diciptakan?
Sesungguhnya alam semesta, manusia, dan kehidupan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti ada Zat Yang Maha Menciptakan. Alam semesta, manusia, dan kehidupan adalah makhluk, sedangkan Allah Swt. adalah Al-Khaliq, Sang Pencipta.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Insan ayat 2,
اِنَّا خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
Artinya:
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya. Karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat."
Allah tidak hanya menciptakan manusia, tetapi juga menetapkan aturan kehidupan agar manusia tidak salah arah dan tidak tersesat. Allah adalah Al-Khaliq (Sang Pencipta) sekaligus Al-Mudabbir (Sang Pengatur).
2. Untuk Apa Manusia Diciptakan?
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, untuk apa sebenarnya kita diciptakan? Bertahun-tahun menjalani kehidupan, menikmati berbagai kenikmatan dan menghadapi beragam ujian, sering kali membuat manusia terlena. Padahal Allah Swt. telah menjelaskan tujuan penciptaan manusia dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya:
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Sering kali kita takut kehilangan dunia, padahal yang jauh lebih berbahaya adalah kehilangan akhirat. Dunia yang hilang masih dapat diganti, sedangkan kesempatan meraih akhirat tidak akan pernah terulang. Oleh karena itu, hidup bukan untuk mengejar kesenangan dunia semata, bukan untuk berfoya-foya, dan bukan pula untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Hidup adalah untuk beribadah kepada-Nya.
Segala aktivitas dapat bernilai ibadah apabila diniatkan dengan ikhlas karena Allah Swt. dan dilakukan sesuai tuntunan syariat yang dicontohkan Rasulullah saw. sebagai uswatun hasanah.
3. Ke Mana Manusia Setelah Diciptakan?
Tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua makhluk akan berakhir pada waktunya. Yang Maha Kekal hanyalah Allah Swt. Setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh amal perbuatannya. Tidak ada satu pun ucapan maupun perbuatan yang luput dari pengawasan Allah Swt. karena Dia Maha Melihat lagi Maha Mengetahui.
Allah Swt. telah memberikan pilihan kepada manusia untuk menempuh jalan kebaikan atau keburukan, jalan takwa ataupun jalan kefasikan. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Asy-Syams ayat 8,
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَا
Artinya:
"Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya."
Namun, setiap pilihan itu akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 93,
وَلَتُسْـَٔلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Artinya:
"…Tetapi, kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan."
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang dipilih Allah Swt., menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur dalam keadaan apa pun dan di mana pun berada. Semoga kita tidak menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar, melainkan menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup. Semoga rasa syukur kepada Allah Swt. mengantarkan kita menjadi hamba yang istikamah dalam keimanan dan ketakwaan.
Aamiin Allahumma aamiin.
Pekanbaru, 27 Juli 2026
[Hz/AA]
Baca juga:
0 Comments: