Headlines
Loading...

Oleh: Ratty S. Leman

SSCQMedia.Com—Alhamdulillah, hari ini saya telah khatam tilawah Juz 6. Setelah itu, saya membaca terjemahannya sambil mencari ayat-ayat doa yang terdapat pada juz tersebut. Pandangan saya tertuju pada Surah Al-Ma'idah ayat 25.

QS. Al-Ma'idah: 25

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ لَآ اَمْلِكُ اِلَّا نَفْسِيْ وَاَخِيْ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ

"Dia (Musa) berkata, 'Ya Tuhanku, aku tidak mempunyai kekuasaan apa pun, kecuali atas diriku sendiri dan saudaraku. Oleh sebab itu, pisahkanlah antara kami dan kaum yang fasik itu.'"

Dalam Tafsir Wajiz dijelaskan bahwa ketika Nabi Musa a.s. mendengar penolakan kaumnya, beliau mengadu kepada Allah Swt. seraya berkata, "Ya Tuhanku, aku hanya mampu menguasai diriku sendiri dan saudaraku, Harun. Aku tidak mampu memaksa kaumku menaati perintah-Mu. Karena itu, pisahkanlah kami yang taat kepada-Mu dari kaum yang fasik dan enggan mengikuti ketetapan-Mu."

Membaca tafsir ayat ini membuat saya menarik napas panjang. Ayat doa pada Juz 6 ini menyadarkan saya bahwa persoalan kehidupan begitu banyak. Setiap hari kita membaca berita dan mendengar berbagai kabar yang menggambarkan semakin beratnya tantangan hidup.

Pada dini hari, misalnya, ketika hendak menunaikan salat malam, sering terdengar sayup-sayup suara anak-anak muda yang masih berkumpul setelah begadang. Mereka tertawa, bermain gim bersama (mabar), atau lalu-lalang dengan sepeda motor. Pemandangan seperti ini mengingatkan bahwa jika seseorang tidak disibukkan dengan ketaatan, sangat mungkin ia akan disibukkan dengan hal-hal yang kurang bermanfaat.

Allah Swt. menciptakan siang untuk bekerja dan malam untuk beristirahat. Namun, sebagian orang justru membalikkan kebiasaan tersebut. Siang digunakan untuk tidur, sedangkan malam dihabiskan untuk beraktivitas. Malam tidak lagi dihidupkan dengan qiyamulail, salat, tilawah, zikir, ataupun doa, melainkan dengan berbagai kesibukan lain yang tidak mendekatkan diri kepada Allah.

Fenomena tersebut mendorong saya untuk terus berdoa agar diri dan keluarga dijauhkan dari lingkungan yang gemar menghabiskan malam dengan begadang, nongkrong, dan berbincang tanpa tujuan yang jelas. Saya teringat doa Nabi Musa a.s. yang memohon agar dipisahkan dari kaum yang fasik. Doa itu menjadi pengingat agar senantiasa memohon lingkungan yang baik dan mendukung ketaatan.

Berkumpul dan berbincang pada malam hari pada dasarnya merupakan perkara mubah. Namun, jika dilakukan terus-menerus hingga melalaikan kewajiban dan menyia-nyiakan waktu, tentu tidak lagi membawa manfaat. Bukankah lebih baik beristirahat lebih awal agar dapat bangun pada sepertiga malam terakhir untuk bermunajat kepada Allah Swt.?

Persoalan lain juga tampak saat masa liburan sekolah. Tidak sedikit anak-anak yang menghabiskan waktu dengan bermain gim di sudut-sudut gang, pos keamanan, atau bahkan di rumah masing-masing tanpa pendampingan orang tua. Waktu mereka menjadi kurang produktif.

Karena itu, kami berusaha melakukan apa yang mampu dilakukan dalam keluarga. Mengajak anak-anak berolahraga, berjalan pagi, berbelanja, berekreasi, bersilaturahmi, menyetorkan hafalan, hingga berdiskusi tentang keimanan dan kewajiban berdakwah.

Namun, menjaga keluarga saja tidaklah cukup. Masyarakat juga perlu diajak kepada kebaikan. Kita tidak bisa berharap menjadi baik sendirian. Lingkungan sekitar harus ikut dibangun agar bersama-sama berjalan di atas kebenaran.

Lebih dari itu, negara pun memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi rakyat. Negara harus hadir menjaga agama, jiwa, akal, kehormatan, dan harta masyarakat. Apabila fungsi tersebut diabaikan, kerusakan akan semakin meluas.

Ayat doa inilah yang begitu memikat hati saya hari ini. Sesungguhnya, Al-Qur'an dipenuhi dengan ayat-ayat doa yang luar biasa. Alhamdulillah, saya telah mengumpulkan banyak di antaranya. Ayat-ayat doa untuk anak telah saya bukukan dalam buku solo berjudul Ramadan Spesial: Tadabur Ayat-Ayat Doa untuk Anak Istimewa. Adapun kumpulan doa para nabi telah dibuatkan desain oleh putra saya yang istimewa, meskipun hingga kini belum sempat saya bukukan dan lengkapi dengan ulasan tadaburnya.

Semoga Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menulis buku Tadabur Doa Para Nabi. Ternyata, inspirasi yang lahir dari Al-Qur'an begitu melimpah. Setiap ayat menghadirkan pelajaran yang layak direnungkan dan dituliskan.

Marilah kita terus berdoa. Al-Qur'an menyimpan begitu banyak doa yang dapat kita amalkan. Setiap kali menemukan ayat doa saat tilawah, ulangilah doa tersebut berulang-ulang agar maknanya semakin meresap ke dalam hati dan menjadi bagian dari kehidupan kita.

Bogor, 2 Juli 2026

[My/Wa]

Baca juga:

0 Comments: