Headlines
Loading...

Oleh: Imas Sunengsih, S.E., M.E.
Aktivis Muslimah Intelektual

SSCQMedia.com—Harga beras yang kian tinggi membuat masyarakat mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pokok. Pasalnya, beras merupakan makanan pokok sehari-hari bagi rakyat Indonesia. Tingginya harga beras diduga dipicu oleh adanya mafia beras yang bermain demi mendapatkan keuntungan besar.

Pemerintah pun sudah mencium adanya mafia beras yang menyebabkan tingginya harga beras di pasaran. Sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Amran yang mengancam akan “menggebuk” mafia beras. Dugaan kerugian masyarakat akibat praktik tersebut mencapai Rp71 triliun (Kompas.com, 3/8/2026).

Adanya mafia beras jelas merugikan masyarakat. Harga beras yang tinggi menyebabkan beban hidup semakin berat. Ditambah dengan harga kebutuhan pokok lainnya yang ikut naik, rakyat semakin menjerit menghadapi kondisi saat ini. Sementara itu, pendapatan tidak sebanding dengan pengeluaran.

Potret Sistem Kapitalisme

Inilah potret sistem kapitalisme yang diadopsi negeri ini dan melahirkan banyak mafia, termasuk mafia beras. Para mafia tersebut sangat rakus dalam melakukan aksinya. Berbagai tipu muslihat digunakan untuk meraup keuntungan besar.

Cara pandang ekonomi kapitalisme sangat memengaruhi pola pikir, ketika orientasi utamanya hanya meraih keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempertimbangkan halal dan haram ataupun dampak terhadap pihak lain. Akibatnya, para mafia menggunakan berbagai cara licik untuk mendapatkan keuntungan besar. Mereka dapat leluasa beraksi karena didukung oleh sistem yang berlaku saat ini.

Mirisnya lagi, peran negara dinilai belum optimal dalam menjalankan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat secara layak, termasuk dalam memberantas mafia beras. Tampaknya, persoalan tersebut tidak akan dapat diberantas secara tuntas selama sistem kapitalisme masih diberlakukan.

Dalam sistem kapitalisme, menurut pandangan penulis, keadilan hukum sulit diwujudkan secara sempurna karena hukum kerap dinilai tebang pilih. Hukum di negeri ini sering dipersepsikan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Begitu pula dengan hukuman yang dinilai tidak tegas sehingga tidak memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan.

Sistem Islam sebagai Solusi

Sistem kapitalisme yang dianggap bobrok sudah seharusnya diganti dengan sistem Islam yang diyakini sebagai sistem terbaik sepanjang masa. Inilah, menurut penulis, solusi hakiki untuk negeri ini. Dengan tegaknya sistem Islam, keadilan diyakini dapat diwujudkan. Pelaku kejahatan akan mendapatkan hukuman yang memberikan efek jera, sedangkan korban akan mendapatkan perlindungan dan pengurusan dari negara.

Sistem Islam memiliki mekanisme dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan, termasuk persoalan ekonomi dan praktik kecurangan dalam perdagangan.

Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Kepemimpinan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

ÙˆَالأَÙ…ِيرُ الَّذِÙŠ عَÙ„َÙ‰ النَّاسِ رَاعٍ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ Ù…َسْئُولٌ عَÙ†ْ رَعِÙŠَّتِÙ‡ِ

“Seorang penguasa yang memimpin manusia adalah pemimpin (pengurus) bagi rakyatnya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Sistem Islam secara kafah memiliki sistem ekonomi yang mengatur mekanisme pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Salah satu hal yang sangat penting adalah memastikan pendistribusian kebutuhan pokok berjalan lancar hingga sampai kepada rakyat.

Kebutuhan pokok harus dapat dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat, baik yang kaya maupun yang miskin. Dalam sistem ekonomi Islam, pemenuhan kebutuhan pokok rakyat dilihat dari kondisi individu per individu, bukan sekadar secara kolektif.

Kesejahteraan rakyat juga menjadi perhatian negara melalui pengurusan dan pelayanan terhadap rakyat. Negara tidak sekadar berfungsi sebagai regulator, tetapi memiliki tanggung jawab dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

Keteladanan Khulafaur Rasyidin

Amanah dalam kepemimpinan dapat ditemukan dalam sejarah pemerintahan Islam. Salah satu contoh pemimpin yang sering dijadikan teladan adalah Umar bin Khattab ra. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa beliau sangat memperhatikan kondisi rakyatnya dan bahkan turun langsung membantu rakyat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa seorang pemimpin seharusnya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kondisi rakyat dan tidak menjadikan jabatan sebagai sarana memperoleh keuntungan pribadi.

Untuk itu, kaum Muslim perlu melakukan perubahan menuju sistem Islam kafah yang diyakini dapat memberikan solusi sekaligus keberkahan. Perubahan tersebut tentu tidak mudah, tetapi dapat dilakukan melalui perjuangan yang sungguh-sungguh dan terencana.

Perjuangan untuk menegakkan dan menerapkan sistem Islam kafah melalui institusi khilafah ala minhaj an-nubuwwah, dalam perspektif penulis, harus meneladani perjuangan Rasulullah saw. sebagai teladan bagi kaum Muslim.

Perjuangan tersebut membutuhkan kerja sama berbagai komponen umat agar kemenangan segera terwujud atas izin Allah Swt. Kaum Muslim perlu meyakini janji Allah dan terus berusaha mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Kembali kepada Cahaya Islam

Kejayaan Islam diyakini akan kembali menjadi mercusuar dunia yang membawa keadilan dan kemuliaan. Praktik-praktik ekonomi yang merugikan masyarakat tidak akan dibiarkan. Negara akan menjalankan fungsi pengawasan dan penegakan hukum secara tegas terhadap berbagai bentuk kecurangan dan kezaliman.

Dengan penerapan aturan yang jelas dan adil, diharapkan praktik mafia yang merugikan masyarakat dapat diberantas. Cahaya Islam diharapkan kembali menyinari kehidupan dengan keagungan dan kemuliaan.

Wallahu a'lam bish-shawab. [Hz/PR]

Baca juga:

0 Comments: