Headlines
Loading...
Ketika Konten Viral Membahayakan Anak

Ketika Konten Viral Membahayakan Anak

Oleh: Q. Rosa
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Konten viral di media sosial kembali memakan korban. Seorang siswa SD bernama Hamad Izan Wadi (8), asal Lombok Timur, meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit akibat cedera serius berupa patah tulang leher. (kumparan.com, 7/5/2026)

Korban mengalami cedera setelah melakukan aksi freestyle dengan meniru gerakan yang viral dari gim daring Garena Free Fire.

Aksi freestyle memang memacu adrenalin, seperti salto atau gerakan sujud dengan kaki terangkat. Gerakan tersebut sedang viral dan banyak ditiru anak-anak. Mereka merasa tertantang mengikuti challenge yang beredar, bahkan terkadang saling adu kemampuan antarteman. Padahal, gerakan seperti itu membutuhkan pengawasan ahli. Jika dibimbing dengan benar, hasilnya bisa menjadi gerakan yang indah dan aman untuk ditampilkan. Namun, jika ditiru sembarangan tanpa persiapan, akibatnya bisa fatal, seperti patah tulang leher atau cedera serius lainnya hingga berujung kematian.

Nalar Anak Belum Sampai, Orang Tua Abai

Challenge meniru gerakan ekstrem freestyle memantik naluri anak untuk mendapatkan pengakuan, baik di media sosial maupun di lingkungan pertemanan mereka. Saat berhasil melakukan tantangan tersebut, mereka memperoleh pujian, view, dan like yang memberi kepuasan tersendiri meski tanpa hadiah atau uang.

Namun, aksi semacam ini dapat berdampak serius apabila terjadi kesalahan posisi atau tumpuan. Cedera hingga kematian bisa terjadi sewaktu-waktu. Sementara itu, nalar anak belum sampai untuk memikirkan risiko tersebut. Ambisi mereka hanyalah mendapatkan pujian dan pengakuan. Cedera dan bahaya justru jauh dari pikiran mereka.

Di sisi lain, orang tua sering kali abai. Pertama, abai terhadap konten-konten negatif maupun konten yang tampak positif tetapi sebenarnya membahayakan anak. Tidak sedikit orang tua merasa puas ketika anak tidak rewel karena sibuk dengan gawai. Bahkan, ada yang bangga dapat membelikan telepon genggam untuk anak, lalu membiarkan mereka menggunakannya berjam-jam tanpa pendampingan dan pengawasan terhadap konten yang ditonton. Padahal, kondisi ini dapat berdampak serius, baik bagi kesehatan fisik maupun mental anak.

Kedua, abai terhadap kesehatan mental dan dampak serius penggunaan gawai. Konten negatif yang dikonsumsi setiap hari dapat memengaruhi mental dan perilaku anak. Mereka cenderung meniru apa yang dilihat dan menganggap informasi dalam konten sebagai suatu kebenaran. Akibatnya, anak menjadi sulit diatur, mudah terbawa perasaan, dan kehilangan fokus belajar. Celakanya, banyak orang tua baru menyadari ketika anak sudah kecanduan dan mereka tidak lagi mampu mengendalikan keadaan. Penyesalan pun datang ketika anak menjadi korban dari konten-konten negatif tersebut.

Negara Abai terhadap Lingkungan Tumbuh Kembang Anak

Lingkungan yang sehat dan aman sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak. Secara fisik, pemerintah memang berusaha menyediakan taman bermain, seperti alun-alun dan ruang terbuka di perkotaan.

Namun, problem tumbuh kembang anak pada era industri 4.0 tidak lagi hanya berkaitan dengan lingkungan fisik. Kini, anak-anak lebih banyak bermain di media sosial dan dunia digital. Sayangnya, kondisi ini justru berdampak serius terhadap perilaku mereka.

Ketika kemampuan untuk membatasi konten negatif sangat minim, sesungguhnya negara sedang mempertaruhkan masa depan generasi. Kemampuan mencetak generasi berkualitas pun dipertanyakan. Padahal, keberlangsungan sebuah negara sangat ditentukan oleh kualitas generasinya. Jika yang digaungkan adalah Generasi Emas 2045, kondisi ini justru dapat berubah menjadi generasi cemas apabila problem mental generasi tidak segera diperhatikan.

Sistem kapitalisme-sekuler memandang segala sesuatu dari sisi materi, kepuasan, dan kesenangan fisik, termasuk keuntungan dari dunia konten digital. Konsep kebebasan berperilaku dimanifestasikan dalam berbagai konten di media sosial, baik positif maupun negatif. Namun, faktanya, konten negatif yang niradab justru lebih mudah viral dan memperoleh banyak view serta like. Akibatnya, tayangan di layar telepon genggam terus memakan korban, baik secara fisik, mental, bahkan nyawa.

Islam Kaffah dan Kehidupan yang Penuh Berkah

Politik Islam adalah mengurusi urusan rakyat. Salah satu bentuk pengurusan tersebut ialah memastikan generasi tumbuh dan berkembang secara sehat, baik fisik, mental, maupun spiritual.

Negara dalam Islam akan memastikan generasi tumbuh dengan lingkungan dan pola asuh yang sehat. Kepribadian mereka dibentuk sejak dini melalui penanaman akidah Islam sebagai dasar berpikir. Anak-anak akan diarahkan untuk mengakses informasi positif dalam pengawasan dan pendampingan orang tua.

Negara juga akan menjamin bahwa konten yang tayang di media sosial aman bagi kesehatan mental generasi. Konten negatif yang bertentangan dengan syariat Islam akan diblokir. Negara memiliki aturan tegas agar konten yang merusak tidak bebas muncul di layar telepon genggam.

Di samping itu, negara juga menerapkan hukum yang tegas bagi pelaku kemaksiatan, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Dalam hal ini, syariat Islam memiliki fungsi memberikan efek jera terhadap pelaku kejahatan dan kemaksiatan.

Dari sisi orang tua, Islam mewajibkan mereka memiliki ilmu dan wawasan politik Islam yang baik. Dengan bekal tersebut, mereka memahami bahwa anak merupakan aset umat dan calon pemimpin masa depan. Karena itu, tumbuh kembang fisik dan mental anak harus didampingi secara penuh, termasuk dalam memilih tontonan di layar gawai.

Telepon genggam akan difungsikan sebagai sarana belajar yang menguatkan kepribadian anak, baik pola pikir maupun pola sikapnya.

Dari sisi masyarakat, Islam mewajibkan amar makruf nahi mungkar. Masyarakat akan memiliki kepedulian tinggi terhadap perkembangan generasi dan tidak membiarkan mental mereka dirusak oleh konten negatif.

Demikianlah gambaran peradaban dalam sistem Islam, yaitu khilafah. Keselarasan pemikiran, perasaan, dan aturan antara orang tua, masyarakat, sekolah, serta negara akan menjamin generasi tumbuh menjadi pribadi yang kuat secara fisik dan mental, serta tidak mudah terpengaruh dampak negatif media sosial maupun kehidupan nyata. [MA/Wa]

Baca juga:

0 Comments: