Oleh: Resti Ummu Faeyza
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQMedia.com—Iduladha selalu menghadirkan kisah agung tentang Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., kisah yang bukan sekadar cerita pengorbanan seorang ayah terhadap anaknya. Lebih dari itu, Iduladha adalah simbol puncak ketaatan kepada Allah Swt. Ketaatan yang tidak ditawar oleh kepentingan pribadi, hawa nafsu, ataupun tekanan keadaan.
Di tengah kondisi dunia hari ini, pesan Iduladha menjadi sangat relevan, terutama ketika kehidupan politik dan pemerintahan manusia semakin jauh dari tuntunan syariat Allah. Banyak negeri muslim justru dilanda berbagai krisis: korupsi merajalela, hukum tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas, kemiskinan meningkat, utang negara menumpuk, dan kebijakan sering kali lebih berpihak pada kepentingan elite dibandingkan rakyat.
Indonesia menjadi salah satu negeri yang sedang dilanda krisis tersebut akibat kepatuhannya pada penguasa global kapitalisme. Rakyat mesti bersaing dengan negaranya sendiri dalam meraih penghidupan yang layak. Sebagai contoh, hasil alam rakyat sering berbenturan dengan kebijakan impor yang dikuasai pemerintah sehingga kehidupan rakyat semakin sulit akibat ketidakberpihakan pemerintah. Impor bahan baku Indonesia bahkan mencapai 70 persen (BBC.com, 16 Mei 2026).
Ironisnya, kondisi seperti itu juga terjadi di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Azan berkumandang, masjid berdiri megah, dan perayaan hari besar Islam berlangsung meriah, tetapi nilai-nilai syariat justru disingkirkan dari pengaturan kehidupan. Agama sering dipersempit hanya menjadi urusan ibadah pribadi, sementara politik, ekonomi, pendidikan, dan hukum diserahkan kepada sistem buatan manusia.
Padahal, Iduladha mengajarkan bahwa keberkahan hanya lahir dari ketaatan total kepada Allah, bukan ketaatan setengah-setengah. Nabi Ibrahim tidak memilih-milih perintah Allah. Ketika diperintahkan menyembelih Ismail, beliau tidak berkata, “Saya taat dalam ibadah, tetapi tidak dalam urusan keluarga.” Ismail pun tidak membangkang dengan alasan hak asasi atau kebebasan pribadi.
Keduanya tunduk sepenuhnya karena yakin bahwa hukum Allah pasti benar dan membawa kebaikan. Di sinilah letak pelajaran politik Iduladha. Jika individu saja diperintahkan tunduk kepada syariat Allah, negara dan penguasa pun semestinya tunduk kepada aturan-Nya. Sebab, Allah bukan hanya Tuhan untuk masjid dan sajadah, tetapi Rabb seluruh kehidupan manusia.
Sayangnya, politik modern hari ini justru dibangun di atas prinsip sekularisme, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, halal dan haram tidak lagi menjadi standar dalam membuat kebijakan. Selama dianggap menguntungkan secara ekonomi atau politik, banyak aturan tetap dijalankan meskipun bertentangan dengan syariat.
Riba dilegalkan dan menjadi fondasi ekonomi. Pergaulan bebas dianggap sebagai hak individu. Industri hiburan yang merusak moral dibiarkan tumbuh. Bahkan suara rakyat sering hanya dicari saat pemilu, lalu dilupakan setelah kekuasaan diraih.
Akibatnya, masyarakat hidup dalam kegelisahan. Kesenjangan sosial melebar, generasi muda kehilangan arah, dan kepercayaan rakyat terhadap pemimpin terus menurun. Semua ini menunjukkan bahwa manusia tidak akan mampu menciptakan keadilan sejati tanpa petunjuk dari Allah.
Iduladha datang mengingatkan bahwa solusi hakiki bukan sekadar pergantian figur pemimpin, melainkan perubahan arah ketaatan. Selama sistem kehidupan dibangun di atas hawa nafsu manusia, kerusakan akan terus berulang. Yang dibutuhkan umat hari ini adalah keberanian untuk kembali menjadikan syariat Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh.
Syariat bukan sekadar hukum potong tangan atau aturan ibadah ritual sebagaimana sering disalahpahami. Syariat adalah aturan sempurna yang mengatur ekonomi, pendidikan, pergaulan, hukum, hingga tata kelola negara. Ketika syariat diterapkan dengan benar, syariat akan menjaga harta rakyat, melindungi kehormatan manusia, dan menciptakan keadilan sosial.
Sejarah telah membuktikan bahwa ketika umat Islam menjadikan syariat sebagai landasan politik dan pemerintahan, lahirlah peradaban besar yang memimpin dunia selama berabad-abad. Kota-kota Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan, keamanan terjaga, dan rakyat hidup dengan kehormatan. Sebaliknya, ketika umat meninggalkan syariat dan lebih percaya kepada sistem buatan manusia, kemunduran demi kemunduran mulai terjadi.
Karena itu, Iduladha seharusnya tidak berhenti pada penyembelihan hewan kurban semata. Ada “kurban” yang lebih besar yang harus dilakukan umat saat ini, yaitu mengorbankan ego politik, kepentingan golongan, serta ketundukan kepada ideologi selain Islam. Umat harus berani kembali menjadikan Allah sebagai sumber hukum tertinggi dalam kehidupan.
Tentu jalan ini tidak mudah. Akan ada cibiran, tekanan, bahkan tuduhan-tuduhan. Namun, bukankah Nabi Ibrahim juga diuji dengan ujian yang berat? Ketaatan memang selalu menuntut pengorbanan. Akan tetapi, dari pengorbanan itulah lahir keberkahan dan pertolongan Allah.
Hari ini umat Islam membutuhkan pemimpin yang takut kepada Allah, bukan sekadar pandai berjanji. Umat membutuhkan sistem yang lahir dari wahyu, bukan sekadar hasil kompromi kepentingan manusia. Sebab, hanya aturan Allah yang benar-benar memahami kebutuhan dan fitrah manusia.
Iduladha akhirnya mengajarkan bahwa kemuliaan umat tidak akan lahir dari kekuatan materi semata, melainkan dari ketaatan kolektif kepada syariat Allah. Sebagaimana keluarga Ibrahim dimuliakan karena kepatuhannya, demikian pula sebuah negeri akan mendapatkan keberkahan jika menjadikan hukum Allah sebagai pedoman kehidupan.
Jika manusia ingin keluar dari krisis moral, politik, dan sosial yang terus berulang, jalan keluarnya bukan semakin menjauh dari agama, melainkan kembali kepada syariat Allah secara kafah. Sebab, tidak ada aturan yang lebih adil, lebih bijaksana, dan lebih membawa rahmat selain aturan yang datang dari Sang Pencipta manusia itu sendiri. Wallahu alam. [Ni/UF]
Baca juga:
0 Comments: