Headlines
Loading...
Nakba Panjang Akibat Kapitalisme

Nakba Panjang Akibat Kapitalisme

Oleh: Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban)

SSCQMedia.com— Loga Arab kembali mendesak perlindungan internasional bagi rakyat Palestina dalam peringatan 78 tahun Nakba. Organisasi tersebut meminta dunia internasional menekan Israel agar menghentikan pendudukan atas Palestina, termasuk Yerusalem Timur. Liga Arab juga menyoroti masih berlangsungnya pengusiran warga Palestina, perluasan permukiman Zionis, serta agresi yang terus terjadi di Gaza dan Tepi Barat. Di tengah situasi itu, rakyat Palestina telah hidup dalam penjajahan sejak 15 Mei 1948 ketika tanah mereka direbut secara paksa dengan dukungan Inggris. Hingga hari ini, rakyat Palestina masih terus bertahan di tengah minimnya solusi nyata dari para pemimpin dunia (Antara, 15 Mei 2026).

Nakba bukan hanya catatan sejarah lama yang diperingati setiap tahun. Nakba adalah luka besar yang belum pernah berhenti mengalirkan darah dan air mata. Kata “Nakba” berarti bencana besar atau malapetaka. Istilah ini digunakan rakyat Palestina untuk menggambarkan tragedi pengusiran massal, perampasan tanah, penghancuran kampung-kampung, dan hilangnya hak hidup mereka sejak berdirinya Israel pada 1948. Namun, kenyataannya Nakba tidak berhenti pada masa lalu. Tragedi itu masih berlangsung hingga hari ini dalam bentuk penjajahan, blokade, pembunuhan, dan penghancuran kehidupan rakyat Palestina secara terus-menerus.

Standar Ganda Dunia Kapitalisme

Sebenarnya dunia mengetahui penderitaan Palestina. Berbagai tayangan perang, reruntuhan bangunan, hingga tangisan anak-anak Palestina hampir setiap hari terlihat di media. Akan tetapi, semua itu seolah tidak cukup untuk menghentikan penjajahan Israel. Dunia internasional sibuk berbicara tentang perdamaian, tetapi tidak mampu menghentikan penindasan yang nyata di depan mata. Inilah bukti bahwa sistem global hari ini gagal menghadirkan keadilan.

Demokrasi kapitalisme yang selama ini dianggap sebagai sistem terbaik ternyata hanya melahirkan standar ganda. Negara-negara besar berbicara keras tentang hak asasi manusia ketika kepentingan mereka sendiri terganggu, tetapi memilih diam ketika Palestina dihancurkan. Bahkan, banyak negara justru terus memberi dukungan politik, ekonomi, dan militer kepada Israel. Israel pun makin leluasa melakukan penjajahan tanpa rasa takut terhadap hukum internasional.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme tidak dibangun atas dasar kemanusiaan, melainkan kepentingan. Selama Israel dianggap menguntungkan secara politik dan ekonomi, penjajahan akan terus dipelihara. Karena itu, berbagai lembaga internasional yang berada dalam pengaruh negara-negara besar akhirnya tidak memiliki keberanian nyata untuk menghentikan agresi Israel. Resolusi demi resolusi hanya menjadi tumpukan dokumen tanpa kekuatan.

Sungguh ironis, solusi dua negara yang selama ini terus dipromosikan tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah Palestina. Keserakahan Israel memanfaatkan setiap peluang, termasuk posisi yang berdekatan. Saat dunia sibuk membicarakan meja perundingan, Israel terus memperluas permukiman ilegal, merampas tanah warga Palestina, dan mempersempit wilayah hidup mereka. Palestina dipaksa menerima perdamaian semu, sementara penjajahan tetap berjalan.

Fakta inilah yang membuktikan bahwa solusi buatan sistem kapitalisme hanya melahirkan masalah baru. Palestina tidak pernah benar-benar mendapatkan kemerdekaan yang dijanjikan. Sebaliknya, rakyat Palestina terus hidup dalam ketakutan, kehilangan rumah, kehilangan keluarga, bahkan kehilangan masa depan mereka sendiri. Anak-anak tumbuh di tengah dentuman bom dan ancaman kematian yang bisa datang kapan saja.

Persatuan Umat Jalan Pembebasan

Berlanjutnya penderitaan Palestina juga memperlihatkan rapuhnya konsep negara bangsa yang diterapkan di dunia Islam saat ini. Umat Islam dipisahkan oleh batas wilayah, kepentingan politik, dan nasionalisme sempit sehingga kehilangan kekuatan besar yang dulu pernah dimiliki. Akibatnya, negara-negara muslim hanya mampu mengeluarkan kecaman tanpa langkah nyata yang mampu menghentikan penjajahan Israel.

Padahal, jumlah umat Islam sangat besar dan tersebar di berbagai negara. Sayangnya, kekuatan besar itu tercerai-berai karena masing-masing negara lebih sibuk menjaga kepentingannya sendiri. Palestina akhirnya berjuang sendirian menghadapi kekuatan global yang saling mendukung satu sama lain. Inilah dampak paling nyata dari hilangnya persatuan umat Islam.

Dampak penjajahan Palestina bukan hanya terlihat dari hancurnya bangunan atau banyaknya korban jiwa. Yang lebih berbahaya adalah hilangnya rasa aman, hancurnya masa depan generasi muda, dan rusaknya kehidupan sosial masyarakat Palestina. Anak-anak kehilangan pendidikan, keluarga kehilangan tempat tinggal, dan rakyat hidup tanpa kepastian kapan perang akan berhenti. Dunia menyaksikan semuanya, tetapi tidak benar-benar bergerak untuk menghentikannya.

Oleh karena itu, pembebasan Palestina tidak bisa terus digantungkan pada negara adidaya, lembaga internasional, ataupun diplomasi yang tidak pernah menghasilkan solusi nyata. Semua pihak tersebut justru terbukti menjadi bagian dari sistem yang selama ini mengukuhkan penjajahan terhadap Palestina. Selama dunia masih menggunakan standar kapitalisme dan kepentingan politik, Palestina akan terus menjadi korban.

Palestina membutuhkan solusi mendasar, bukan sekadar bantuan sementara atau perundingan tanpa ujung. Kaum muslimin harus kembali memahami pentingnya persatuan dalam satu kepemimpinan yang mampu melindungi umat Islam dan menghentikan penjajahan. Persatuan umat Islam bukan hanya kebutuhan politik, tetapi juga bentuk nyata dari ajaran Islam yang memandang kaum muslimin sebagai satu tubuh.

Penerapan syariat dalam bingkai khilafah dipandang sebagai solusi untuk menyatukan kekuatan umat Islam di seluruh dunia. Dengan persatuan tersebut, umat Islam diyakini akan memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang mampu menghadapi penjajahan serta menghentikan dukungan negara-negara besar terhadap Israel. Hanya dengan kekuatan yang bersatu, Palestina memiliki harapan nyata untuk bebas dari penjajahan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Wallahu a’lam bishshawab. [An/PR]

Baca juga:

0 Comments: