Oleh: Yuli Ummu Raihan
Muslimah Peduli Generasi
SSCQMedia.Com—Bulan Agustus bagi rakyat Indonesia merupakan bulan peringatan kemerdekaan. Setiap tahun, berbagai acara perayaan atau seremonial dilakukan untuk memperingati kemerdekaan. Meski sudah 81 tahun negeri ini merdeka, kemerdekaan itu masih menjadi tanda tanya karena faktanya kita masih terjajah secara pemikiran, budaya, ekonomi, dan aspek lainnya.
Namun, kondisi kita masih jauh lebih baik dibandingkan dengan saudara kita di bumi Palestina yang masih menapaki jalan panjang menuju kemerdekaan. Mereka bukan lagi hanya berjuang dengan peluh dan air mata, tetapi juga telah mengorbankan jiwa dan raga dalam jumlah yang tidak sedikit.
Palestina, khususnya Gaza, masih menghadapi krisis kemanusiaan yang sangat serius dan jalan menuju kemerdekaan yang sangat terjal. Kondisi negerinya telah porak-poranda akibat agresi yang dilakukan zionis Israel laknatullah.
Israel dengan berbagai upaya berusaha menguasai dan menghancurkan Palestina. Berita terbaru adalah pembangunan tembok tanah raksasa yang membelah Jalur Gaza. Proyek tersebut terungkap melalui citra satelit yang memperlihatkan bahwa pembangunannya telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Menurut laporan Associated Press, panjang tembok tersebut sekitar 23 kilometer dan melintasi sejumlah kawasan permukiman Palestina yang telah luluh lantak (Kompas.com, 22/7/2026).
Sejak 7 Oktober 2023, Palestina, khususnya Gaza, telah mengalami berbagai serangan, kehancuran besar, pengungsian massal, krisis pangan dan kesehatan, gencatan senjata yang berulang, serta upaya pembangunan kembali.
Dilansir dari kantor berita AFP pada 31 Juli 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza sebagai langkah monumental menuju perdamaian dan keamanan yang langgeng. Setelah itu, tentara zionis Israel diminta mundur dari Gaza dan pasukan stabilitas internasional akan bekerja sama dengan polisi Palestina yang baru untuk mengambil alih tanggung jawab atas Gaza.
Kita perlu waspada karena bisa jadi pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata di Gaza sejatinya merupakan siasat jahat Amerika Serikat dan Israel melalui Board of Peace (BoP) untuk melemahkan perjuangan rakyat Palestina.
Pelucutan senjata bukan solusi bagi perdamaian, keamanan, dan kemerdekaan Gaza. Perampasan tanah dan genosida di Gaza akan terus terjadi karena faktanya pembangunan New Gaza masih terus berjalan. Bahkan, mereka mengatasnamakan hal tersebut sebagai upaya “demi penyelamatan penduduk Gaza”. Kalau memang demi mereka, mengapa tidak dilakukan sejak dahulu?
Otoritas kesehatan Palestina melaporkan pada awal Agustus bahwa pesawat tempur Israel masih terus menggempur sejumlah wilayah, di antaranya Kita Gaza di bagian utara, Deir al-Balah di wilayah tengah, serta Khan Younis di selatan.
Negara-negara di sekitar Palestina, seperti biasa, hanya bisa mengecam tanpa ada tindakan nyata untuk menyelamatkan Gaza. Kecaman tersebut bahkan tidak pernah dihiraukan oleh Israel karena dianggap tidak berarti apa-apa.
Militer Gaza juga diketahui melakukan tindakan kekerasan seksual dan pemerkosaan terhadap tahanan Palestina. Al Jazeera pada Juni lalu merilis laporan investigatif dan film dokumenter terbaru berjudul Bodies of Evidence: Israel's Darkest Weapon. Isinya berupa kesaksian mengenai adanya praktik kekerasan seksual, pemerkosaan, hingga penyiksaan sistematis di pusat-pusat penahanan Israel. Korbannya tidak hanya perempuan, tetapi juga laki-laki.
Sedemikian parah kondisi Palestina. Lantas, apa artinya kehadiran Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya di dalam BoP? Bukankah tujuan awalnya untuk membangun kembali Gaza?
Bukankah dalam teks Proklamasi kita tertulis bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan?
Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Mereka bahkan diibaratkan seperti satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh merasakan sakit, bagian tubuh yang lain ikut merasakan, meskipun hanya sekadar demam atau rasa tidak nyaman.
Namun, hari ini saudara kita di Palestina tidak hanya sakit. Mereka disiksa, dibantai, dibom, dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Ironisnya, kita tidak bisa berbuat banyak kecuali mengecam, menggalang dana, dan bersuara.
Islam adalah agama yang sempurna dan merupakan solusi bagi berbagai permasalahan kehidupan manusia, termasuk penjajahan. Allah berfirman dalam QS Al-Ahzab ayat 36:
“Tidaklah patut bagi laki-laki dan perempuan Mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.”
Maka, terkait genosida di Gaza, solusi yang syar'i adalah jihad memerangi zionis Israel dan mengusir mereka dari tanah Palestina. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 194:
“Siapa saja yang menyerang kalian, maka seranglah ia secara seimbang dengan serangannya terhadap kalian.”
Dalam ayat lain, Allah berfirman untuk memerangi mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan mengusir mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian. Dalam kitab Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah Jilid 2 karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, dinyatakan bahwa jihad ketika kaum Muslim diserang oleh musuh adalah fardu ain. Dalam konteks Palestina, fardu ain ini bukan khusus bagi Muslim di Palestina, tetapi juga bagi Muslim di sekitar wilayah Palestina ketika agresi musuh tidak dapat dihadang oleh mereka sendiri.
Maka, sungguh kita semua berdosa jika hanya diam melihat semua ini, terutama para penguasa Muslim yang memiliki kekuasaan untuk menggerakkan pasukan guna berjihad menolong Palestina.
Penguasa Muslim juga berdosa karena membuka hubungan diplomasi dengan zionis Israel dengan alasan apa pun, salah satunya bergabung dalam BoP. Palestina tidak membutuhkan berbagai perundingan, lembaga, atau apa pun namanya. Mereka hanya membutuhkan pasukan yang siap berjihad mengusir Israel dari tanah mereka. Jangan biarkan mereka menyusuri jalan panjang menuju kemerdekaan sendirian. Mari lakukan apa saja yang bisa kita lakukan sebagai hujah bagi kita kelak di akhirat di hadapan Allah Swt.
Palestina bukan hanya milik warga Palestina, melainkan tanah suci kaum Muslim dan bagian yang tidak terpisahkan dari akidah Islam. Ini bukan lagi hanya urusan rakyat Palestina, melainkan urusan seluruh umat Islam. Kemerdekaan dan kemuliaan umat tidak akan diraih dengan tunduk kepada program musuh, melainkan dengan kembali berhukum pada hukum Allah dan membangun persatuan umat Islam di bawah panji Islam.
Kita harus meneladani Rasulullah saw. yang tidak pernah menjadikan kelemahan sebagai alasan untuk menerima kebatilan dan mengakui dominasi orang kafir. Segala bentuk kompromi dengan penjajah hanya akan melahirkan kehinaan, perpecahan, dan semakin memperkokoh dominasi mereka.
Wallahu a'lam bish-shawab. [My/UF]
Baca juga:
0 Comments: