Headlines
Loading...
Idul Fitri di Tengah Reruntuhan Kota, Penderitaan Muslim Gaza Terus Mendera

Idul Fitri di Tengah Reruntuhan Kota, Penderitaan Muslim Gaza Terus Mendera

Oleh: Nur Afni
(Pemerhati Sospol, Deli Serdang)

SSCQmedia.com—Kebahagiaan tengah dirasakan oleh seluruh kaum muslimin saat merayakan Hari Raya Idulfitri. Takbir berkumandang, keluarga berkumpul, aneka hidangan tersaji, serta canda dan tawa menghiasi suasana. Namun, kondisi yang sangat berbeda justru dirasakan oleh saudara kita di Gaza, Palestina.

Warga Gaza merayakan Idulfitri di tengah reruntuhan, krisis kemanusiaan, serta kehancuran infrastruktur yang parah. Mereka hidup dalam pembatasan wilayah, kehilangan anggota keluarga dan anggota tubuh, serta menghadapi krisis pangan, air bersih, dan obat-obatan. Bahkan, mereka hanya dapat berkumpul di sekitar reruntuhan masjid yang hancur, bertahan hidup di ruang terbuka dan kamp pengungsian.

Lantunan takbir “Allahu Akbar” tetap menggema di seluruh Gaza yang luluh lantak akibat serangan brutal Zionis Israel. Meski dalam kondisi memprihatinkan, warga Gaza tetap melaksanakan salat Idulfitri dengan khusyuk. Mereka melaksanakan salat di atas reruntuhan, di samping masjid yang telah dihancurkan. Bahkan, mereka tidak diperbolehkan melaksanakan salat di Masjid Al-Aqsa karena akses ditutup. Zionis juga menembakkan gas air mata ke arah warga setelah menutup paksa akses tersebut, sehingga masyarakat terpaksa melaksanakan salat di pinggiran jalan sekitar masjid (Metro TV, 23/03/2026).

Penderitaan yang dialami saudara kita di Gaza seolah tak pernah berakhir. Ironisnya, semakin sedikit suara yang terdengar untuk membela mereka. Apakah kaum muslimin sudah tidak peduli, ataukah ada kepentingan politik yang memengaruhi sikap umat? Ataukah penjajahan brutal yang mereka alami dianggap sebagai takdir semata?

Rasulullah saw. telah menggambarkan kaum muslimin sebagai satu tubuh. Ketika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya. Sebagaimana sabda beliau:

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh akan ikut terjaga dan merasakan demam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Keberadaan BOP (Board of Peace) yang digadang-gadang sebagai dewan perdamaian bagi Gaza, pada kenyataannya justru tidak membawa perdamaian. Sebaliknya, kondisi yang terjadi menunjukkan bahwa penjajahan semakin brutal. Di sisi lain, perhatian dunia muslim teralihkan oleh konflik lain, seperti ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, sehingga penderitaan Gaza kian terabaikan.

Lebih miris lagi, sebagian negara Arab justru bersekutu dengan Amerika Serikat dalam konflik tersebut, sementara ada pula yang mendukung pihak lain. Namun, tidak ada satu pun negara yang secara nyata membantu Palestina melawan penjajahan Israel, bahkan dari negeri-negeri muslim sendiri.

Kaum muslimin perlu menyadari bahwa solusi hakiki bagi kemerdekaan Gaza adalah dengan kembali kepada sistem Islam. Sejak runtuhnya sistem Islam, dunia termasuk negeri-negeri muslim, mengadopsi sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem buatan manusia inilah yang dinilai menjadi akar berbagai konflik yang terjadi saat ini.

Sekularisme telah membentuk masyarakat yang cenderung individualistis, sehingga kepedulian terhadap penderitaan sesama semakin melemah. Ditambah lagi dengan konsep nation-state (negara-bangsa) yang memecah belah umat, menjadikan kaum muslimin tidak bersatu dan mudah dilemahkan.

Mengharapkan solusi dari Barat maupun penguasa negeri-negeri muslim dinilai hanya menjadi ilusi, karena kebijakan yang diambil sering kali tidak berpihak pada kemerdekaan Palestina. Bahkan, ada pernyataan yang menekankan pentingnya menjamin keamanan Israel, yang semakin menunjukkan arah keberpihakan tersebut.

Oleh karena itu, penulis memandang bahwa solusi bagi kemerdekaan Gaza adalah dengan menegakkan kembali sistem Islam dan memperjuangkannya secara sungguh-sungguh. Dengan persatuan umat dan kepemimpinan yang kuat sebagai pelindung (junnah), penjajahan terhadap kaum muslimin diyakini tidak akan terjadi.

Sudah saatnya umat bangkit dan bersatu, meninggalkan sistem buatan manusia, serta kembali kepada sistem yang diyakini berasal dari Sang Pencipta. Hanya dengan itu, kesejahteraan dan keadilan dapat terwujud, serta saudara-saudara kita di Gaza dan wilayah lain yang tertindas dapat dibela.

Wallahu a‘lam bish-shawab. [My/HEM]

Baca juga:

0 Comments: