Headlines
Loading...
Suara Mahasiswa dan Arah Perubahan yang Belum Tuntas

Suara Mahasiswa dan Arah Perubahan yang Belum Tuntas

Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)

SSCQMedia.Com—Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya turun ke jalan. Mereka melaksanakan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat yang berlokasi di Jalan Diponegoro, Kota Bandung. Mereka datang dengan membawa kegelisahan yang sama.

Presiden Mahasiswa UPI Bandung, Khalid Syaiful, menegaskan bahwa aksi ini lahir dari kepedulian terhadap kondisi bangsa. Ia menyampaikan bahwa pemerintah belum mampu mengelola negara dengan baik. Pernyataan ini mencerminkan keresahan yang tumbuh di ruang publik (Bandung.kompas.com, 11 Juni 2026).

Aksi ini merupakan tanda hidupnya nurani intelektual. Mahasiswa tidak tinggal diam. Mereka merespons realitas yang mereka anggap tidak adil. Namun, aksi sering berhenti pada ekspresi protes, sementara arah perubahan belum tergambar secara utuh. Banyak ahli menilai hal ini sebagai gejala berulang: gerakan mahasiswa kuat dalam kritik, tetapi sering lemah dalam desain solusi yang sistemik.

Mahasiswa sejatinya hadir sebagai penjaga nurani publik. Mereka membaca ketimpangan dan menyuarakan keadilan. Aksi di jalan menjadi simbol keberanian. Namun, muncul pertanyaan penting: mengapa setiap gelombang protes seolah berakhir pada titik yang sama?

Tuntutan disampaikan. Respons diberikan. Lalu keadaan berjalan seperti semula. Siklus ini berulang. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah tidak hanya terletak pada kebijakan teknis, tetapi juga menyentuh akar yang lebih dalam.

Selanjutnya, kita perlu jujur melihat kenyataan. Aksi tanpa arah perubahan mendasar akan mudah menjadi rutinitas. Ia hadir, lalu hilang. Ia ramai, lalu senyap.

Mahasiswa akhirnya terjebak dalam pola reaktif. Mereka bergerak saat krisis muncul, tetapi belum sepenuhnya mengarahkan energi pada perubahan sistemik. Padahal, perubahan sejati tidak cukup dengan pergantian kebijakan atau figur.

Perubahan membutuhkan kerangka yang utuh, yang mampu menjawab akar persoalan secara menyeluruh.


Pandangan Islam

Lebih jauh, Islam menawarkan pandangan yang berbeda tentang perubahan. Islam tidak memulai perubahan dari tekanan massa, melainkan dari pembinaan manusia.

Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini menegaskan arah perubahan yang mendasar.

Rasulullah saw. mencontohkan hal ini secara nyata. Selama di Makkah, beliau membina para sahabat dan menanamkan akidah yang kokoh serta membentuk kepribadian yang kuat. Proses ini dikenal sebagai tatsqif.

Kemudian, Rasulullah saw. berinteraksi dengan masyarakat, menyampaikan kebenaran, dan menjelaskan kerusakan yang ada. Tahap ini dikenal sebagai tafa’ul ma‘al ummah. Setelah itu, beliau mencari dukungan dari pemilik kekuatan. Tahap ini disebut thalabun nushrah.

Riwayat tentang perjalanan dakwah ini dapat ditemukan dalam banyak literatur sirah, di antaranya riwayat Ibnu Ishaq yang dikutip oleh Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah. Proses ini berujung pada terbentuknya masyarakat Madinah yang berkeadilan.

Jika dicermati, metode ini tidak mengandalkan ledakan emosi. Metode ini membangun kesadaran dan menyiapkan perubahan secara matang. Hasilnya pun nyata: Rasulullah saw. berhasil mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat yang beradab.

Para Khulafaur Rasyidin melanjutkan kepemimpinan ini dengan menegakkan keadilan. Umar bin Khattab dikenal memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan. Ia bahkan berkata, “Jika seekor keledai terperosok di Irak, aku khawatir Allah akan menanyakannya kepadaku” (riwayat dalam kitab-kitab sejarah Islam klasik). Hal ini menunjukkan standar tanggung jawab yang sangat tinggi.


Khatimah

Pada titik ini, kita perlu merenung. Aksi mahasiswa adalah energi besar yang sangat berharga, namun energi ini perlu arah yang jelas. Tanpa arah, ia mudah habis, dan tanpa arah pula ia mudah berulang. Karena itu, refleksi menjadi penting.

Bukan untuk melemahkan gerakan, tetapi untuk menguatkan fondasinya. Mahasiswa perlu melangkah dari sekadar kritik menuju perumusan perubahan yang utuh; dari sekadar reaksi menuju visi yang terarah; dari sekadar suara menuju solusi yang menuntaskan.

Akhirnya, suara mahasiswa tetap penting. Ia harus terus hidup. Namun, suara itu perlu berpadu dengan kedalaman pemikiran. Dengan begitu, gerakan tidak hanya menggema di jalan, tetapi juga mampu mengubah arah peradaban. [US/HEM]

Baca juga:

0 Comments: