Headlines
Loading...
Dedolarisasi, Peluang Mengakhiri Dominasi Adidaya

Dedolarisasi, Peluang Mengakhiri Dominasi Adidaya

Oleh: Afiynoor, S.Kom
(Aktivis Dakwah Surabaya)

SSCQMedia.com—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah hingga menyentuh angka 18.020 pada Kamis (4/6/2026). Sentimen negatif terhadap kebijakan Presiden Prabowo juga memengaruhi pasar saham, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun hampir 2 persen. Pelemahan IHSG terjadi seiring dengan melemahnya rupiah yang menyentuh titik terendah. Seberapa besar pengaruh dolar terhadap perekonomian sebuah negara hingga mampu memengaruhi stabilitas ekonominya?

Saat ini, dolar Amerika Serikat merupakan mata uang yang digunakan sebagai alat perdagangan global. Sejak Konferensi Bretton Woods pada tahun 1944, sebanyak 44 negara menyepakati dolar sebagai pusat sistem moneter internasional, menggantikan posisi pound sterling. Selama lebih dari delapan dekade sejak perjanjian tersebut, dolar AS berdiri kokoh sebagai mata uang utama dalam sistem keuangan global.

Dominasi ini memberikan hak istimewa yang sangat besar bagi Amerika Serikat yang dikenal sebagai exorbitant privilege, di mana Washington mampu mengendalikan arus likuiditas internasional dan menggunakan sanksi ekonomi sebagai instrumen geopolitik. Dana Moneter Internasional (IMF) juga menyatakan bahwa dolar mencakup sekitar separuh cadangan devisa dunia dan mendominasi transaksi keuangan internasional. Hal ini menunjukkan kuatnya posisi dolar sebagai mata uang global.

Mengapa hal ini terjadi? Karena dolar merupakan mata uang negara adidaya, yaitu Amerika Serikat. Tentu saja, Amerika Serikat menggunakan dolar sebagai alat kekuasaan untuk meneguhkan dominasinya di dunia. Dengan demikian, dolar tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar perdagangan, tetapi juga menjadi simbol kekuasaan, di mana perdagangan dunia, cadangan devisa, dan pembayaran utang luar negeri banyak menggunakan dolar. Tidak mengherankan jika dolar memiliki kekuatan yang sangat besar karena didukung oleh negara adidaya yang mendominasi.

Namun, dominasi ini sesungguhnya tidak berlangsung selamanya. Fenomena dedolarisasi, yaitu gerakan global untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam transaksi internasional dan cadangan devisa, kini mulai menjadi realitas. Fenomena ini terutama terlihat sejak munculnya kerja sama negara-negara seperti Tiongkok dan Rusia melalui BRICS.

Sejumlah negara seperti Iran dan Rusia mulai mengembangkan mekanisme perdagangan alternatif dengan menggunakan mata uang lokal, emas fisik untuk memperkuat cadangan devisa, atau mata uang lain seperti yuan.

Langkah dedolarisasi juga terlihat dalam berbagai dinamika geopolitik, termasuk ketegangan di kawasan Selat Hormuz antara Iran dan Amerika Serikat. Penggunaan yuan Tiongkok atau petroyuan, serta penggunaan bitcoin atau mata uang kripto sebagai sistem pembayaran alternatif, menunjukkan bahwa pergeseran kekuatan ekonomi global sedang berlangsung.

Tiongkok memanfaatkan posisinya dalam rantai pasok energi global untuk memperluas penggunaan mata uang yuan dalam transaksi minyak mentah oleh negara-negara produsen dan pembeli. Mekanisme ini dilakukan dengan mengalihkan pembayaran ke yuan agar transaksi tetap berjalan tanpa bergantung pada sistem kliring Amerika Serikat (SWIFT).

Fenomena ini menunjukkan adanya upaya untuk mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat dalam perdagangan dunia. Bahkan, sebagian pihak menilai hal ini dapat menjadi awal pergeseran kekuatan ekonomi global. Hal ini karena dominasi mata uang selalu mengikuti siklus sejarah, seiring perubahan kekuatan ekonomi dan politik yang menopangnya.

Pada masa lalu, dunia pernah menggunakan emas dan perak sebagai standar mata uang. Sistem tersebut dinilai lebih stabil karena memiliki nilai intrinsik yang nyata. Berbeda dengan uang fiat, yang nilainya bergantung pada kepercayaan publik dan kebijakan ekonomi.

Dolar sendiri termasuk uang fiat sejak keputusan Presiden Richard Nixon yang menghentikan keterkaitan dolar dengan emas. Sejak saat itu, sistem uang fiat digunakan secara luas. Namun, sebagian pihak menilai bahwa sejak sistem ini diberlakukan, krisis ekonomi, inflasi, dan fluktuasi nilai mata uang menjadi lebih sering terjadi.

Kerentanan sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan mata uang sebagai komoditas sekaligus alat dominasi dianggap sebagai bukti bahwa sistem tersebut rentan terhadap krisis. Bahkan, sistem ini dinilai dapat digunakan sebagai instrumen penguasaan ekonomi suatu negara melalui mekanisme utang luar negeri yang juga berbasis dolar.

Sudah saatnya dunia mempertimbangkan alternatif sistem moneter yang memiliki nilai riil untuk mengurangi berbagai krisis ekonomi. Namun, hal tersebut juga harus diiringi dengan perubahan sistem ekonomi yang tidak menjadikan mata uang sebagai alat spekulasi dan kekuasaan.

Selama uang dapat dicetak tanpa batas, inflasi, spekulasi, dan ketimpangan ekonomi akan terus menjadi bagian dari sistem global. Oleh karena itu, solusi mendasar terhadap krisis moneter global bukan hanya mengganti mata uang dominan dari dolar ke mata uang lain, melainkan mengembalikan sistem moneter pada standar nilai yang nyata dan terbatas, yaitu emas dan perak. Selain itu, diperlukan pula upaya untuk mengurangi dominasi negara adidaya dalam sistem ekonomi global yang dinilai turut memengaruhi ketimpangan ekonomi dunia. [My/AA]

Baca juga:

0 Comments: