Headlines
Loading...
Luka Anak-anak Gaza dan Kewajiban Umat

Luka Anak-anak Gaza dan Kewajiban Umat

Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)

SSCQMedia.com—Di tengah reruntuhan bangunan yang dahulu menjadi rumah, sekolah, dan tempat bermain, ada suara yang hilang, yaitu suara anak-anak. Bukan karena mereka tak ingin berbicara, melainkan karena luka yang terlalu dalam telah merenggut kemampuan mereka untuk bersuara. Gaza hari ini bukan sekadar wilayah konflik; ia adalah ruang sunyi yang dipenuhi jeritan yang tak terdengar.

Fakta yang disampaikan oleh psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, kepada BBC begitu mengguncang nurani. Ia menyatakan bahwa hampir setiap anak di Gaza mengalami trauma berat. Bahkan, lebih dari satu juta anak telah menderita trauma parah akibat serangan yang terus berlangsung (BBCIndonesia.com, 29/05/2026).

Lebih memilukan lagi, sebagian anak-anak tersebut kehilangan kemampuan berbicara. Mereka mendadak bisu, bukan karena gangguan fisik, melainkan akibat tekanan psikologis yang melampaui batas kemampuan jiwa manusia (DetikNews.com, 30/05/2026).

Hal serupa juga dilaporkan oleh Kompas yang menggambarkan betapa penderitaan ekstrem telah melumpuhkan ekspresi dasar anak-anak, yaitu berbicara (Kompas.com, 30/05/2026).

Fenomena ini bukan sekadar krisis kemanusiaan biasa. Ia merupakan indikasi nyata dari kehancuran sistematis, baik secara fisik maupun mental. Trauma yang menyebabkan anak kehilangan kemampuan berbicara menunjukkan bahwa kekerasan yang mereka alami telah menembus batas terdalam kemanusiaan. Ini bukan lagi sekadar perang, melainkan sebuah proses penghancuran generasi, sebuah genosida yang terstruktur.

Pandangan Islam

Allah Swt. telah memperingatkan tentang kezaliman yang melampaui batas. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 11–12 disebutkan:

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi!' Mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar."

Ayat ini menggambarkan bagaimana kezaliman sering kali dibungkus dengan narasi pembenaran. Dunia hari ini menyaksikan bagaimana kejahatan terhadap Gaza terus berlangsung, sementara para pelakunya berlindung di balik dalih keamanan dan kepentingan politik.

Lebih jauh, Rasulullah saw. bersabda:

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa membiarkan kezaliman terjadi tanpa upaya untuk menghentikannya merupakan bentuk kelalaian yang tidak dibenarkan dalam Islam.

Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa dunia, termasuk negeri-negeri Muslim, belum mampu menghentikan penderitaan tersebut secara nyata. Bantuan kemanusiaan memang ada, tetapi hanya menyentuh permukaan dan belum menyelesaikan akar persoalan, yaitu penjajahan.

Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Derita anak-anak Gaza tidak cukup diselesaikan dengan terapi psikologis semata. Luka mereka bukan hanya luka individu, melainkan luka kolektif akibat penjajahan yang terus berlangsung. Selama akar penjajahan tidak dicabut, trauma akan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Islam menawarkan solusi yang bersifat mendasar dan menyeluruh. Dalam konsep Islam, penjajahan adalah kezaliman yang wajib dihapuskan. Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 75:

"Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak...."

Ayat ini secara tegas memerintahkan pembelaan terhadap mereka yang tertindas, termasuk anak-anak. Ini bukan sekadar seruan moral, melainkan kewajiban yang memiliki dimensi politik dan militer.

Dalam sejarah Islam, institusi khilafah berperan sebagai pelindung umat. Institusi ini bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan mekanisme nyata untuk menjaga kehormatan dan keselamatan kaum Muslim. Ketika ada satu wilayah Muslim yang diserang, seluruh kekuatan negara digerakkan untuk melindunginya.

Ketiadaan institusi ini pada hari ini menjadi salah satu faktor mengapa penderitaan Gaza terus berlanjut tanpa penyelesaian yang tuntas. Umat kehilangan perisai yang dahulu melindungi mereka. Akibatnya, respons yang muncul cenderung parsial, tidak terkoordinasi, dan tidak memiliki kekuatan strategis untuk menghentikan agresi.

Penutup

Solusi atas derita sunyi anak-anak Gaza harus melampaui pendekatan kemanusiaan semata. Ia membutuhkan kesadaran politik umat, persatuan global kaum Muslim, serta upaya serius untuk menghadirkan kembali sistem yang mampu melindungi mereka secara nyata.

Namun demikian, perjuangan ini tidak boleh dimaknai secara sempit ataupun emosional semata. Ia harus dilandasi pemahaman yang benar, strategi yang matang, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin. Perjuangan untuk membebaskan Palestina bukan hanya tentang wilayah, melainkan tentang menegakkan keadilan dan menghapus kezaliman.

Anak-anak Gaza yang hari ini terdiam sejatinya sedang "berbicara" kepada dunia melalui luka mereka, melalui tatapan kosong mereka, dan melalui sunyi yang mereka alami. Pertanyaannya, apakah dunia mau mendengar?

Ataukah kita akan terus membiarkan sunyi itu menjadi saksi bisu atas kegagalan kita sebagai manusia? [Rn/PR]

Baca juga:

0 Comments: