Oleh: Ratty S. Leman
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)
Dari ayat di atas, penulis menarik poin bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang:
- Menyeru kepada kebajikan,
- Menyuruh kepada yang makruf,
- Mencegah dari yang mungkar.
Dengan kesadaran penuh, penulis mengajak pembaca untuk belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari No. 5027)
Jika belajar dan mengajar Al-Qur’an adalah sebaik-baik aktivitas, mengapa tidak dikerjakan? Mengapa ditinggalkan? Mengapa malas? Mengapa tidak berminat?
Kewajiban kita adalah mempelajari ilmu fardu ain (individu) dan fardu kifayah (kolektif) selama kewajiban kolektif tersebut belum ada yang melaksanakannya. Berdakwah untuk kembali kepada Al-Qur’an dan hadis merupakan aktivitas mulia karena termasuk kewajiban.
Kita dapat memulai dari menjadi pembelajar. Jika belum bisa membaca Al-Qur’an, maka belajarlah. Jika sudah bisa, maka perbanyak membaca (tilawah). Jika sudah terbiasa, maka ulangi terus hingga khatam dan terus mengkhatamkannya selama hayat masih dikandung badan.
Apakah cukup hanya dengan tilawah? Tentu tidak. Membaca tanpa memahami tidak akan memberikan pemahaman yang utuh. Oleh karena itu, penting untuk membaca terjemahnya.
Penulis pada awalnya merasa cukup dengan program ODOJ (One Day One Juz). Namun, Allah Swt. mempertemukan penulis dengan komunitas Sahabat Surga Cinta Qur’an (SSCQ). Dari sinilah tantangan baru dimulai.
Komunitas ini menawarkan program ODOJ Plus, yaitu tidak hanya membaca satu juz per hari, tetapi juga membaca terjemah, memilih ayat untuk ditadaburi, serta menuliskan hasil tadabur tersebut.
Dengan mengucap basmalah, penulis akhirnya bergabung. Alhamdulillah, tilawah kini telah menjadi kebiasaan. Membaca terjemah pun demikian. Hal ini menjadi kebutuhan, terutama ketika harus memilih ayat yang berkesan untuk ditadaburi.
Membaca terjemah menjadi penting bagi yang belum memahami bahasa Al-Qur’an. Namun, membaca terjemah saja juga belum cukup. Diperlukan upaya untuk menyelami makna ayat melalui tadabur.
Bagi yang belum mampu bertadabur secara mandiri, dapat mengikuti kajian, baik secara daring maupun luring. Saat ini, banyak tersedia kelas tadabur Al-Qur’an yang dapat diikuti secara luas.
Penulis sendiri mengikuti kelas Tadabur Hidayah yang dibimbing oleh Ustaz Bachtiar Nasir dan Ustaz Deden Machyaruddin. Kegiatan ini berlangsung secara rutin sejak masa pandemi Covid-19 tahun 2020 hingga kini. Dari proses tersebut, penulis memperoleh bekal untuk menulis tadabur, baik di media daring maupun dalam bentuk buku.
Selain itu, penulis juga mengikuti kelas ATQA (Akademi Tadabur Al-Qur’an) yang dilaksanakan dua kali dalam sepekan dengan pembahasan tematik. Sejumlah sertifikat telah diperoleh, tetapi tujuan utama tetaplah menuntut ilmu dan mengamalkannya. Ilmu yang didapat kemudian dipraktikkan dalam berbagai grup WhatsApp, seperti Sahabat Surga Cinta Qur’an dan Mukjizat Al-Qur’an.
Semoga semua ikhtiar ini menjadi amal saleh yang diterima oleh Allah Swt. Aamiin.
Sebelum Ramadan, tilawah, terjemah, dan tadabur telah dilakukan. Saat Ramadan, amalan tersebut dilanjutkan, dan setelahnya diupayakan untuk tetap istiqamah. Semoga semua ini menjadi bagian dari dakwah yang diridai Allah Swt.
Bogor, 26 Maret 2026. [My/Iwp]
Baca juga:
0 Comments: