Gen Z: Terhimpit Ekonomi, Terjebak Konsumsi
Oleh: Ummu Anjaly, S.K.M.
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com—Generasi Z (Gen Z) hidup di tengah paradoks. Di satu sisi, mereka dituntut mandiri secara ekonomi, memiliki pekerjaan, menabung, dan mempersiapkan masa depan. Di sisi lain, biaya hidup terus menjadi tantangan, sementara tekanan untuk menikmati hidup juga semakin kuat.
Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan bahwa 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 30% (Deloitte, 2025, sebagaimana diberitakan Kompas.com, 19/2/2026).
Menariknya, di tengah kondisi finansial yang tidak sepenuhnya aman, sebagian Gen Z tetap mengalokasikan penghasilan untuk self-reward, healing, hiburan, dan berbagai kebutuhan gaya hidup. Bagi sebagian anak muda, pengeluaran tersebut dipandang sebagai bentuk penghargaan terhadap diri setelah bekerja keras. Bahkan, self-reward tidak lagi sekadar dianggap sebagai kemewahan, tetapi dikaitkan dengan kebutuhan emosional dan upaya menjaga keseimbangan hidup (Kompas.com, 12 Agustus 2026).
Ketika Ekonomi Menghimpit
Kondisi ini tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan kemampuan Gen Z dalam mengatur keuangan. Ada persoalan sistemik yang lebih besar. Dalam sistem kapitalisme, pemenuhan kebutuhan hidup banyak diserahkan kepada mekanisme pasar. Individu dituntut mampu memenuhi kebutuhan hidup melalui pendapatan masing-masing, sementara kenaikan biaya hidup dapat berlangsung lebih cepat daripada peningkatan daya beli.
Akibatnya, generasi muda menghadapi berbagai tekanan sekaligus: memperoleh pekerjaan, mendapatkan penghasilan yang layak, memenuhi kebutuhan sehari-hari, membantu keluarga, serta menyiapkan masa depan. Tidak mengherankan apabila persoalan finansial kemudian berkelindan dengan persoalan kesejahteraan dan ketenangan hidup.
Di tengah kondisi tersebut, budaya konsumtif justru menemukan ruang yang sangat luas. Media sosial menghadirkan berbagai tren yang terus berganti. Seseorang dapat dengan mudah membandingkan kehidupannya dengan orang lain, mengikuti tren, membeli barang yang sedang populer, atau mencari pengalaman yang dianggap mampu menghilangkan penat. Dorongan untuk tidak ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO) semakin memperkuat perilaku konsumsi.
Kompas.com sebelumnya juga menyoroti fenomena doom spending, yaitu perilaku berbelanja untuk memperoleh ketenangan sesaat ketika seseorang merasa pesimis terhadap kondisi ekonomi dan masa depan. Jika dilakukan tanpa kendali, pengeluaran untuk kesenangan jangka pendek dapat mengganggu tabungan dan meningkatkan risiko persoalan finansial (Kompas.com, 15 November 2024).
Dengan demikian, self-reward memang tidak selalu salah. Memberikan penghargaan kepada diri sendiri setelah menyelesaikan pekerjaan dapat dilakukan secara wajar. Persoalannya muncul ketika konsumsi dijadikan pelarian utama dari tekanan hidup. Saat belanja menjadi cara untuk meredakan kecemasan, kebahagiaan akhirnya semakin bergantung pada kemampuan membeli.
Krisis Bukan Sekadar Finansial
Di sinilah persoalan Gen Z perlu dilihat lebih dalam. Masalahnya bukan hanya kekurangan uang, melainkan juga krisis makna. Ketika manusia tidak memiliki pemahaman yang benar tentang tujuan hidup, ukuran kebahagiaan mudah bergeser menjadi kepemilikan materi, pengalaman menyenangkan, popularitas, dan pengakuan sosial.
Padahal, Islam memberikan paradigma yang berbeda. Allah Swt. berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama kehidupan manusia bukan mengejar kenikmatan dunia semata, melainkan beribadah kepada Allah Swt. Aktivitas bekerja, belajar, memperoleh penghasilan, berkeluarga, bahkan menikmati hal-hal yang mubah dapat bernilai ibadah apabila dilakukan sesuai dengan syariat dan ditujukan untuk meraih rida Allah.
Dengan paradigma tersebut, seorang Muslim tidak menjadikan healing sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh ketenangan. Ketenangan juga dibangun melalui keimanan, ibadah, hubungan yang baik dengan keluarga dan masyarakat, serta aktivitas yang bermanfaat. Materi tidak ditempatkan sebagai sumber kebahagiaan tertinggi.
Karena itu, penyelesaian persoalan Gen Z tidak cukup dengan sekadar mengajarkan cara membuat anggaran atau menekan pengeluaran konsumtif. Mereka membutuhkan sistem yang mampu menjamin kebutuhan dasar sekaligus membentuk kepribadian yang memiliki tujuan hidup yang benar.
Islam Menjamin dan Membentuk Generasi
Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab besar dalam memenuhi kebutuhan rakyat. Negara tidak boleh sekadar menjadi regulator yang menyerahkan pemenuhan kebutuhan dasar kepada individu dan mekanisme pasar. Pengelolaan sumber daya alam yang menjadi milik umum harus diarahkan untuk kemaslahatan rakyat. Negara juga berkewajiban menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Dengan sistem demikian, generasi muda tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan ekonomi. Negara hadir untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi dan kekayaan tidak hanya berputar pada kelompok tertentu.
Pada saat yang sama, Islam membangun masyarakat dengan nilai yang berbeda dari sekularisme dan materialisme. Media tidak semestinya terus-menerus mendorong konsumsi, popularitas, dan pengejaran kesenangan. Sebaliknya, media diarahkan untuk memberikan edukasi, membangun kesadaran, dan memperkuat ketakwaan.
Islam juga tidak menutup manusia dari menikmati kehidupan dunia. Namun, Islam menempatkan kenikmatan dunia secara proporsional. Harta dipandang sebagai amanah, bukan tujuan akhir. Generasi muda dididik agar memiliki visi besar: menjadi manusia bertakwa sekaligus berkontribusi membangun kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Islam.
Dengan demikian, fenomena Gen Z yang merasa tidak aman secara finansial dan mencari kebahagiaan melalui self-reward semestinya menjadi alarm bagi masyarakat. Masalah ini tidak cukup diselesaikan dengan menyalahkan anak muda sebagai generasi konsumtif. Ada sistem ekonomi dan budaya yang ikut membentuk perilaku mereka.
Islam menawarkan jalan yang berbeda: negara menjamin kebutuhan rakyat, ekonomi dikelola untuk kemaslahatan, sementara pendidikan dan media membentuk generasi yang memiliki akidah serta tujuan hidup yang benar. Dengan begitu, Gen Z tidak sekadar menjadi generasi yang sibuk bertahan hidup dan mengejar kesenangan sesaat, tetapi menjadi generasi yang memiliki visi besar untuk meraih rida Allah dan membangun peradaban Islam. [Rn/PR]
Baca juga:
0 Comments: