Headlines
Loading...
Global Sumud Flotilla Kembali Jadi Korban

Global Sumud Flotilla Kembali Jadi Korban

Oleh: Hana Salsabila A.R.
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQMedia.com—Palestina belum selesai!

Sekelompok aktivis kemanusiaan yang sempat menghebohkan dunia karena keberanian mereka hingga akhirnya ditangkap oleh Zionis pada pertengahan tahun 2025 lalu, yakni para aktivis yang dikenal sebagai Global Sumud Flotilla, kini kembali berlayar menuju Gaza untuk menjalankan misi kemanusiaan. Sebanyak 54 kapal sipil membawa bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina yang hingga kini masih berada dalam kepungan dan penderitaan. (YLBHI.or.id, 21/5/2026)

Sayangnya, tragedi penangkapan kembali terjadi. Kali ini, di antara para aktivis tersebut terdapat sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang turut ditangkap sebelum akhirnya dilaporkan telah dibebaskan dan menjalani proses kepulangan ke negara masing-masing. Sehari sebelum kepulangan para aktivis, Menteri Luar Negeri Sugiono mengklaim bahwa tindakan terhadap aktivis Global Sumud Flotilla, termasuk sembilan WNI tersebut, bukanlah kasus penculikan maupun penyanderaan, melainkan hanya tindakan intercept. (Kompas.com, 20/5/2026)

Padahal, kesaksian para aktivis menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar ditangkap, tetapi juga mengalami berbagai bentuk kekerasan yang dilakukan oleh tentara Zionis. Salah seorang korban, Rahendro Herubowo, mengaku mengalami penyiksaan selama berada dalam tahanan, seperti ditendang berkali-kali hingga disetrum. Bahkan, sejumlah laporan media internasional menyebut adanya berbagai bentuk kekerasan serius, termasuk kekerasan seksual, penembakan dengan peluru karet dari jarak dekat, serta korban yang mengalami patah tulang akibat perlakuan tersebut.

Lantas, mengapa seorang Menteri Luar Negeri Indonesia berani menyatakan bahwa tindakan Zionis tersebut bukan penyanderaan maupun penyiksaan? Sementara itu, berbagai media internasional dan sejumlah pemimpin negara lain secara terbuka mengungkapkan betapa mengerikannya tragedi yang menimpa warga negara mereka.

Tragedi Sumud Flotilla yang terus berulang semakin menunjukkan bahwa Zionis tidak pernah menginginkan perdamaian. Padahal, yang dilakukan para aktivis hanyalah mengirimkan bantuan kemanusiaan. Di sisi lain, penjajahan terhadap Palestina masih terus berlangsung hingga saat ini, sementara banyak pemimpin dunia memilih diam daripada mengambil tindakan yang berisiko terhadap kepentingan dan keamanan mereka sendiri.

Peristiwa Sumud Flotilla semakin memperjelas bahwa kebiadaban Zionis tidak pandang bulu. Korbannya bukan hanya warga sipil Palestina, tetapi juga para aktivis kemanusiaan yang datang membawa bantuan dan harapan.

Ketika kebiadaban hanya dilawan dengan kesabaran dan kecaman, yang lahir adalah penjajahan yang semakin brutal dan semena-mena. Zionis menjadi contoh bagaimana kejahatan yang terus dilindungi dan dibiarkan akan semakin rakus menggerogoti korbannya, terutama umat Islam. Negara adidaya kapitalis seperti Amerika Serikat terus memberikan perlindungan terhadap eksistensi penjajahan yang dilakukan Zionis Israel. Sementara itu, dunia Islam tampak belum menunjukkan langkah yang mampu menghentikan tragedi kemanusiaan tersebut secara nyata.

Keberadaan Zionis akan terus bertahan selama negara-negara pendukungnya masih memberikan perlindungan politik, ekonomi, maupun militer. Dalam pandangan Islam, penjajahan merupakan bentuk kezaliman yang harus dihilangkan. Syariat Islam juga mewajibkan penjagaan terhadap darah dan jiwa manusia, terlebih terhadap sesama Muslim.

Allah Swt. berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

"Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Sungguh, rasul-rasul Kami telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas, tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi." (QS. Al-Ma'idah: 32)

Selain menghapus penjajahan, Islam juga memiliki aturan dan batasan dalam peperangan, termasuk larangan menyerang warga sipil. Para pemimpinnya dituntut memiliki keberanian dan semangat menjaga kehormatan umat. Hal ini sangat berbeda dengan sistem kapitalisme yang menjadikan kepentingan dan keuntungan sebagai pertimbangan utama, bahkan ketika nilai kemanusiaan harus dikorbankan.

Karena itu, menurut pandangan Islam, diperlukan kepemimpinan yang benar-benar menjaga jiwa manusia dan menegakkan keadilan agar berbagai bentuk penjajahan dapat diakhiri. Wallahu a'lam. [My/Des]

Baca juga:

0 Comments: