Oleh: Naila Dhofarina Noor, S.Pd.
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Coba kita renungkan suatu kondisi yang membuat kita down karena suatu masalah atau berbagai persoalan yang datang bertubi-tubi. Apakah kita sanggup untuk bangkit kembali? Segera mengumpulkan segenap kekuatan, keberanian, dan keyakinan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi.
Sungguh, umat Islam yang sejati akan mampu bangkit kembali dengan dorongan iman dan takwa. Pada Perang Uhud, kaum Muslim mengalami kekalahan karena sebagian pasukan pemanah tidak menaati perintah Rasulullah saw. untuk tetap berada di posisi mereka. Mereka tergoda oleh harta yang ditinggalkan musuh dan mengira perang telah usai sehingga turun dari bukit untuk mengambilnya sebagai fa’i (harta rampasan perang). Padahal, belum ada perintah dari Rasulullah saw. untuk turun. Akibatnya, banyak pasukan Muslim gugur, termasuk di antaranya para penghafal Al-Qur'an.
Dalam Perang Uhud itulah kaum Muslim mengalami kondisi jatuh, kalah, dan merasa terpuruk. Namun, perasaan itu tidak berlangsung lama. Mereka segera menyadari kesalahannya lalu bertobat dengan sungguh-sungguh. Ketika panggilan jihad kembali datang, mereka siap memenuhi seruan tersebut. Mereka tidak larut dalam perasaan bersalah dan kekalahan. Recovery mental mereka berlangsung begitu cepat sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Ali Imran ayat 172:
“Orang-orang yang menaati (perintah) Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud), bagi orang-orang yang berbuat kebajikan di antara mereka dan bertakwa, ada pahala yang besar.”
Dalam Tafsir Jalalain, perintah pada ayat tersebut adalah memenuhi seruan Rasulullah saw. untuk berangkat berperang ketika Abu Sufyan dan pasukannya dikabarkan hendak kembali setelah membuat perjanjian untuk bertemu dalam Perang Badar berikutnya pada tahun setelah Perang Uhud. Kaum Muslim segera menjawab seruan itu dengan kesiapan untuk berangkat bersama Rasulullah saw.
Ketika pasukan kaum Muslim tiba di Badar, ternyata Abu Sufyan dan pasukannya tidak datang. Allah Swt. telah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka. Padahal, bukankah mereka yang sebelumnya menjadi pemenang dalam Perang Uhud?
Inilah pelajaran berharga bagi kaum Muslim. Mental umat Islam adalah mental pejuang. Pertanyaannya, apakah mental pejuang itu juga menjadi mental kita? Allahu Akbar, mari jawab dengan tegas: iya.
Kita harus terus belajar untuk bangkit. Masalah pasti ada sebagai ujian bagi setiap manusia. Ingatlah bahwa Allah Swt. selalu menyediakan kebaikan di balik setiap kesabaran. Jika kita melihat apa yang terjadi di Palestina hari ini, terdapat kesamaan dengan peristiwa tersebut.
Saudara-saudara kita di Palestina, meskipun terluka, terbunuh, dan teraniaya, tetap bertahan dengan penuh kesadaran, keberanian, dan keimanan. Mereka menunjukkan mental yang tidak mudah dikalahkan. Mereka benar-benar mengamalkan firman Allah Swt. dalam ayat terakhir Surah Ali Imran, yaitu ayat 200:
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiapsiaga (di perbatasan negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
Dalam ayat ini, terdapat empat seruan penting.
Pertama, ishbiru, yaitu bersabar dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Kedua, shabiru, yaitu memperkuat kesabaran sehingga orang-orang kafir tidak lebih sabar daripada kaum Muslim.
Ketiga, rabithu, yaitu berjaga-jaga atau bersiapsiaga.
Keempat, ittaqullah, yaitu bertakwa kepada Allah Swt.
Pada poin ketiga, yaitu rabithu, belum semua kaum Muslim memahami bahwa ayat ini juga mengandung seruan untuk tetap berjaga-jaga dan bersiapsiaga di perbatasan negeri.
Imam Al-Qurthubi, ketika menafsirkan ayat ini, menukil pendapat Ibnu Athiyah yang menyatakan bahwa ribath adalah aktivitas berjaga-jaga di jalan Allah. Dengan kata lain, membangun pertahanan untuk menghadang dan menimbulkan rasa gentar pada musuh.
Oleh karena itu, para pemimpin negeri-negeri Muslim dipandang memiliki kewajiban untuk mengirim pasukan, bukan sekadar melaporkan jumlah korban atau bahkan menjadi pelindung kepentingan musuh. Lebih dari itu, mereka dituntut mengirim kekuatan pertahanan untuk menjaga tanah kaum Muslim. Bahkan, yang sangat dibutuhkan adalah para relawan yang melakukan ribath.
Carole Hillenbrand dalam bukunya The Crusades: Islamic Perspectives menjelaskan bahwa di wilayah perbatasan negeri-negeri Muslim pada masa lalu banyak terdapat relawan yang menjalankan aktivitas ribath. Bangunan-bangunan ribath didirikan di kawasan tersebut. Para prajurit dan relawan mendapatkan dukungan dari dana amal masyarakat serta para penguasa.
Oleh karena itu, semoga umat Islam dapat mentadabburi ayat tersebut dengan pemahaman yang benar sehingga mampu bangkit kembali. Mari menjemput kemenangan yang telah Allah Swt. dan Rasulullah saw. janjikan. Kuatkan mental dan tekad untuk berjuang di jalan Allah sesuai kemampuan yang kita miliki. [My/Des]
Baca juga:
0 Comments: