Headlines
Loading...
Keselamatan Transportasi dalam Islam: Solusi atas Tragedi Mudik

Keselamatan Transportasi dalam Islam: Solusi atas Tragedi Mudik

Oleh: Rosna Fiqliah
(Pemerhati Sospol, Deli Serdang)

SSCQmedia.com—Korlantas Polri mengungkapkan bahwa angka kecelakaan selama arus mudik Lebaran 2026 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, jumlah korban jiwa justru mengalami penurunan. Pamin Binwas Subdit Dakgar Ditgakkum Korlantas Polri, Ipda Hanny Neno, menyatakan bahwa data tersebut dihimpun pada periode 13–19 Maret 2026. “Untuk laka lantas, dibandingkan tahun 2025, pada 2026 naik 1,97%,” ujar Neno di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (Kumparannews, 19/03/2026).

Meningkatnya angka kecelakaan saat mudik menunjukkan bahwa persoalan keselamatan transportasi belum diselesaikan secara mendasar. Setiap tahun, lonjakan mobilitas masyarakat terus berulang, tetapi solusi yang diberikan cenderung bersifat sementara dan belum menyentuh akar masalah. Kepadatan kendaraan yang tinggi tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan manajemen lalu lintas yang optimal. Di sisi lain, faktor manusia seperti kelelahan, kelalaian, dan rendahnya kesadaran keselamatan turut menjadi penyumbang utama kecelakaan.

Lebih jauh, kondisi ini tidak dapat dilepaskan dari sistem yang berjalan saat ini, di mana transportasi kerap dipandang sebagai sektor bisnis, bukan sebagai layanan publik yang harus dijamin negara. Akibatnya, penyediaan fasilitas dan sistem transportasi tidak sepenuhnya berorientasi pada keselamatan rakyat. Negara pun cenderung berperan sebagai regulator, bukan sebagai pengurus yang bertanggung jawab langsung terhadap keamanan dan keselamatan masyarakat.

Dalam perspektif Islam, negara adalah pengurus rakyat yang bertanggung jawab penuh atas seluruh urusan mereka, termasuk dalam menjamin keselamatan transportasi. Pengelolaan transportasi tidak diserahkan pada mekanisme pasar atau kepentingan bisnis, melainkan dijalankan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. Negara akan memastikan tersedianya infrastruktur yang memadai, jalan yang layak, serta sistem transportasi yang mampu mengurai kepadatan secara efektif sehingga potensi kecelakaan dapat ditekan sejak awal.

Selain itu, negara akan menyediakan transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau, bahkan dapat digratiskan, sehingga masyarakat tidak bergantung pada kendaraan pribadi saat mobilitas tinggi seperti mudik. Dengan demikian, beban lalu lintas dapat berkurang secara signifikan. Tidak hanya aspek fisik, Islam juga menaruh perhatian besar pada pembinaan individu. Masyarakat dididik dengan landasan akidah sehingga memiliki kesadaran bahwa menjaga keselamatan diri dan orang lain merupakan bagian dari tanggung jawab di hadapan Allah Swt. Hal ini akan melahirkan perilaku berkendara yang lebih disiplin dan bertanggung jawab.

Di sisi lain, negara akan menerapkan penegakan hukum yang tegas dan adil terhadap setiap pelanggaran yang membahayakan nyawa, sehingga menimbulkan efek jera dan mencegah terulangnya kecelakaan. Pengelolaan kehidupan masyarakat juga diatur sedemikian rupa agar tidak terjadi penumpukan aktivitas dalam satu waktu dan tempat, sehingga lonjakan mobilitas ekstrem seperti mudik dapat diminimalkan.

Dengan demikian, Islam menawarkan solusi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sistemik dan menyeluruh. Keselamatan transportasi tidak dipandang sebagai persoalan musiman, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab negara yang harus dijalankan secara konsisten demi menjaga nyawa manusia.

Wallahu a‘lam bish-shawab. [My/HEM]

Baca juga:

0 Comments: