Headlines
Loading...

Oleh: Vita Sari, A.Md.Ak
(Pemerhati Sosial dan Politik, Deli Serdang)

SSCQmedia.com—Lebih dari 2,4 juta warga Palestina di Jalur Gaza merayakan Hari Raya Idulfitri pada Jumat (20/3) di tengah krisis kemanusiaan yang parah. Pembatasan ketat oleh Israel, kehancuran infrastruktur, serta kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan menjadi latar perayaan yang jauh dari sukacita. Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa hari raya tahun ini berlangsung tanpa kegembiraan karena sebagian besar keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Hari Raya Idulfitri merupakan perayaan keagamaan umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal. Seluruh umat Islam di dunia merayakan kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, dengan harapan dosa-dosa diampuni oleh Allah Swt. sehingga kembali dalam keadaan suci. Demikianlah makna Idulfitri yang selama ini dipahami.

Namun, di hari yang fitri ini, patut direnungkan bersama: apakah benar kita telah merayakan kemenangan dan kembali suci? Sementara itu, saudara seiman di belahan dunia lain masih mengalami penderitaan akibat genosida di Gaza. Bahkan, ketika hendak melaksanakan salat Id di Masjid Al-Aqsa, mereka justru menghadapi serangan dari pasukan Israel hingga terpaksa menunaikan salat di jalanan.

Dalam kondisi seperti ini, Idulfitri semestinya turut dirasakan sebagai duka oleh seluruh kaum muslimin, layaknya satu tubuh. Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ukhuwah Islamiah seharusnya menjadi pengikat kuat bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk bersatu. Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa sistem sekularisme kapitalisme telah mengikis rasa kepedulian tersebut. Penderitaan saudara seiman tidak lagi dirasakan sebagai penderitaan bersama karena terhalang sekat kebangsaan. Sekat ini melemahkan simpati dan empati, serta mendorong sikap individualistis yang hanya berfokus pada kepentingan bangsa sendiri.

Sudah saatnya umat menyadari kerusakan sistem yang ada dan kembali kepada sistem Islam yang sahih. Persatuan di bawah kepemimpinan Islam diyakini sebagai solusi untuk mengakhiri berbagai persoalan umat. Akar konflik di Palestina hingga saat ini tidak terlepas dari penjajahan Zionis Yahudi yang didukung oleh negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan Inggris.

Penjajahan hanya dapat diakhiri dengan upaya pembebasan. Dalam pandangan ini, diperlukan kekuatan yang mampu menghentikan penindasan tersebut. Oleh karena itu, sebagian kalangan meyakini bahwa tidak ada solusi yang dapat membebaskan Palestina dari penderitaan selain adanya kepemimpinan Islam yang kuat dan berpihak pada umat.

Wallahu a‘lam bi ash-shawab. [An/Des]

Baca juga:

0 Comments: