Oleh: Orangezhy
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Langit tampaknya akan sangat cerah hari ini. Langsung kuambil seember penuh pakaian untuk dicuci. Begitulah aktivitas harianku di rumah. Aku selalu menunggu matahari benar-benar cerah sebelum mencuci, karena jika cuaca mendung, pakaian bisa berbau apek.
Kusiapkan ember berisi air yang kutimba sendiri. Alhamdulillah, airnya tidak kuning lagi setelah kuberi obat penjernih. Aman juga karena bukan kaporit.
Satu, dua, tiga, empat ember penuh air.
Kutarik napas panjang karena kelelahan. Pinggangku terasa perlu diluruskan setelah bolak-balik mengangkat ember.
Kutarik kursi kecil, lalu mulai menyikat pakaian satu per satu. Beberapa pakaian yang tidak terlalu kotor hanya kukucek sekadarnya karena hanya berbau keringat. Setelah itu, kulanjutkan membilas pakaian menggunakan ember pertama, kedua, dan ketiga.
Sebelum menjemur, kupakai dulu kaus kaki, gamis, dan kerudung khusus untuk di rumah. Ember berisi cucian kuangkat ke depan rumah sambil berpikir, muatkah jemuran untuk semua pakaian ini?
Setelah semua pakaian selesai dijemur, kulepas kaus kaki, kerudung, dan gamis yang basah. Semuanya kujemur di belakang rumah.
Aku masih terengah-engah. Kuraih botol minum. Haus dan lapar mulai terasa karena sejak pagi belum sempat sarapan.
Kubuka kulkas. Kucari ke sana kemari, tetapi sepertinya tidak ada makanan yang menarik. Akhirnya aku memutuskan menggoreng ikan asin. Sebagai pelengkap, kusiapkan cabai, bawang, dan tomat untuk diulek. Tinggal ditambah garam dan sedikit minyak.
Duh, nikmat mana lagi yang harus didustakan?
Nafsu makanku langsung bangkit. Biasanya setelah selesai mencuci, aku harus beristirahat sekitar satu jam. Sebenarnya di rumah ada mesin cuci, tetapi hanya satu orang yang bisa mengoperasikannya. Padahal aku hanya membutuhkan fungsi pengeringnya. Tanpa bantuan orang itu, aku harus mengutak-atik kabel lagi. Yang ada malah korsleting nanti.
Aku lalu berniat membuat jamu. Kuambil kunyit, asam jawa, dan gula merah. Setelah diblender dan disaring, semuanya kumasak hingga mendidih. Setelah dingin, barulah kumasukkan ke dalam botol.
Saat itulah Mamak nyeletuk.
“Tau jadi tukang jamu, enggak usah dikuliahkan tinggi-tinggi,” kata Mamak sambil bercanda.
“Kalau saja ayahku CEO, mana mungkin aku jual jamu? Aku sudah jadi direktur, Mak,” jawabku sambil tersenyum.
Aku tidak terlalu memasukkan perkataan Mamak ke dalam hati. Namun, memang benar bahwa saat ini banyak orang tua berharap anaknya yang sudah sarjana setidaknya bisa menjadi karyawan kantoran.
Ah, entah sudah berapa kali aku mengikuti seleksi CPNS dan tidak pernah lolos. Anehnya, aku justru bersyukur tidak lolos. Tidak terbayang jika lolos, mungkin aku harus mengambil kredit bank atau memenuhi berbagai tuntutan lainnya. Belum lagi menjadi incaran laki-laki yang hanya ingin menumpang hidup.
Sudahlah. Begini saja ternyata lebih tenang, meskipun harus mendengar omelan Mamak yang tidak ada habisnya.
Sekarang, mau kamu lulusan sarjana dengan nilai setinggi apa pun, dari kampus sebagus apa pun, sering kali orang bertanya, “Ada orang dalam atau tidak?”
Lihat saja para pejabat. Banyak anggota keluarganya yang berada di berbagai instansi dan proyek. Kadang aku bertanya-tanya, apakah mereka lupa janji untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat luas, bukan hanya bagi kerabat sendiri?
Pernahkah mereka memikirkan para pemuda yang kesulitan mencari pekerjaan hingga akhirnya menyimpan ijazah sarjana mereka dan bekerja sebagai petani, tukang becak, juru parkir, nelayan, atau buruh?
Mencari pekerjaan sekarang rasanya sering kali tidak masuk akal. Seperti kata Mbak Agnes, syaratnya panjang sekali: usia maksimal sekian tahun, berpenampilan menarik, pendidikan minimal sarjana, memiliki pengalaman kerja, mampu mengoperasikan komputer, bisa mengendarai motor, dan siap bekerja di bawah tekanan.
Gajinya kecil, tetapi syaratnya setinggi langit.
Belum lagi lapangan pekerjaan tertentu lebih banyak dibuka untuk perempuan. Lalu laki-laki harus bagaimana?
Menjaga anak? Memasak? Membersihkan rumah?
Ini bukan Korea. Ini Konoha.
Menurutku, ketika seorang laki-laki merasa kehilangan peran dan penghargaan dalam keluarganya, berbagai persoalan rumah tangga bisa muncul. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap ketahanan keluarga. Dimulai dari peran ayah dan ibu yang berjalan sebagaimana mestinya.
Tugas ayah bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga mendidik anak dan membimbing keluarganya. Ayah memiliki tanggung jawab menetapkan aturan yang baik dalam rumah tangga dan menjaga keluarganya dari berbagai pengaruh buruk.
Namun, hari ini perempuan yang bekerja sering dianggap lebih membanggakan. Sebaliknya, perempuan yang sudah sarjana tetapi memilih tinggal di rumah kerap dianggap menyia-nyiakan pendidikan. Mungkin itulah sebabnya aku sering menjadi bahan pembicaraan tetangga.
Belum lagi berbagai pernyataan para pemimpin yang kadang membuat rakyat hanya bisa tersenyum pahit.
Semoga masyarakat semakin cerdas dalam melihat berbagai persoalan dan mampu memaksimalkan fungsi akalnya dalam menilai keadaan di sekitarnya. [My/AA]
Baca juga:
0 Comments: