Gen Z Terhimpit Tekanan Ekonomi, Healing Jadi Solusi?
Oleh: Anggun Surya Diantriana
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com—Bak menjadi pusat perhatian dunia, perilaku Gen Z kembali menjadi perbincangan. Setelah sebelumnya mendapat julukan Strawberry Generation karena dianggap rapuh dan mudah menyerah, kini perilaku self-reward ramai diperbincangkan karena dianggap sebagai bentuk pola pikir dan cara baru untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Seolah meninggalkan pola pikir lama, generasi muda Indonesia menganggap kesuksesan finansial kini tidak lagi semata-mata diukur dari kepemilikan rumah, pekerjaan tetap, atau tabungan besar, melainkan dari kualitas hidup, fleksibilitas, dan kestabilan emosional (Suara.com, 21/5/2026).
Bagaikan pungguk merindukan bulan, biaya hidup dan kebutuhan dasar semakin tak terkejar oleh gaji yang stagnan yang diterima sebagian generasi muda Indonesia. Anehnya, istilah self-reward, little treat, hingga healing tipis-tipis justru menjadi topik pembahasan yang ramai diperbincangkan. Seolah-olah hal tersebut menjadi gaya hidup dan tolok ukur kebahagiaan baru bagi generasi muda.
Maka, tidak sedikit muda-mudi yang tanpa sadar tergerus arus pola hidup hedonis yang dibungkus manis dengan semboyan “demi kesehatan mental dan emosional”.
Gen Z memang akan terus menjadi pembahasan karena mereka adalah generasi muda yang sejatinya menyimpan potensi besar. Maka, tidak heran jika Gen Z kembali menjadi sorotan karena kaum kapitalis perlu menghitung dengan baik target pemasaran mereka.
Namun, jauh sebelum istilah Gen Z lahir, Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah menasihati seseorang:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
Artinya:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.”
Demikianlah Rasulullah saw. menggambarkan bahwa masa muda merupakan salah satu masa gemilang yang seharusnya diisi dengan banyak amal saleh. Jika kita mengira amal saleh hanya terpaut pada ibadah mahdhah, sungguh sangat disayangkan. Ibadah tidak hanya terbatas pada lima rukun Islam, melainkan meliputi seluruh aktivitas kita sehari-hari.
Saat kita memilih suatu perkara yang lebih diutamakan, misalnya amalan sunah, kita telah berupaya meraih derajat ibadah yang lebih tinggi daripada sekadar mengerjakan perkara yang diperbolehkan (mubah). Semangat memperjuangkan amal saleh tentu tidak akan datang dalam semalam. Dibutuhkan proses panjang ketika jiwa ditempa berkali-kali untuk benar-benar legawa dan rida terhadap ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Namun, persoalan rida terhadap ketentuan Allah kerap kali berujung pada sesat logika yang memaksa umat muslim untuk patuh kepada penguasa zalim. Masyarakat muslim seolah semakin sulit mengenali perkara-perkara duniawi yang sejatinya melanggar batas-batas ketentuan syariat Allah Swt.
Mereka disibukkan oleh perkara duniawi, tetapi lupa mengaitkannya dengan syarat dan ketentuan yang telah Allah tetapkan dalam kehidupan mereka. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Az-Zariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Lebih jauh, dalam Tafsir As-Sa’di dijelaskan bahwa menyembah Allah mencakup berilmu tentang Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, menghadap kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya.
Namun, berapa banyak muslim di sekitar kita yang mau merelakan waktunya untuk mengenal Tuhan mereka? Berapa banyak dari kita yang mau mencintai dan berpaling dari suatu perkara semata-mata karena kecintaan kepada Tuhan, daripada tergiur oleh keuntungan, khasiat, dan manfaat yang diberitakan seseorang kepadanya?
Tidak sedikit umat Islam yang belum mengenal syariat Islam secara utuh. Hal ini karena umat Islam menghadapi berbagai tantangan dalam menerapkan nilai dan aturan Islam dalam sistem yang berjalan saat ini. Akibatnya, nilai dan aturan tersebut perlahan hilang, menjadi asing, bahkan tidak lagi dikenal oleh sebagian penganut agama Islam itu sendiri.
Di saat seperti inilah momentum bagi umat muslim untuk mengingat kembali bagaimana metode Rasulullah saw. mengenalkan Islam dan memberlakukannya dalam tatanan negara. Bukankah Rasulullah saw. telah mampu dan berhasil menghadapi cobaan terberat pada zamannya? Maka, menjadi tugas kita sebagai umat Islam untuk mengenal dan mengulang kembali keberhasilan kepemimpinan umat yang telah dicontohkan Rasulullah saw.
Keberhasilan kepemimpinan tersebut bukan hanya terkhusus pada Rasulullah saw. Faktanya, para khalifah yang memimpin umat setelah beliau juga menorehkan tinta emas dalam sejarah Islam. Hingga terwujud bisyarah Rasulullah saw. tentang pembebasan kota-kota besar dunia.
Alangkah baiknya jika kita ikut berperan dalam menorehkan tinta emas yang sudah lama terkubur. Dengan demikian, kita tidak merasa malu untuk menjadi bagian dari umat Rasulullah saw.
Di antara nilai khas dalam konsep negara yang Rasulullah saw. ajarkan adalah bentuk-bentuk kepemilikan umum yang tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang. Dengan demikian, pengelolaan sumber daya alam akan mampu menopang kebutuhan dasar seluruh rakyatnya.
Lapangan kerja yang layak pun bukan hanya ditujukan kepada segelintir orang yang segolongan dengan para penguasa. Setiap laki-laki yang hidup dalam naungan negara Khilafah, terlepas dari apakah dia seorang muslim atau bukan, akan dipastikan mendapatkan hak untuk mencari nafkah secara layak dan berkeadilan. Dengan demikian, tidak ada lagi Gen Z yang gelisah karena merasa berjuang sendirian.
Serangkaian nilai yang diwujudkan dalam pemberlakuan aturan tersebut akan membentuk perasaan yang sama di antara masyarakat. Masyarakat pun memahami makna perlindungan negara yang juga dapat diwujudkan melalui penutupan pintu-pintu gaya hidup hedonis dan merusak, seperti sekularisme, kapitalisme, dan turunannya.
Nilai-nilai luhur dalam metode politik negara Khilafah bukan sekadar nilai utopis. Amanah tersebut dapat diterima oleh akal dan perasaan setiap insan yang hidup dalam naungan negara Khilafah.
Wallahualam bissawab. [My/PR]
Baca juga:
0 Comments: