Headlines
Loading...

Oleh: Isty Da'iyah
(Kontributor SSCQMedia.Com)

SSCQMedia.Com—Tidak semua orang hari ini beruntung bisa berada di Padang Arafah. Tidak semua orang dipanggil untuk berdoa di antara lautan manusia berbaju putih sambil menangis memohon langsung kepada Allah Swt. Namun, hari ini kita sama-sama menjalani Hari Arafah.

Bagiku, ada satu hari beberapa tahun lalu yang benar-benar membuat haru, ketika saat itu aku bisa berdoa dan berdiri di Padang Arafah.

Sampai hari ini, saya masih sulit menjelaskan suasananya dengan kata-kata. Panas, cuacanya sangat panas. Jutaan manusia berkumpul di sana. Semua memakai pakaian yang hampir sama. Tidak ada yang terlihat lebih kaya, lebih hebat, lebih cantik, atau lebih penting. Yang ada hanyalah manusia sebagai hamba yang meminta kepada Sang Maha Segala.

Hari itu saya melihat sesuatu yang sangat menampar hati. Ada orang tua yang menangis sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. Ada yang membaca Al-Qur'an sambil sesenggukan. Ada sepasang suami istri yang duduk di tanah lapang dengan air mata berlinang. Ada yang duduk diam sambil menunduk lama sekali. Ada yang berdoa dengan suara bergetar seperti orang yang benar-benar hancur di hadapan Allah.

Saat itu saya benar-benar paham mengapa Rasulullah saw. bersabda,

"Haji itu adalah Arafah."
(HR Tirmidzi)

Karena inti dari Arafah bukan sekadar berkumpul, tetapi tentang hati yang benar-benar tunduk kepada Allah. Ada pejabat, ada orang biasa, ada yang kaya, ada pula yang sederhana. Ada yang berkulit hitam dan ada yang berkulit putih. Namun, di Arafah semua sama: menangis dan berdoa dengan cara yang sama.

Semua berharap rahmat Allah dengan cara yang sama. Sebab, dalam hidup ini yang paling mahal bukanlah status, jabatan, ataupun popularitas, melainkan hati yang masih bisa menangis di hadapan Allah.

Allah Swt. berfirman,

"Kemudian bertolaklah kalian dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah), dan mohonlah ampun kepada Allah."
(QS Al-Baqarah [2]: 199)

Perhatikan, bahkan setelah ibadah sebesar haji pun Allah masih memerintahkan manusia untuk meminta ampun. Maknanya, semakin dekat seseorang kepada Allah, biasanya justru semakin merasa banyak dosanya, bukan semakin sombong dan merasa suci.

Dari pengalaman haji itu saya belajar satu hal lagi. Di Arafah, tidak ada manusia yang benar-benar kuat. Semua merasa lemah dan memiliki luka. Semua punya dosa. Ada yang menyimpan ketakutan, tetapi semuanya berharap satu hal, yaitu ampunan.

Hari Arafah sebenarnya bukan hanya tentang jemaah haji, melainkan tentang rahmat Allah bagi setiap manusia yang mau memohon pada hari yang istimewa ini.

Di Padang Arafah saya belajar bahwa semakin manusia merasa kecil di hadapan Allah, biasanya hidupnya justru semakin besar maknanya. Ia mampu menebar manfaat dan makna yang lebih luas dalam setiap detik kehidupannya.

Oleh karena itu, jika hari ini kita tidak berada di Padang Arafah, di rumah pun kita bisa ikut mendapatkan keberkahannya. Hari Arafah telah datang, jangan lewatkan begitu saja. Perbanyak doa, istigfar, dan zikir. Perbanyak meminta kepada Allah.

Hari Arafah bukan hari untuk bermalas-malasan. Bukan hari untuk sibuk dengan urusan dunia semata. Bukan pula hari untuk tenggelam dalam gemerlap kehidupan yang sementara.

Hari Arafah adalah hari yang agung dan mulia. Hari pembebasan dari api neraka. Hari ketika air mata tobat lebih dicintai daripada gemerlap dunia. Hari ketika doa-doa yang lama terpendam diangkat tinggi ke langit.

Maka, jangan lewatkan hari itu dengan hati yang kosong. Perbanyak istigfar, perbanyak zikir, dan perbanyak doa.

Menangislah, meskipun tidak ada seorang pun yang melihatmu. Karena bisa jadi, itulah saat ketika namamu disebut sebagai hamba yang masih diberi kesempatan untuk kembali kepada Allah.

Mungkin kita hanya bisa diam-diam menangis saat melihat siaran langsung Arafah karena begitu ingin menjadi tamu Allah. Namun, di saat jutaan manusia sedang wukuf di Arafah, ada amalan yang Allah siapkan bagi kita yang tidak berhaji, yaitu puasa Arafah.

Rasulullah saw. bersabda,

"Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang."
(HR Muslim)

Semoga dosa yang kita sembunyikan, tangisan yang tidak pernah diketahui orang lain, serta kesalahan yang terus menghantui hati, semuanya Allah gugurkan hanya karena satu hari puasa yang dilakukan dengan iman dan mengharap rida-Nya.

Hari Arafah bukan hanya tentang mereka yang berada di Makkah. Hari Arafah juga tentang kita yang masih penuh dosa, tetapi masih diberi kesempatan untuk bertobat. Tentang kita yang doanya belum terkabul, tetapi masih mau mengetuk pintu langit. Tentang kita yang hidupnya penuh ujian, tetapi masih berharap pahala dan rahmat dari Allah.

Hari ini bukan hari biasa. Jangan sia-siakan. Bisa jadi, hari ini adalah hari ketika Allah mengampuni dosa-dosa kita. Hari ketika doa yang lama terpendam akhirnya diijabah. Hari ketika hati yang lelah akhirnya dipeluk oleh rahmat Allah.

Kalau belum bisa wukuf di Arafah, setidaknya jangan sampai kehilangan keberkahan Hari Arafah.

Karena bisa jadi, ada doa yang selama ini tertahan, lalu Allah kabulkan pada Hari Arafah.

Ketika tahun ini Allah masih mempertemukan kita dengan Hari Arafah, jangan disia-siakan. Sebab, tidak semua orang yang bertemu Hari Arafah tahun lalu masih hidup hari ini.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Semoga Allah mengabulkan doa-doa terbaik kita. Dan semoga suatu hari nanti Allah benar-benar memanggil kita menjadi tamu-Nya di Tanah Suci.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Wallahu a'lam.

[My/HEM]


Baca juga:

0 Comments: