Ambisi Zionis yang Tak Pernah Padam atas Palestina
Oleh: Ummu Fahhala
(Pegiat Literasi)
SSCQMedia.Com—Entitas Zionis terus menggempur Gaza tanpa mengindahkan seruan gencatan senjata. Serangan tidak berhenti, bahkan meluas ke wilayah lain. Serangan ke Lebanon terjadi hanya sehari setelah kesepakatan damai diumumkan (Metrotvnews.com, 5 Juni 2026).
Pada saat yang sama, citra satelit menunjukkan pembangunan pos militer baru di Gaza yang mengindikasikan adanya ekspansi berkelanjutan (Aljazeera.com, 3 Juni 2026).
Selain itu, ribuan unit permukiman baru di Tepi Barat terus dibangun. Langkah ini dinilai mempercepat penguasaan wilayah Palestina hingga mendekati 70 persen (Antaranews.com, 5 Juni 2026).
Tindakan simbolik juga semakin terlihat. Pengibaran bendera Israel di kompleks Masjid Al-Aqsa menunjukkan klaim kekuasaan yang semakin terang-terangan. Bahkan, isu pengambilalihan hak pengelolaan kawasan tersebut dari Yordania turut mencuat (CNNIndonesia.com, 5 Juni 2026).
Terlihat adanya pola yang jelas. Serangan militer, ekspansi permukiman, dan simbol-simbol penguasaan berjalan dalam satu garis yang sama. Semuanya mengarah pada perubahan peta kekuasaan secara permanen. Karena itu, persoalan ini tidak lagi sekadar konflik biasa, melainkan bagian dari proyek jangka panjang.
Pengamat Timur Tengah dari berbagai lembaga riset internasional menilai langkah-langkah tersebut sebagai strategi bertahap untuk mengunci wilayah Palestina. Mereka menegaskan bahwa pembangunan permukiman dan penguasaan situs-situs suci memiliki dampak politik yang sangat besar.
Berbagai laporan media internasional sepanjang Juni 2026 juga menunjukkan meningkatnya intensitas operasi militer dan perubahan struktur wilayah yang mengarah pada strategi terencana. Fakta-fakta ini memperkuat dugaan bahwa kebijakan yang dijalankan tidak bersifat reaktif, melainkan sistematis.
Ambisi membangun wilayah kekuasaan yang lebih luas tampak semakin nyata. Gaza dihancurkan melalui kekuatan militer, sementara Tepi Barat dipenuhi permukiman-permukiman baru. Data mengenai ribuan warga yang hilang semakin memperlihatkan besarnya skala tragedi kemanusiaan yang terjadi (Hidayatullah.com, 5 Juni 2026).
Lebih jauh lagi, tindakan tersebut mencerminkan bentuk kekerasan yang melampaui batas-batas kemanusiaan. Dunia menyaksikan kehancuran yang terjadi, tetapi respons global tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami rakyat Palestina. Dukungan dari negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat, semakin memperkuat posisi entitas Zionis. Narasi solusi dua negara terus didorong, tetapi realitas di lapangan justru bergerak ke arah yang berlawanan.
Penderitaan rakyat Palestina pun tak kunjung berakhir. Salah satu penyebabnya adalah lemahnya persatuan dunia Islam. Setiap negara berjalan dengan kepentingannya masing-masing. Kepentingan nasional sering kali mengalahkan kepedulian terhadap nasib umat secara kolektif. Akibatnya, tidak ada kekuatan yang mampu menghentikan agresi secara nyata.
Sebaliknya, sebagian kebijakan justru dinilai sejalan dengan agenda yang merugikan Palestina. Dukungan terhadap berbagai skema politik yang tidak menyentuh akar persoalan hanya memperpanjang konflik. Umat terus menyaksikan luka yang sama berulang kali, tetapi respons kolektif belum pernah mencapai titik yang benar-benar menentukan.
Solusi Islam
Islam menawarkan jalan yang berbeda. Islam menempatkan persatuan umat sebagai sumber kekuatan utama. Allah Swt. berfirman:
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." (QS. Ali Imran: 103).
Ayat ini menegaskan pentingnya persatuan sebagai fondasi kekuatan umat.
Rasulullah saw. juga bersabda:
"Imam (khalifah) adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan pentingnya kepemimpinan dalam menjaga umat dan melindungi wilayahnya.
Dalam sejarah Islam, para khalifah mengirim pasukan untuk menjaga kehormatan dan keamanan wilayah Islam. Khalifah Umar bin Khaththab berhasil membuka Baitul Maqdis dengan cara yang menjaga kehormatan penduduknya. Berabad-abad kemudian, Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan kembali wilayah tersebut setelah masa penjajahan yang panjang.
Sejarah juga menunjukkan bahwa persatuan politik mampu menghapus sekat-sekat wilayah yang memecah kekuatan umat. Kepemimpinan tunggal menyatukan berbagai potensi yang dimiliki kaum muslim. Tidak ada batas-batas nasional yang menghalangi persatuan tersebut. Semua bergerak menuju tujuan yang sama.
Refleksi
Gagasan persatuan umat dalam bentuk kepemimpinan global menjadi refleksi penting pada masa kini. Konsep ini menempatkan tanggung jawab perlindungan umat pada satu otoritas yang memiliki kewenangan penuh. Dengan demikian, keputusan tidak terpecah dan respons terhadap berbagai ancaman dapat dilakukan secara cepat dan terarah.
Kepemimpinan yang kuat juga diyakini mampu menghentikan berbagai bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan umat. Perlindungan terhadap wilayah-wilayah suci dan keselamatan kaum muslim akan menjadi prioritas utama. Dalam kerangka inilah pembebasan Palestina dipandang bukan sekadar wacana, melainkan tanggung jawab yang harus diwujudkan secara nyata.
Wallahu a'lam bishshawab. [US/PR]
Baca juga:
0 Comments: