Belajar Daring Imbas Efisiensi Energi, Untung atau Rugi?
Oleh: Sadiqa
(Kontributor SSCQ Media)
SSCQmedia.com—Dampak konflik Iran–Israel mulai dirasakan oleh masyarakat. Terganggunya jalur distribusi minyak di Selat Hormuz memicu kegelisahan publik karena menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Harga bahan bakar meningkat dan berdampak pada kebijakan efisiensi energi.
Detikedu (21/3/2026) melaporkan bahwa Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menyampaikan perlunya kebijakan yang responsif melalui langkah-langkah efisien guna mengurangi dampak negatif bagi masyarakat. Salah satu kebijakan yang tengah dikaji adalah penerapan pembelajaran jarak jauh (daring).
Belajar merupakan kewajiban bagi umat Muslim, dan pendidikan adalah hak seluruh rakyat. Melalui ilmu yang diperoleh, seseorang dapat mengembangkan diri serta menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Oleh karena itu, negara sebagai penyelenggara pemerintahan seharusnya mampu menyediakan sumber daya dan pengelolaan pendidikan yang tepat agar proses pembelajaran berjalan optimal.
Namun, pembelajaran daring tidak dapat menjadi solusi terbaik dalam efisiensi energi. Pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa sistem ini justru menimbulkan berbagai persoalan, di antaranya penurunan capaian belajar akibat pemahaman siswa yang tidak menyeluruh, gangguan konsentrasi karena lingkungan belajar yang kurang kondusif, serta meningkatnya tekanan pada anak. Selain itu, kebutuhan akses internet juga menjadi beban ekonomi tambahan bagi keluarga. Minimnya aktivitas fisik, menurunnya kemampuan interaksi sosial, serta keterbatasan dalam penguasaan keterampilan tertentu menjadi dampak lain yang tidak dapat diabaikan.
Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan fasilitas pendukung yang belum sepenuhnya disediakan oleh negara. Bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi, kewajiban menyediakan perangkat dan akses internet menjadi beban tersendiri, terutama di tengah tekanan ekonomi yang semakin meningkat.
Dampak pembelajaran daring tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga oleh tenaga pengajar. Guru tetap dituntut bertanggung jawab atas perkembangan siswa, meskipun tidak dapat mendampingi proses belajar secara langsung. Di sisi lain, guru dituntut memberikan hasil penilaian yang baik, sementara capaian pemahaman siswa belum tentu sesuai target. Hal ini menimbulkan dilema dalam proses evaluasi pembelajaran.
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dikelola secara optimal. Dalam perspektif Islam, negara memiliki peran penting dalam mengelola sumber daya untuk kesejahteraan rakyat. Dengan pengelolaan yang tepat, negara dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi sehingga tidak mudah terdampak gejolak global.
Ketersediaan sumber daya yang terjamin akan mendukung penyelenggaraan pendidikan yang optimal. Pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mencakup pembentukan akhlak, keterampilan, serta kemampuan berinteraksi sosial. Islam mendorong manusia untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan tuntunan syariat dalam menjalani kehidupan.
Penghematan energi seharusnya tidak mengorbankan kualitas pendidikan. Kebijakan yang diambil hendaknya mampu menyentuh akar persoalan, bukan justru menimbulkan masalah baru. Negara semestinya tidak mengesampingkan masa depan generasi, melainkan menghadirkan solusi yang komprehensif demi keberlangsungan pendidikan yang berkualitas. [My/PR]
Baca juga:
0 Comments: