Sharing Literasi Opini Islam: Menulis Opini sebagai Jalan Perjuangan
SSCQMedia.Com | Dalam rangka mengawali Challenge Opini ke-22, SSCQ menggelar kegiatan sharing literasi opini pada Kamis malam, menjelang dimulainya challenge yang resmi dibuka pada 19 Desember 2025. Kegiatan ini dipandu oleh Ustazah Nunik Ummu Fayha dari Magetan sebagai host, dengan menghadirkan pemateri Ustazah Evi Ummu Fahhala dari Bandung.
Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan kembali niat, kesadaran ideologis, serta semangat konsistensi para penulis opini dalam menjadikan tulisan sebagai bagian dari perjuangan dakwah Islam.
Profil Pemateri
Pemateri dalam kegiatan ini adalah Evi Avyanti, yang dikenal dengan nama pena Ummu Fahhala, lahir di Bandung pada 25 April 1981. Beliau berdomisili di Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Riwayat pendidikan beliau dimulai dari SD hingga SMA di Solokanjeruk, kemudian melanjutkan pendidikan S1 Fisika di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Saat ini, beliau beraktivitas sebagai guru Fisika SMA, sekaligus berperan sebagai Hamilud Dakwah dan Ummu Warobatul Bait dari lima orang anak, yaitu Fadilah, Arsyad, Hasna, Hisyam, dan Alfatihah.
Dalam dunia literasi, Ummu Fahhala telah menorehkan sejumlah karya, di antaranya buku antologi DNA Pemuda Pejuang, Surat Cinta Nabiku 1 dan 2, Jalan Hijrahku, Semarak Idulfitri, Menyembelih Ismail-Ismail dalam Diri, Ada Ayat Berkesan di SSCQ Jilid 3, Dakwah itu Cinta (4), Untukmu Wahai Pemuda, serta Napak Tilas Haji. Saat ini, beliau juga tengah memproses penulisan buku solo. Adapun motto hidup yang beliau pegang teguh adalah, “Ana Muslimah awwalan wa qobla kulli syai.”
Menulis Opini sebagai Jalan Perjuangan
Dalam sesi materi yang mengangkat tema “Menulis Opini: Dari Niat Ikhlas, Menjadi Jalan Perjuangan untuk Tegaknya Islam”, Ummu Fahhala menegaskan bahwa diskusi ini tidak berangkat dari kehebatan teknis menulis, melainkan dari niat ikhlas dan kegelisahan terhadap kondisi umat.
Beliau menyampaikan bahwa tulisan-tulisan opini yang lahir di SSCQMedia lebih banyak bersumber dari keprihatinan terhadap dominasi narasi sekuler, liberal, dan pragmatis, sekaligus keinginan kuat untuk menghadirkan Islam sebagai solusi kehidupan. Menulis, menurut beliau, bukan untuk menunjukkan kemampuan, melainkan sebagai ikhtiar kecil agar umat kembali memahami Islam sebagai aturan hidup.
Ummu Fahhala juga menegaskan bahwa menulis opini bukan sekadar persoalan bakat atau teknis kepenulisan, tetapi merupakan tanggung jawab intelektual dan ideologis. Ketika ruang opini dikuasai narasi yang menjauhkan Islam dari kehidupan, maka opini berbasis Islam bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Hal ini sejalan dengan perintah amar makruf nahi mungkar sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.
Beliau mengingatkan bahwa diam bukanlah sikap netral. Diam berarti membiarkan kebatilan berbicara tanpa tandingan. Oleh karena itu, menulis opini diposisikan sebagai bagian dari jihad pemikiran untuk menyampaikan kebenaran, walau hanya satu ayat, sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Tantangan, Kritik, dan Proses Juang
Dalam pemaparannya, Ummu Fahhala juga mengajak para peserta untuk realistis dalam memandang keterbatasan diri. Ilmu yang terbatas, tulisan yang belum rapi, serta berbagai tantangan hidup bukanlah penghalang untuk berkontribusi. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, dan yang dituntut bukanlah hasil sempurna, melainkan kesungguhan dan tanggung jawab.
Beliau menyampaikan apresiasi kepada Bunda Lilik S. Yani atas berbagai challenge literasi yang selama ini menjadi wasilah untuk menguatkan istiqamah para penulis. Challenge opini dipandang bukan sebagai beban, melainkan mekanisme juang agar tetap konsisten dalam dakwah pemikiran.
Terkait kritik dan proses editing, Ummu Fahhala menekankan agar para penulis tidak takut dikoreksi. Kritik bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menjaga kemurnian dakwah. Ia menilai keistimewaan SSCQMedia terletak pada proses editing yang tidak hanya menyentuh aspek bahasa, tetapi juga substansi dan konten tulisan, sehingga menjadikan media ini sebagai madrasah literasi dan pemikiran.
Konsistensi dan Niat Perjuangan
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah soal konsistensi. Menulis yang hanya dilakukan saat sempat akan menghasilkan karya sesuai kadar kesempatan. Namun ketika menulis dijadikan target perjuangan, akan lahir kesungguhan untuk menyingkirkan berbagai hambatan. Challenge opini diposisikan sebagai pelecut agar niat tidak berhenti di dalam hati, tetapi diwujudkan dalam gerak nyata.
Beliau juga menyinggung realitas bahwa tidak semua media menerima tulisan yang kritis terhadap kebijakan penguasa. Penolakan atau keterlambatan tayang kerap memengaruhi semangat menulis. Namun, nilai tulisan tidak diukur dari cepat atau tidaknya tayang, melainkan dari keikhlasan dan keberpihakan pada kebenaran.
Sesi Diskusi
Dalam sesi diskusi, salah satu pertanyaan disampaikan oleh Mirojul Ummi Fatih dari Pasuruan, terkait bagaimana cara bersikap tegas pada diri sendiri saat menulis, ketika rasa takut salah pandang dan khawatir disalahpahami sering membuat tulisan dihapus berulang kali.
Menanggapi hal tersebut, Ummu Fahhala menjelaskan bahwa TOR penulisan menjadi panduan penting dalam menjaga alur tulisan, mulai dari fakta, analisis, hingga konstruksi solusi Islam. Selain itu, ketegasan dalam menulis dapat dibangun melalui kejelasan tujuan, pembatasan perfeksionisme yang berlebihan, serta keberanian untuk berproses. Rasa takut salah paham justru menunjukkan kepedulian, tinggal diarahkan agar tidak melumpuhkan produktivitas.
Penutup
Sebagai penutup, Ummu Fahhala mengajak seluruh peserta untuk terus menulis, bukan karena selalu yakin, tetapi karena pikiran layak diuji, dirawat, dan disampaikan. Menulis bukan soal siapa yang paling sempurna, melainkan siapa yang berani hadir, jatuh bangun, dan tetap melanjutkan langkah.
Beliau mengingatkan agar para penulis tidak berhenti hanya karena takut salah, tetapi tetap hadir, istiqamah menulis, ikhlas, dan berjuang menyongsong pertolongan Allah.
Acara ditutup dengan doa dan salam, serta harapan agar Challenge Opini ke-22 menjadi sarana penguat dakwah pemikiran dan penjaga akidah umat. [My/Des]
Baca juga:
0 Comments: