Headlines
Loading...
Gen Z Kehilangan Arah Tanpa Syariah

Gen Z Kehilangan Arah Tanpa Syariah

Oleh: Nur Afni
Pemerhati Sosial dan Politik
Deli Serdang

SSCQMedia.com | Opini — Pengotak-ngotakan generasi, seperti Generasi X, Y, Z, dan Alpha, berdasarkan tahun kelahiran atau adaptasi terhadap teknologi merupakan bentuk pengelompokan yang mengaburkan esensi jati diri seorang Muslim. Allah Swt. yang menciptakan manusia tidak mengelompokkan manusia berdasarkan kategori generasi, melainkan berdasarkan fase perkembangan manusia yang berkaitan dengan kematangan akal dan ketentuan syariat, seperti masa kanak-kanak dan masa balig.

Standar kebaikan seorang pemuda dalam Islam tidak ditentukan oleh generasinya, tetapi oleh ketaatan dan ketakwaannya. Lantas, mengapa manusia yang hanya merupakan makhluk ciptaan Allah Swt. justru mengotak-ngotakkan sesama manusia? Apakah kemajuan digitalisasi dan teknologi mampu membentuk kepribadian generasi muda yang gemilang tanpa aturan Sang Pencipta?

Generasi Z saat ini menghadapi berbagai persoalan, termasuk tekanan finansial. Sebanyak 48 persen Gen Z disebut merasa tidak aman secara finansial. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa hampir 67 persen pengangguran nasional didominasi Generasi Z, sementara jumlah pengangguran terbuka nasional mencapai 7,22 juta orang pada Mei 2026.

Di sisi lain, gempuran budaya hedonisme, flexing, dan konsumtivisme turut memengaruhi gaya hidup sebagian Generasi Z. Ketika tanggal gajian tiba dan notifikasi transfer masuk ke telepon genggam, sebagian pekerja muda langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, atau kebutuhan bulanan lainnya yang tidak dapat ditunda.

Setelah kewajiban tersebut selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang telah diisi sejak beberapa hari sebelumnya. Ada yang membeli lipstik dan parfum baru, memesan kopi atau matcha, memperpanjang langganan layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang ramai diperbincangkan, menonton film di bioskop, hingga berburu tiket konser (Kompas.com, 12/8/2026).

Inilah gambaran sebagian Generasi Z yang terus terhimpit tekanan ekonomi, budaya konsumtif, dan krisis tujuan hidup. Kondisi ini bukan sekadar persoalan kesehatan mental generasi, melainkan juga imbas dari persoalan sistemik yang terjadi dalam kehidupan masyarakat saat ini, yakni penerapan ideologi kapitalisme dan sekularisme.

Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan membentuk pola pikir dan perilaku yang tidak menjadikan aturan Allah Swt. sebagai standar utama. Akibatnya, sebagian Gen Z kehilangan tujuan hidup dan jati diri. Orientasi kehidupan pun bergeser pada pencapaian materi dan eksistensi di dunia maya.

Gaya hidup mewah, flexing, konsumtif, serta pemuasan hawa nafsu dipicu oleh masuknya budaya liberal melalui media sosial. Ditambah lagi dengan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, tingginya biaya hidup, dan maraknya pinjaman daring yang semakin menambah tekanan kehidupan generasi muda.

Inilah buah pahit penerapan sistem kapitalisme dan sekularisme. Generasi muda dipaksa berjuang sendiri menghadapi berbagai persoalan kehidupan, sementara kekayaan publik berupa sumber daya alam (SDA) yang sejatinya merupakan hak rakyat justru diprivatisasi oleh kelompok oligarki, baik asing maupun swasta. Inilah salah satu dampak buruk ketika aturan Allah Swt. dipisahkan dari kehidupan. Manusia akhirnya bertindak dan berpikir dengan mengikuti hawa nafsu tanpa menjadikan standar pahala dan dosa sebagai pedoman.

Islam melarang sikap israf atau berlebih-lebihan serta tabdzir atau menyia-nyiakan harta. Karena itu, keinginan manusia harus dikendalikan oleh syariat, bukan hawa nafsu.

Islam hadir bukan hanya sebagai agama spiritual yang diterapkan secara individual, tetapi juga memiliki aturan dalam berbagai aspek kehidupan. Sistem Islam mampu menghadirkan kehidupan yang rahmatan lil 'alamin, membawa ketenangan dan keselamatan bagi manusia.

Problematika umat manusia, termasuk krisis kesehatan mental Gen Z, dapat diselesaikan melalui sistem Islam. Pengaturan kebijakan yang sistematis, pengelolaan kehidupan yang baik, serta perhatian terhadap setiap individu yang berusaha untuk taat dan beriman dapat melahirkan generasi muda yang memiliki visi cemerlang.

Negara dalam Islam berkewajiban mengatur media massa dan ruang digital agar konten dan tontonan yang tidak mendidik dibersihkan serta digantikan dengan sarana edukasi yang mampu membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah). Negara dalam Islam berperan sebagai ra'in atau pengurus urusan rakyat dan junnah atau pelindung rakyat.

Generasi Z tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri menghadapi tuntutan ekonomi tanpa perlindungan dan tanggung jawab negara.

Negara wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyat, menyediakan lapangan pekerjaan, serta memberikan pendidikan yang terbaik dan berkualitas kepada setiap generasi tanpa memandang status ekonomi dan kedudukan seseorang.

Gen Z adalah agent of change atau agen perubahan. Di tangan merekalah masa depan sebuah peradaban. Karena itu, generasi muda harus kembali kepada tujuan hakiki dan jati diri mereka, sebagaimana disebutkan dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, yaitu beribadah dan menghamba hanya kepada Allah Swt.

Pendidikan dalam Islam bukan hanya membentuk generasi yang cerdas dalam sains dan teknologi, tetapi juga membentuk generasi yang cerdas dan bertakwa kepada Allah Swt. Dengan keimanan yang kokoh, Generasi Z tidak lagi memandang dirinya sekadar sebagai “mesin pencari cuan” atau konsumen tren demi meraih popularitas, melainkan sebagai generasi yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat dan masa depan peradaban Islam.

Sistem Islam yang berasal dari Allah Swt. memiliki aturan yang sempurna dan mampu menyelamatkan generasi muda dari kehancuran serta krisis tujuan hidup. Sejarah peradaban Islam mencatat lahirnya banyak pemuda yang memiliki akidah kuat, visi peradaban yang jelas, adab yang mulia, serta kontribusi nyata bagi dakwah Islam.

Di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib, seorang pemuda yang cerdas dan pemberani. Ia bersedia tidur di tempat tidur Rasulullah saw. untuk mengelabui kaum Quraisy yang mengepung rumah Nabi Muhammad saw. dan hendak membunuh beliau pada malam hijrah.

Muhammad al-Fatih berhasil menjadi Sultan Utsmaniyah dan menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun. Usamah bin Zaid juga ditunjuk Rasulullah saw. untuk memimpin pasukan Muslim menghadapi Romawi pada usia muda. Selain itu, Mus'ab bin Umair dikenal sebagai salah satu sahabat yang diutus Rasulullah saw. ke Madinah untuk berdakwah sebelum hijrah.

Sejatinya, kemajuan teknologi dan digitalisasi tidak akan mampu membentuk generasi yang gemilang dan bertakwa tanpa dibarengi dengan sistem yang sahih, yakni sistem Islam yang menerapkan syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupan.

Sudah saatnya umat bangkit dan bersatu untuk menjadikan Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan aturan Allah Swt., generasi muda dapat memiliki arah hidup yang jelas, kepribadian yang kuat, dan tujuan yang benar.

Sebagaimana ungkapan yang dinisbatkan kepada Ir. Soekarno, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.”

Imam Al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad juga memberikan nasihat mengenai pentingnya memanfaatkan masa muda dengan baik. Masa muda merupakan kesempatan berharga yang tidak seharusnya disia-siakan.

Wallahu a'lam bish-shawab. [An/AA]

Baca juga:

0 Comments: