Oleh: Ratty S. Leman
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com—"Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS Al-Isra: 1)
Suasana ibadah haji telah usai. Jemaah haji pun bersiap pulang ke tanah air masing-masing. Namun, bagaimana kabar saudara-saudara kita di Gaza, Palestina? Adakah perubahan keadaan setelah sekitar tiga juta manusia berkumpul dan memanjatkan doa?
Ibadah haji seolah menjadi ritual belaka, urusan pribadi yang tidak memiliki kaitan dengan saudara-saudara muslim lainnya. Padahal, sejatinya inti ibadah haji adalah persatuan umat Islam sedunia, baik saat beribadah maupun di luar ibadah.
Ke manakah umatan wahidah itu? Kini umat Islam tercerai-berai dalam berbagai negara bangsa. Belum ada pemimpin umat yang mampu menyatukan kaum muslim di seluruh dunia. Apakah hal ini telah menjadi prioritas dakwah kita?
Susunlah proposal dakwah agar umat Islam segera bangkit dan melanjutkan kehidupan Islam yang diridai Allah Swt. Semoga semakin banyak umat yang sadar dan menginginkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dengan menjadikan mabda Islam sebagai pedoman hidup, bukan mabda kufur seperti kapitalisme dan sekularisme.
Binallah diri dengan pemikiran dan perasaan yang Islami. Perbanyak menghadiri majelis ilmu agar akal dan perasaan senantiasa diarahkan kepada jalan Al-Qur'an. Setelah memahami Islam, iman, dan ihsan, dakwahkanlah kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat. Semoga mereka mau menerima solusi yang ditawarkan Islam.
Saat berinteraksi dengan masyarakat, akan muncul berbagai respons. Ada yang menerima, ragu-ragu, menolak, bahkan menentang dakwah. Hadapilah semua itu karena memang demikianlah sunatullah dalam perjuangan dakwah. Bersabarlah sebagaimana Rasulullah saw. bersabar saat berdakwah. Selama 13 tahun beliau membina akidah umat hingga akhirnya masyarakat menerima dakwah dan menegakkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.
Nabi Muhammad saw. meminta dukungan para pemimpin di Jazirah Arab agar dakwah Islam memperoleh perlindungan. Dari perjuangan tersebut berdirilah Daulah Islam di Madinah. Di kota inilah umat Islam hidup dalam naungan sistem kehidupan Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Setelah Rasulullah saw. wafat, sistem Daulah Islam dilanjutkan oleh para sahabat. Bahkan, para sahabat mendahulukan pengangkatan khalifah sebelum pengurusan jenazah Rasulullah saw. karena mereka memahami pentingnya keberadaan seorang pemimpin yang mengurus urusan umat sebagai kepala negara.
Kepemimpinan Islam kemudian dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Setelah masa Khulafaur Rasyidin berakhir, kekhilafahan diteruskan oleh Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan Bani Utsmaniyah.
Umat Islam hidup di bawah naungan pemerintahan Islam selama kurang lebih 13 abad dan wilayahnya mencakup sekitar dua pertiga dunia. Kehidupan diatur berdasarkan hukum Allah Swt., yaitu Al-Qur'an, As-Sunah, Ijmak Sahabat, dan Qiyas. Kehidupan yang tenang, tenteram, damai, sejahtera, dan penuh keberkahan terwujud ketika Islam diterapkan secara menyeluruh. Keberkahan memancar dari bumi dan tercurah dari langit. Tidak ada kelaparan, bahkan pernah terjadi masa ketika sulit menemukan orang yang bersedia menerima zakat. Tidakkah kita merindukan kehidupan seperti itu, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur?
Jangan-jangan kita masih ikhlas dan rida hidup di bawah sistem kapitalisme yang kebusukannya semakin tampak hari ini. Sungguh ironis jika seseorang mengaku muslim, tetapi enggan diatur oleh aturan Islam. Islam hanya menjadi identitas dalam kartu tanda penduduk, sedangkan kehidupannya tidak mau diatur oleh syariat Allah Swt.
Apakah orang-orang seperti ini banyak jumlahnya? Sangat banyak. Masyarakat belum memahami bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari urusan individu, masyarakat, hingga negara. Islam merupakan sistem kehidupan yang sempurna. Allah Swt. menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan. Allah pula yang menurunkan petunjuk hidup agar manusia mampu menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi dengan benar serta meraih keselamatan dunia dan akhirat.
Lalu, apa proposal dakwah Anda menjelang Tahun Baru 1448 Hijriah yang bertepatan dengan 16 Juni nanti? Semoga kita tetap istiqamah membina diri sehingga layak menjadi penerus risalah Nabi dan bergabung dalam jamaah dakwah yang memperjuangkan penerapan Islam secara kaffah.
Setelah membina diri dengan ilmu dan perasaan yang sesuai dengan Islam, kita juga harus rajin berdakwah kepada lingkungan sekitar. Jangan malas, ragu, atau takut. Dakwah harus dilakukan dengan kesungguhan, kemantapan, dan keberanian. Dakwah membutuhkan jiwa-jiwa yang meneladani Rasulullah saw., para sahabat, tabi'in, dan tabiut tabi'in. Jadilah dai atau daiah yang menyebarkan dan memahamkan ajaran Islam kepada masyarakat.
Dakwah merupakan tugas sekaligus kewajiban mulia bagi setiap muslim. Tidak pantas bagi seorang muslim mengabaikan, melalaikan, apalagi menolak kewajiban berdakwah.
Di dalam dakwah terdapat kemuliaan yang hanya akan diraih oleh para pengembannya. Karena itu, marilah kita menjadi bagian dari orang-orang yang mengemban amanah dakwah hingga syariat Allah Swt. tegak di muka bumi-Nya.
Bogor, 9 Juni 2026
[My/Iwp]
Baca juga:
0 Comments: