Oleh: Nunik Umma Fayha
(Kontributor SSCQMedia.com)
SSCQMedia.com—Maimoon Herawati dari GSF dalam tayangan Q&A Metro TV, Sabtu malam (6-6-2026), menyebut bahwa gerakan tersebut juga mendekati para pemimpin agama, termasuk Paus, demi menjalankan dan menjaga keberlangsungan misinya. Fakta bahwa mayoritas aktivis GSF bukanlah muslim, tetapi mereka bergerak dengan militansi luar biasa, sungguh mengusik hati.
Rasanya menyakitkan dan seharusnya membuat kita berpikir ulang: sudah tepatkah dan telah cukupkah gerak kita untuk Palestina? Mayoritas rakyat Gaza, Palestina, adalah muslim. Al-Quds juga berkali-kali berhasil dibebaskan oleh tentara muslim dari penjajahan. Namun, kini tidak lagi ada pemimpin umat sebagaimana Paus menjadi pemimpin tertinggi umat Katolik. Tidak ada lagi pemimpin yang memberikan komando pembebasan Palestina dari penjajahan Zionis sebagaimana dahulu dilakukan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi.
Sejatinya, kaum muslim di seluruh dunia harus memiliki militansi yang lebih kuat. Di luar misi kemanusiaan, bagi muslim, Palestina adalah tanah kharajiyah yang direbut dengan darah umat. Tanah yang dijanjikan Allah Swt. dan kelak akan menjadi pusat kebangkitan Islam. Karena itu, pembebasannya merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
Zionisme vs Palestina
Sejak dicetuskan oleh Theodor Herzl pada abad ke-19, gerakan Zionis terus bergerak secara masif menginvasi tanah Palestina, bahkan wilayah yang mereka sebut sebagai Israel Raya. Secara ekstrem, kaum ekspansionis Zionis tidak merasa cukup hanya dengan wilayah Palestina. Mereka menginginkan seluruh wilayah yang terbentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Eufrat di Irak berada dalam genggaman Israel. Hal ini sesuai dengan keyakinan mereka mengenai "tanah yang dijanjikan" sebagaimana disebutkan dalam Alkitab.
Sejak 1948, dunia secara semena-mena telah memberikan hak penguasaan atas tanah Palestina kepada Zionis melalui pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap negara Israel. Sejak saat itu, penderitaan dan aneksasi terus terjadi di Palestina di depan mata dunia hingga hari ini.
Thufan Al-Aqsha yang diawali dengan serangan sistematis ke Israel pada Oktober 2023 merupakan bentuk "teriakan" Palestina atas "diamnya" dunia. Para penguasa negeri muslim yang seharusnya menjadi penjaga kemerdekaan Palestina justru menempatkan diri di bawah hegemoni Amerika Serikat yang dapat disebut sebagai pelindung utama Israel. Amerika Serikat mendukung Israel di berbagai forum internasional, bahkan melalui bantuan persenjataan dan dukungan militer. Negara itu juga menjadi tameng bagi Israel atas berbagai resolusi dan kecaman dunia.
Palestina saat ini, oleh Israel dan Amerika Serikat, dipersempit maknanya hanya menjadi Hamas, sebuah partai yang memegang pemerintahan di Gaza berdasarkan hasil pemilu dan memiliki sayap militer tangguh, Brigade Izzuddin Al-Qassam. Oleh Amerika Serikat dan sekutunya, kelompok ini justru dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris sebagai legitimasi untuk memerangi dan menganeksasi Palestina. Padahal, tanpa Izzuddin Al-Qassam yang militan, Gaza hanyalah wilayah sipil tanpa kekuatan untuk mempertahankan diri.
Palestina Belum Merdeka
Lepasnya Palestina dari Khilafah berawal ketika umat dipaksa memisahkan agama dari urusan kehidupan. Ketika pemimpin pemersatu umat diamputasi dan pemerintahan Islam mengikuti arahan Barat yang di belakangnya terdapat lobi Yahudi. Sungguh benar nasihat Umar bin Khattab:
"Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selainnya, niscaya Allah akan menghinakan kita."
Saat ini, umat muslim hanya unggul dalam jumlah, tetapi lemah dalam kekuasaan dan kemandirian. Bahkan, karena kelemahan tersebut, para penguasa negeri muslim dapat dengan mudah diarahkan oleh Barat melalui penempatan pangkalan militer maupun berbagai kesepakatan politik, seperti Abraham Accords, yang menjadi semacam tali kekang yang membatasi kebebasan gerak mereka.
Telunjuk para penguasa negeri muslim bergerak sesuai arahan para tuan besar mereka. Dalam isu Palestina, mereka kompak menyerukan solusi dua negara dan menyebut Hamas sebagai organisasi teroris, padahal mereka mengetahui kondisi riil Gaza. Mereka memilih untuk menutup mata dan menulikan telinga terhadap berbagai ketidakadilan serta kezaliman yang menimpa rakyat Gaza.
Sungguh, nasihat Umar bin Khattab selalu relevan, yakni bahwa kehinaan akan menimpa siapa pun yang mencari kemuliaan selain dari Allah. Mereka yang lebih memilih rida manusia daripada rida Pemilik Semesta. Tangan mereka seakan dibelenggu untuk menolong saudara-saudaranya di Gaza, Palestina. Lisan mereka lebih fasih mengutuk Hamas daripada memerintahkan militernya membalas serangan Zionis ke Gaza.
Umat tidak membutuhkan pemimpin yang berkhianat, melainkan pemimpin yang menjadi junnah (perisai), tempat umat bersatu menegakkan kalimat Allah dan membebaskan negeri-negeri muslim yang terjajah. Umat membutuhkan penguasa yang menegakkan syariat dan tidak takut mengguncang dunia dengan kebenaran. Membebaskan Palestina tidak cukup dilakukan dari belakang meja atau melalui teriakan di mimbar PBB, melainkan oleh penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk memimpin jihad melawan kebengisan Zionis dan seluruh kekuatan yang mendukungnya.
Semoga Allah Swt. meridai setiap ikhtiar kita dalam mencita-citakan kembalinya kehidupan Islam yang menghapus penjajahan di muka bumi dengan kemuliaan Islam.
Wallahualam bissawab. [ry/Iwp]
Baca juga:
Tak ada gading yang tak retak
BalasHapusSetiap perjuangan pasti butuh persatuan, semoga umat semakin menyadari apa yang membuatnya lemah, kemudian memperbaikinya untuk berjuang mewujudkan janjiNya
AllahuAkbar