Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)
SSCQMedia.Com—Di era sekarang, informasi datang layaknya banjir bandang yang tidak ada habisnya. Kita sebenarnya tidak pernah kekurangan bahan bacaan. Masalah utamanya justru terletak pada daya saring kita: sanggupkah kita mencerna informasi dengan jernih, berpikir kritis, memisahkan fakta dari rumor, lalu mengubah tumpukan data itu menjadi kebijaksanaan?
Setiap hari, layar ponsel kita dijejali ribuan berita, potongan video, komentar, hingga unggahan media sosial. Namun, perlu diingat, dibanjiri informasi tidak serta-merta membuat seseorang menjadi cerdas.
Di sinilah makna literasi yang sejati diuji. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, pandai merangkai kata, atau mampu mengeja kalimat. Lebih jauh dari itu, literasi adalah keberanian dan kemampuan untuk memahami maksud, menimbang kebenaran, membandingkan teori dengan realitas di lapangan, serta menentukan sikap secara bertanggung jawab.
Harus diakui, kondisi literasi di Indonesia masih jauh dari ideal. Data Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kemendikdasmen per 11 Juni 2026 mencatat penurunan kompetensi dasar literasi murid SD/MI, dari 59,04% pada 2024 menjadi 55,7% pada 2025. Bahkan, sekitar 18,8% anak kelas IV SD masih mengalami kesulitan pada tingkat kemampuan paling dasar. Kemampuan memahami makna mendalam atau menafsirkan isi bacaan pun masih menjadi tantangan besar.
Namun, fakta ini jangan hanya dipandang sebagai deretan angka di atas kertas laporan. Di balik statistik itu, ada anak-anak yang masa depannya sedang dipertaruhkan, orang tua yang menaruh harapan, serta guru yang terus berjuang di ruang kelas.
Anak yang lemah dalam membaca bukan sekadar mengalami kesulitan menjawab soal ujian. Dampak jangka panjangnya jauh lebih mengkhawatirkan. Ia dapat mengalami kesulitan dalam mencerna informasi publik, mudah terpengaruh manipulasi, sulit menilai pendapat orang lain, hingga keliru mengambil keputusan penting dalam hidupnya.
Iqra’: Perintah Pertama yang Sering Dilupakan
Menariknya, Islam justru menempatkan tradisi membaca pada fondasi yang sangat utama. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw. diawali dengan perintah, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS Al-‘Alaq [96]: 1).
Perintah iqra’ ini jelas bukan sekadar ajakan merangkai huruf demi huruf. Ini merupakan panggilan untuk membaca tanda-tanda kekuasaan Allah Swt., membaca dinamika zaman, membaca alam, hingga menelaah realitas kehidupan dengan landasan keimanan.
Sebab itu, tradisi keilmuan Islam tidak pernah mengagungkan pengumpulan teori semata. Memahami sesuatu baru merupakan langkah awal. Poin pentingnya terletak pada kesadaran dan keberanian untuk mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah Swt., “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS Az-Zumar [39]: 9).
Ayat ini menegaskan tingginya derajat ilmu. Namun, ilmu yang lurus seharusnya menumbuhkan kerendahan hati, bukan memicu kesombongan. Semakin luas wawasan seseorang, semakin ia menyadari betapa dangkalnya pengetahuan yang dimilikinya di hadapan ilmu Allah Swt.
Tantangan hari ini semakin pelik ketika kita dan anak-anak hidup di tengah ekosistem digital. Informasi bohong atau hoaks dapat menyebar hanya dalam hitungan detik. Catatan UNESCO pada 12 April 2025 pun menggarisbawahi pentingnya kecakapan literasi digital agar masyarakat tidak mudah menelan mentah-mentah informasi yang belum terverifikasi dan dapat berinteraksi di dunia maya secara bijak.
Artinya, literasi tidak cukup lagi diartikan sebagai “hobi membaca”. Seseorang bisa saja membaca puluhan buku atau belasan artikel setiap hari, tetapi tetap mudah tertipu jika tidak memiliki daya kritis.
Di sinilah prinsip Islam menemukan relevansinya melalui konsep tabayun. Allah Swt. mengingatkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...” (QS Al-Hujurat [49]: 6).
Dalam konteks jempol dan layar sentuh hari ini, tabayun berarti menahan diri: tidak asal percaya, tidak asal membagikan, dan tidak mudah menghakimi berita yang masih simpang siur.
Rasulullah saw. juga telah memberikan peringatan, “Cukuplah seseorang dikatakan pendusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR Muslim).
Pesan ini sangat kuat. Hanya dengan satu sentuhan, informasi dapat tersebar luas dalam hitungan detik. Namun, dampak hoaks atau kebohongan yang tersebar dapat merusak kehidupan orang banyak dalam waktu yang sangat lama.
Pemerintah sendiri terus menggenjot upaya perbaikan. Pada 9 April 2026, Kemendikdasmen menggandeng berbagai mitra untuk memperkuat gerakan literasi dan numerasi nasional. Langkah ini melanjutkan penegasan mereka sebelumnya pada 20 Maret 2025 yang mendorong pembenahan karakter, literasi, dan numerasi demi menyiapkan Generasi Emas 2045.
Namun, kita tidak dapat mengandalkan sekolah sendirian. Urusan literasi merupakan tanggung jawab bersama. Rumah, masjid, pesantren, komunitas, hingga media harus ikut ambil bagian.
Di rumah, orang tua dapat mulai membiasakan tradisi membaca dan berdiskusi bersama anak. Di ruang kelas, guru perlu mendorong siswa agar berani berpikir kritis, bukan sekadar menghafal. Masjid dan komunitas warga juga perlu dihidupkan kembali sebagai wadah diskusi yang relevan. Pada saat yang sama, masyarakat harus semakin terbiasa melakukan cek fakta sebelum menyebarkan suatu klaim.
Umat yang hebat bukanlah yang paling riuh bersuara, melainkan yang jeli membedakan fakta dan opini, ilmu dan prasangka, serta nasihat tulus dan provokasi.
Muara dari literasi, pada akhirnya, adalah pencerahan. Literasi tidak boleh berhenti pada tataran tahu, tetapi harus naik kelas menjadi pemahaman. Paham saja tidak cukup. Harus ada kesadaran. Kesadaran tidak boleh berhenti di kepala. Ia wajib menjelma menjadi aksi konkret dan karya yang benar-benar membawa manfaat, bukan sekadar imajinasi.
Lagipula, tidak mungkin memisahkan iman dan ilmu jika ingin meraih posisi mulia di sisi Allah Swt. Hal ini menegaskan janji-Nya dalam QS Al-Mujadilah ayat 11 bahwa derajat orang-orang beriman dan berilmu akan ditinggikan beberapa derajat.
Memupuk budaya literasi hakikatnya adalah kerja peradaban. Umat yang rajin membaca akan lebih siap menghadapi gelombang zaman. Umat yang terbiasa berpikir kritis tidak akan mudah digulung hoaks.
Jika ilmu diniatkan untuk mendekat kepada Sang Pencipta, pengetahuan tidak akan berubah menjadi alat yang mendikte atau menindas. Justru dari situlah ilmu bekerja sebagai sarana untuk menjaga dan meluaskan kebaikan.
Pada dasarnya, literasi bukan hanya urusan mahir membaca situasi sekitar. Literasi adalah proses perenungan, ajang untuk memahami diri sendiri, mengingat asal-usul, merenungi arah hidup, hingga menyadari ke mana kelak kita kembali.
Jadi, luangkan sedikit waktu setiap hari untuk membaca. Biasakan berpikir kritis, pegang teguh prinsip tabayun, dan jadikan ilmu sebagai kompas untuk membenahi diri. Masyarakat yang benar-benar cerdas bukanlah mereka yang kenyang menyantap tumpukan berita setiap hari, melainkan mereka yang mau meresapi ilmu dan mewujudkannya dalam aksi konkret. [MA/EKD]
Baca juga:
0 Comments: