Headlines
Loading...
Tempe Mengecil, Masalah Negeri Membesar

Tempe Mengecil, Masalah Negeri Membesar

Oleh: Istiana Ayu S.R.
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com— Tempe adalah makanan yang sangat akrab dengan masyarakat Indonesia. Dari desa hingga kota, tempe menjadi lauk favorit karena harganya terjangkau dan gizinya baik. Namun, saat ini banyak perajin tempe menghadapi kesulitan. Harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama tempe terus naik. Akibatnya, biaya produksi tempe pun meningkat.

Banyak perajin dan pedagang tidak berani menaikkan harga karena khawatir pembeli berkurang. Akhirnya, mereka memilih memperkecil ukuran tempe agar tetap dapat dijual dengan harga yang sama. Ada pula yang rela memperoleh keuntungan lebih sedikit demi mempertahankan pelanggan (Kumparan, 6 Juni 2025).

Kesulitan yang dialami para perajin tidak hanya disebabkan oleh naiknya harga kedelai. Harga plastik dan berbagai kebutuhan produksi lainnya juga mengalami kenaikan. Di Malang, Jawa Timur, sebagian perajin bahkan terpaksa mengurangi jumlah produksi karena biaya yang semakin besar. Ada yang memperkecil ukuran tempe, ada pula yang menaikkan harga jual agar usahanya tidak merugi (Kompas.id, 5 Juni 2025).

Keadaan semakin berat ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Sebab, sebagian besar kedelai yang digunakan untuk membuat tempe masih berasal dari luar negeri. Ketika nilai dolar meningkat, harga kedelai impor pun ikut naik. Akibatnya, perajin tempe kembali menjadi pihak yang menanggung beban paling besar (Kompas.id, 9 April 2025).

Masalah ini menunjukkan bahwa negeri yang dikenal kaya akan sumber daya alam ternyata masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan penting. Ketika pasokan dari luar negeri terganggu atau harganya naik, rakyat Indonesia ikut merasakan dampaknya. Perajin tempe kesulitan, pedagang mengeluh, dan masyarakat harus membeli tempe dengan ukuran yang semakin kecil.

Padahal, Indonesia memiliki lahan pertanian yang luas dan jutaan petani yang seharusnya mampu menjadi penopang kemandirian pangan. Sayangnya, petani dalam negeri juga menghadapi banyak persoalan. Harga pupuk terus meningkat, biaya produksi pertanian semakin mahal, lahan pertanian banyak yang beralih fungsi, sementara hasil panen sering kali dihargai rendah. Tidak sedikit petani yang kesulitan memperoleh pupuk tepat waktu atau harus membelinya dengan harga yang lebih tinggi. Akibatnya, biaya bertani semakin besar, sedangkan keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.

Kondisi ini membuat sektor pertanian kurang berkembang. Banyak generasi muda enggan menjadi petani karena melihat kehidupan petani yang penuh kesulitan. Akibatnya, produksi pangan dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara optimal. Ketika produksi dalam negeri lemah, impor menjadi pilihan yang terus diandalkan. Padahal, ketergantungan pada impor justru membuat rakyat semakin rentan terhadap gejolak harga dunia.

Kondisi tersebut menunjukkan kegagalan sistem kapitalisme dalam mengelola sektor pangan. Dalam sistem ini, negara lebih banyak berperan sebagai regulator daripada pengurus rakyat. Urusan pangan diserahkan kepada mekanisme pasar dan kepentingan bisnis. Akibatnya, ketika harga dunia naik atau nilai tukar rupiah melemah, rakyatlah yang pertama kali merasakan dampaknya. Petani kesulitan karena mahalnya sarana produksi, perajin tempe kesulitan karena mahalnya bahan baku, sementara masyarakat harus membeli kebutuhan pangan dengan harga yang semakin tinggi.

Islam memiliki cara yang berbeda dalam mengurus kebutuhan rakyat. Dalam Islam, negara wajib memastikan kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi dengan baik. Rasulullah ï·º bersabda:

"Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR Bukhari dan Muslim).

Karena itu, negara tidak boleh membiarkan kebutuhan pangan terus bergantung pada negara lain. Negara harus membantu petani agar mampu menghasilkan lebih banyak kedelai dan bahan pangan lainnya di dalam negeri. Bantuan tersebut dapat berupa penyediaan lahan pertanian, bibit unggul, pupuk yang mudah diperoleh, irigasi yang memadai, teknologi pertanian, serta pendampingan bagi para petani. Dengan demikian, produksi pangan dalam negeri dapat meningkat dan ketergantungan pada impor dapat dikurangi.

Islam juga mewajibkan negara menjaga agar kebutuhan pokok rakyat mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau. Semua kebijakan dibuat untuk kemaslahatan rakyat, bukan untuk keuntungan segelintir pihak. Negara bertanggung jawab memastikan distribusi pangan berjalan dengan baik dan tidak ada pihak yang mengambil keuntungan dengan merugikan masyarakat.

Naiknya harga kedelai impor dan semakin sulitnya kehidupan perajin tempe seharusnya menjadi pelajaran bagi kita. Selama kebutuhan pangan masih bergantung pada impor dan sektor pertanian dalam negeri tidak mendapatkan perhatian yang semestinya, masalah seperti ini akan terus berulang. Karena itu, diperlukan perubahan mendasar menuju sistem yang mampu mewujudkan kemandirian pangan dan melindungi rakyat. Islam menawarkan solusi tersebut melalui peran negara yang sungguh-sungguh mengurus kebutuhan masyarakat sesuai syariat Allah Swt.

Wallahu a'lam bishshawab. [My/WA]

Baca juga:

0 Comments: