Headlines
Loading...
Surplus Dokter Tak Menjamin Keselamatan Ibu

Surplus Dokter Tak Menjamin Keselamatan Ibu

Oleh: Wilda Nusva Lilasari, S.M.
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Di tengah berbagai kemajuan teknologi dan pembangunan yang terus digencarkan, Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar yang menyangkut keselamatan nyawa perempuan.

Berdasarkan laporan Kompas.com (4/6/2026), angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. Kondisi ini terasa ironis mengingat jumlah dokter spesialis kandungan dan kebidanan di Indonesia saat ini telah melebihi kebutuhan nasional.

Fakta tersebut memunculkan pertanyaan besar: jika tenaga medis tersedia dalam jumlah yang cukup, mengapa masih banyak ibu yang kehilangan nyawa saat masa kehamilan, persalinan, maupun pascapersalinan?

Persoalan ini penting menjadi perhatian generasi muda (Gen Z). Sebab, generasi muda hari ini adalah calon orang tua, pengambil kebijakan, sekaligus penggerak perubahan di masa depan. Ketika keselamatan ibu belum terjamin, maka masa depan generasi berikutnya juga ikut terancam.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Mei 2026 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan penduduk Indonesia dalam lima tahun terakhir melambat menjadi rata-rata 1,08 persen per tahun. Di sisi lain, persoalan kesehatan perempuan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, menyampaikan bahwa setiap tahun terdapat lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks di Indonesia dengan lebih dari 21.000 kematian. Artinya, satu perempuan meninggal akibat kanker serviks setiap 25 menit.

Tingginya angka kematian ibu dan berbagai persoalan kesehatan perempuan menunjukkan bahwa masih ada masalah serius dalam sistem pelayanan kesehatan di negeri ini. Berbagai faktor berkontribusi terhadap kondisi tersebut, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan, kesenjangan fasilitas antarwilayah, hingga minimnya tenaga kesehatan di daerah terpencil.

Salah satu persoalan yang paling nyata adalah ketimpangan distribusi dokter kandungan. Sebagian besar dokter spesialis terkonsentrasi di kota-kota besar yang memiliki fasilitas lengkap dan tingkat kesejahteraan lebih baik. Sebaliknya, daerah terpencil, perbatasan, dan wilayah tertinggal masih mengalami kekurangan dokter spesialis serta fasilitas kesehatan yang memadai. Akibatnya, tidak semua ibu memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan layanan kesehatan berkualitas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan jumlah tenaga kesehatan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan distribusi tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata.

Dalam sistem kapitalisme, kesehatan sering kali dipandang sebagai sektor yang mengikuti mekanisme pasar. Rumah sakit berkembang lebih cepat di wilayah yang menjanjikan keuntungan ekonomi. Tenaga kesehatan pun cenderung berkumpul di daerah yang menawarkan fasilitas dan kesejahteraan lebih baik. Akibatnya, daerah yang kurang menguntungkan secara ekonomi sering kali tertinggal dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.

Karena itu, tingginya angka kematian ibu sejatinya bukan hanya persoalan jumlah dokter kandungan. Persoalan ini bersifat sistemis, berkaitan dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat, pembangunan infrastruktur kesehatan, ketersediaan rumah sakit, tenaga medis, bidan, perawat, serta sarana transportasi yang memungkinkan masyarakat mengakses layanan kesehatan dengan cepat dan mudah.

Tingginya AKI menjadi indikator bahwa negara belum sepenuhnya berhasil melindungi nyawa ibu. Padahal, keselamatan seorang ibu memiliki dampak besar terhadap keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang anak. Ketika seorang ibu meninggal, bukan hanya satu nyawa yang hilang, tetapi juga muncul berbagai persoalan sosial dan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan.

Islam memiliki pandangan yang berbeda dalam memandang kesehatan. Dalam Islam, kesehatan merupakan kebutuhan dasar rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara. Negara tidak boleh menyerahkan urusan kesehatan kepada mekanisme pasar ataupun menjadikannya sebagai komoditas yang hanya dapat diakses oleh mereka yang mampu membayar.

Allah Swt. berfirman dalam QS An-Nahl ayat 90 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, serta Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

Ayat tersebut menegaskan pentingnya keadilan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam pelayanan kesehatan. Tidak boleh ada kesenjangan layanan antara masyarakat perkotaan dan masyarakat di daerah terpencil. Setiap rakyat berhak memperoleh akses kesehatan yang sama tanpa dibedakan oleh faktor ekonomi maupun wilayah tempat tinggal.

Islam menempatkan pemimpin sebagai ra’in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, negara wajib menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai, tenaga kesehatan yang cukup, serta memastikan distribusinya merata hingga ke seluruh wilayah.

Selain itu, negara juga wajib membangun infrastruktur pendukung seperti jalan dan sarana transportasi agar masyarakat mudah mengakses layanan kesehatan. Dengan infrastruktur yang memadai, ibu hamil yang membutuhkan pertolongan medis dapat segera memperoleh pelayanan tanpa terhambat jarak maupun kondisi wilayah.

Pembiayaan kesehatan dalam sistem Islam berasal dari Baitulmal sehingga layanan kesehatan dapat diberikan secara gratis kepada rakyat. Fokus utamanya adalah pelayanan dan perlindungan terhadap nyawa manusia, bukan keuntungan ekonomi.

Konsep ini bukan sekadar teori. Sejarah Islam membuktikan bahwa layanan kesehatan yang merata pernah diwujudkan. Pada masa Salahuddin Al-Ayyubi, negara memberikan perhatian besar terhadap kesehatan rakyat. Rumah sakit dibangun dan dibiayai oleh Baitulmal sehingga dapat diakses oleh seluruh masyarakat tanpa memandang status sosial maupun kemampuan ekonomi.

Salah satu yang terkenal adalah Bimaristan An-Nuri di Damaskus. Rumah sakit ini menyediakan dokter, obat-obatan, ruang perawatan, serta layanan kesehatan gratis bagi masyarakat. Bahkan pasien yang telah sembuh tetap diperhatikan hingga mampu kembali menjalani aktivitasnya dengan baik.

Bagi Gen Z, persoalan tingginya angka kematian ibu seharusnya menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah negara tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, teknologi, atau pertumbuhan ekonomi.

Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika setiap nyawa terlindungi dan setiap warga negara mendapatkan hak yang sama untuk hidup sehat.

Surplus dokter ternyata belum tentu menjamin keselamatan ibu. Yang dibutuhkan bukan sekadar jumlah tenaga kesehatan, melainkan sistem yang mampu menghadirkan pelayanan kesehatan secara adil dan merata. Karena itu, sudah saatnya Gen Z mengkaji Islam secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai ajaran ibadah individual, tetapi juga sebagai sistem kehidupan yang memiliki solusi nyata dalam menjaga nyawa manusia dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Wallahualam bisawab.

[US/HEM]

Baca juga:

0 Comments: