Oleh: Zhiya Kelana
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Sejumlah sekolah dasar negeri (SDN) mengalami penurunan jumlah peserta didik pada awal Tahun Ajaran 2026/2027. Ada sekolah yang hanya menerima satu hingga lima murid baru, bahkan tiga SD negeri di Blitar tidak memperoleh siswa baru sama sekali. Fenomena ini terjadi di berbagai daerah, mulai dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), hingga wilayah lainnya. (CNN Indonesia, 14 Juli 2026; Kompas.com, 15 Juli 2026).
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mengambil langkah untuk mengatasi persoalan tersebut. Salah satu solusi yang diajukan ialah regrouping, yaitu menggabungkan beberapa SD negeri yang kekurangan murid menjadi satu sekolah. Ketua DPR RI, Puan Maharani, juga mengusulkan penataan ulang sekolah. Namun, kebijakan ini memunculkan persoalan baru karena jarak sekolah menjadi semakin jauh bagi sebagian anak. (CNN Indonesia, 15 Juli 2026; Detik.com, 15 Juli 2026).
Dua Penyebab Utama Sepinya SD Negeri
Pertama, perubahan struktur demografi. Jumlah anak usia sekolah di sekitar lingkungan sekolah semakin sedikit. Para pakar menyebut kondisi ini dipengaruhi oleh bertambahnya usia penduduk produktif, menurunnya angka kelahiran, serta meningkatnya urbanisasi. Program pengendalian kelahiran yang selama ini dijalankan pemerintah turut berkontribusi terhadap penurunan angka kelahiran. Di sisi lain, tekanan ekonomi membuat banyak pasangan muda menunda memiliki anak karena tingginya biaya hidup. Urbanisasi juga terus terjadi akibat kesenjangan pendapatan antara desa dan kota. (Kompas.com, 15 Juli 2026).
Kedua, pergeseran orientasi pendidikan masyarakat. Banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta berbasis agama. Alasannya sederhana. Mereka berharap anak tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kemampuan beribadah, membaca Al-Qur'an, serta berakhlak mulia. Kekhawatiran ini muncul karena maraknya kerusakan moral dan kenakalan remaja di lingkungan sekolah. Orang tua merasa khawatir keselamatan dan pembentukan karakter anak tidak terjamin jika berada di lingkungan yang kurang kondusif. (Metro TV News, 2026).
Gagalnya Tambal Sulam Kurikulum
Perubahan kurikulum yang berulang kali dilakukan belum mampu menjawab kegelisahan para orang tua. Kurikulum terus berganti, tetapi persoalan mendasar belum terselesaikan. Sistem pendidikan sekuler liberal memisahkan agama dari kehidupan. Di sekolah, pelajaran agama hanya menjadi mata pelajaran formal dengan alokasi waktu yang terbatas. Sementara itu, di luar kelas anak-anak terus dibombardir oleh konten media sosial, tayangan hiburan, dan pergaulan bebas yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Akibatnya, sekolah menjadi tempat yang dinilai rentan terhadap berbagai persoalan, seperti tawuran, perundungan, penyalahgunaan narkoba, hingga paparan konten asusila. Ketika negara dinilai belum mampu menjamin keamanan serta pembinaan akhlak peserta didik, tidak sedikit orang tua yang memilih memindahkan anaknya ke sekolah yang dianggap lebih aman dan sejalan dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar menyangkut gengsi, melainkan upaya menyelamatkan masa depan anak.
Kerusakan tersebut dinilai tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti kurikulum atau buku pelajaran. Selama sistem yang diterapkan masih berasaskan sekularisme, hasil yang lahir pun dipandang akan tetap bercorak sekuler. Negara dinilai lebih berfokus pada capaian akademik dan angka kelulusan daripada pembentukan kepribadian peserta didik.
Pendidikan sebagai Tanggung Jawab Negara
Islam memandang pendidikan sebagai kebutuhan dasar sekaligus pilar penting dalam membangun peradaban. Negara berkewajiban menjamin tersedianya pendidikan yang berkualitas, gratis, dan merata bagi seluruh rakyat tanpa membedakan status ekonomi.
Allah Swt. berfirman,
"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca agar manusia dapat menegakkan keadilan." (QS. Al-Hadid: 25).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bertujuan membentuk manusia yang berilmu, bertakwa, dan mampu menegakkan keadilan.
Dalam sistem pendidikan Islam, kurikulum disusun berdasarkan akidah Islam. Tujuannya adalah mencetak generasi yang berkepribadian Islam sekaligus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Agama tidak dipisahkan dari sains. Anak mempelajari Al-Qur'an, fikih, dan akhlak, sekaligus menguasai matematika, fisika, bahasa, serta berbagai disiplin ilmu lainnya. Dengan demikian, akan lahir generasi yang cerdas sekaligus memiliki benteng moral yang kokoh.
Negara dalam sistem Islam juga berkewajiban menyediakan guru yang kompeten, infrastruktur, sarana, dan prasarana pendidikan terbaik. Tidak ada sekolah yang kekurangan guru maupun ruang kelas. Tidak ada pula orang tua yang harus mengeluarkan biaya besar demi memperoleh pendidikan yang layak karena pendidikan merupakan tanggung jawab negara, bukan komoditas.
Butuh Kesadaran Politik, Bukan Sekadar Memindahkan Sekolah
Saat ini, kesadaran masyarakat masih sebatas pada upaya menyelamatkan anak secara individu dengan memindahkan mereka ke sekolah swasta yang dianggap lebih baik. Langkah tersebut tentu merupakan ikhtiar yang baik, tetapi dinilai belum menyelesaikan akar persoalan.
Yang perlu dibangun adalah kesadaran politik masyarakat. Masyarakat perlu memahami bahwa persoalan pendidikan saat ini dipandang sebagai konsekuensi dari penerapan sistem sekuler liberal. Selama sistem tersebut tetap diterapkan, sekolah negeri akan terus kehilangan kepercayaan masyarakat, sementara sekolah swasta akan semakin berkembang sebagai alternatif pilihan.
Dalam pandangan penulis, di sinilah pentingnya dakwah politik. Umat perlu diedukasi bahwa persoalan pendidikan tidak dapat diselesaikan hanya dengan melakukan regrouping sekolah. Diperlukan perubahan yang lebih mendasar pada sistem yang diterapkan negara. Masyarakat perlu didorong untuk memperjuangkan sistem pendidikan yang menjadikan akidah Islam sebagai asas.
Apabila kesadaran tersebut tumbuh, maka tuntutan masyarakat tidak lagi sekadar, "Sekolah mana yang bagus?", melainkan, "Sistem apa yang harus diubah agar seluruh sekolah menjadi baik?"
Jangan Biarkan Generasi Dikorbankan
Krisis murid baru di SD negeri merupakan sebuah alarm bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan saat ini terus menurun. Regrouping, pergantian kurikulum, maupun pemberian subsidi dinilai belum menjadi solusi yang menyeluruh apabila akar persoalannya tidak diselesaikan.
Anak merupakan investasi masa depan bangsa. Jika hari ini mereka gagal memperoleh pendidikan yang benar, dikhawatirkan pada masa mendatang akan lahir generasi yang lemah dalam keimanan maupun penguasaan ilmu.
Sudah saatnya sistem pendidikan dievaluasi secara menyeluruh. Pendidikan perlu dikembalikan pada fitrahnya, yaitu membentuk manusia yang bertakwa, berilmu, dan memberikan manfaat bagi umat.
Mari menyelamatkan sekolah. Mari menyelamatkan generasi. Mari menyelamatkan masa depan dengan kembali kepada sistem Islam secara kafah.
Wallahu a'lam bish-shawab. [ry/EKD]
Baca juga:
0 Comments: