Headlines
Loading...
Senjata Bukan Pembawa Kemenangan Perang yang Sejati

Senjata Bukan Pembawa Kemenangan Perang yang Sejati

Oleh: Ummi Fatih
(Kontributor SSCQ Media)

SSCQmedia.com—Situasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah tampak membuat Amerika Serikat dan Zionis Israel semakin tertekan. Selama ini, Amerika dikenal sebagai negara dengan kekuatan militer besar, tetapi kondisi terkini justru menunjukkan Iran berani bangkit untuk melawan.

Hanya dengan kekuatan rudal, Iran mampu membuat Amerika mengeluarkan biaya hingga triliunan dolar setiap hari. Terlebih lagi sejak Iran mengeluarkan kebijakan penutupan Selat Hormuz. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tampak semakin kewalahan hingga melontarkan pernyataan yang dinilai tidak masuk akal.

Dalam liputan detik.com yang mengutip AFP dan CNBC, Trump berusaha meyakinkan dunia bahwa Amerika memiliki kendali atas Selat Hormuz. Saat berbicara dalam konferensi bisnis bersama Arab Saudi pada 23 Maret 2026 di Florida, ia bahkan menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump” (28/3/2026).

Ironisnya, kondisi tersebut tidak membuat Amerika dan Zionis Israel melemah atau menghentikan agresinya. Di Palestina, yang menjadi wilayah utama penjajahan, tentara Zionis masih terus bertindak sewenang-wenang.

Pada perayaan Hari Raya Idulfitri 2026, Israel melarang warga Palestina melaksanakan salat Id di Masjidilaksa. Selain itu, pada masa hari raya, Israel juga menutup jalur distribusi barang ke Palestina. Akibatnya, warga Gaza semakin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup mereka (Tribunnews.com, 21/3/2026).

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga memutuskan perluasan wilayah invasi ke Lebanon Selatan. Langkah ini diambil untuk memperkuat keamanan wilayah utara Israel di tengah eskalasi konflik (CNBC.com, 30/3/2026).

Pemenang Perang Sejati

Perang tidak hanya berupa pertentangan bersenjata, tetapi juga mencakup perang pemikiran. Kemenangan sejati ditentukan oleh penguasaan pemikiran, karena dari sanalah kepatuhan dan dominasi dapat tercipta.

Meski Iran dinilai berhasil menekan Amerika secara militer, selama pemikiran sekularisme masih mendominasi negara-negara Islam, kemenangan tersebut belum sepenuhnya diakui. Hal ini terlihat dari sikap negara-negara Timur Tengah yang justru mendorong Iran untuk menempuh jalur diplomasi.

Ketika penutupan Selat Hormuz dipandang sebagai ancaman ekonomi global, sistem kapitalisme yang diusung Amerika tetap memberikan keuntungan bagi negara tersebut. Kebijakan ekonomi Amerika, termasuk dominasi dolar sebagai mata uang global, membuat banyak negara bergantung dan sulit melepaskan diri dari pengaruhnya.

Selain itu, kerusakan infrastruktur Israel dan jatuhnya korban dari pihak militer akibat serangan Iran belum cukup untuk disebut sebagai kekalahan Zionis. Hal ini karena pengaruh pemikiran demokrasi Barat masih kuat di dunia Islam. Bahkan, sejumlah negara Islam tergabung dalam lembaga perdamaian internasional yang dalam praktiknya cenderung berpihak pada kepentingan Zionis.

Oleh karena itu, strategi perang harus disusun secara sistematis. Kekuatan pemikiran yang jernih serta persatuan umat menjadi kunci kemenangan.

Iran tidak dapat berjuang sendiri. Diperlukan gerakan kolektif dari seluruh negeri Muslim dengan berlandaskan pemikiran Islam. Islam bukan sekadar agama, melainkan juga sebuah sistem kehidupan yang menyeluruh.

Sebagaimana firman Allah Swt.:
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali Imran: 54)

Kesempurnaan sistem Islam dapat dilihat dari berbagai aspek, termasuk dalam bidang politik dan militer. Dalam konsep politik Islam, hubungan dengan pihak yang memusuhi umat diatur secara tegas. Jika prinsip ini diterapkan, ketergantungan negara-negara Islam terhadap kekuatan global seperti Amerika dapat dikurangi, mengingat sumber daya strategis seperti minyak banyak berada di wilayah negeri-negeri Muslim.

Dalam aspek militer, konsep jihad dalam Islam mencakup kesiapan umat untuk mempertahankan diri. Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan umat Islam pernah mampu menghadapi kekaisaran besar seperti Persia dan Bizantium.

Dengan demikian, perjuangan saat ini tidak hanya dilakukan melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui pembenahan pemikiran. Umat Islam perlu melepaskan diri dari pengaruh ideologi yang tidak sejalan dengan ajaran Islam dan kembali kepada pemahaman yang jernih.

Umat Islam juga dituntut untuk bersatu dalam dakwah yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, tanpa takut terhadap berbagai ancaman. Sebab, pertolongan Allah Swt. adalah janji bagi mereka yang berjuang di jalan-Nya.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104) [My/HEM]


Baca juga:

0 Comments: