Oleh. Nunik Umma Fayha
(Kontributor SSCQMedia.Com)
SSCQMedia.Com—Penculikan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh Amerika Serikat membuat dunia tersentak. Masih adakah hukum internasional yang benar-benar berlaku universal? Adakah hukum yang tidak dilangkahi Amerika?
International.sindonews.com (16-01-2025) menyitir pernyataan Jaksa Agung Venezuela, Tarek William Saab, kepada RT Spanyol. Ia menyebut bahwa serangan udara Amerika Serikat di Caracas, ibu kota Venezuela, serta beberapa wilayah lain, disertai dengan penculikan Presiden Maduro dan istrinya. Tindakan tersebut dinilai sebagai kejahatan agresi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saab menegaskan bahwa aksi tersebut tidak memiliki dasar hukum, baik dalam hukum Amerika Serikat maupun hukum internasional.
Trump adalah manifestasi brutalitas Amerika dan mimpinya untuk menguasai dunia. Sebagaimana Eropa dahulu melakukan penjajahan, Amerika pun melandasi setiap langkahnya demi kekuasaan dan eksploitasi. Amerika yang tengah menuju kebangkrutan berusaha mencari pegangan agar tetap dapat mencengkeram dunia dan mempertahankan kejumawaannya. Hampir semua negeri yang ditumbangkan Amerika memiliki sumber daya alam melimpah, terutama minyak, si emas hitam, yang kerap membutakan mata para oportunis, baik korporasi swasta maupun negara sekelas Amerika Serikat.
Impian Amerika
Meski berganti presiden, semangat imperialis Amerika terus berjalan layaknya estafet yang tak pernah terputus. Presiden terpilih boleh berganti partai, namun kebijakan luar negeri tetap memiliki pola yang sama. Slogan America First yang mengantarkan kemenangan Trump menjadi landasan kebijakan luar negeri yang diklaimnya demi melindungi kepentingan ekonomi dan keamanan nasional Amerika Serikat.
Kepentingan ekonomi Amerika diterjemahkan melalui pengenaan tarif impor tinggi untuk memaksa mitra dagang membuka pasar sekaligus menekan defisit perdagangan. Atas nama America First, Trump memprioritaskan kepentingan ekonomi negaranya meski harus mengorbankan hubungan dagang multilateral. Beberapa negara berani menantang kebijakan tersebut, namun tidak sedikit yang memilih tunduk, termasuk Indonesia yang dikenai tarif 19 persen serta kewajiban membeli energi, produk pertanian, dan pesawat dari Amerika, bahkan membebaskan tarif masuk barang asal Amerika. Selain itu, Amerika juga memperoleh akses penuh atas tembaga berkualitas tinggi.
Semangat America First juga menjadi pendorong nafsu ekspansi Trump. Mulai dari Gaza yang dengan pongah hendak dijadikan seperti Las Vegas, infiltrasi ke Venezuela demi minyak, hingga ancaman terhadap Greenland, wilayah otonom Denmark. Langkah-langkah agresif ini menjadikan Amerika sebagai ancaman serius bagi dunia.
Futuhat Bukan Penjajahan
Jika Amerika hari ini tergiur melakukan invasi demi keuntungan strategis dan penguasaan sumber daya alam, hal ini sangat bertolak belakang dengan futuhat yang dijalankan Khilafah. Pada masa itu, pengiriman pasukan jihad yang bersifat ofensif bertujuan membebaskan manusia dari penguasa zalim yang menghalangi dakwah Islam. Rasulullah saw. bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Bagi negeri yang menjadi objek jihad, tidak terdapat praktik penjajahan. Meski jihad dilakukan dalam rangka dakwah, tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Futuhat oleh Khilafah bahkan kerap disambut rakyat, sebagaimana terjadi di Mesir yang saat itu dijajah Romawi. Rakyat Mesir hidup tercekik oleh berbagai pungutan dan menyaksikan kemakmuran Syam di bawah naungan Daulah Islam.
Kondisi ini sangat berbeda dengan penjajahan Eropa di masa lalu maupun invasi Amerika yang kerap disebut sebagai penjajahan gaya baru. Mereka menjarah dan mengambil keuntungan ekonomi dari negeri-negeri jajahan, lalu membangun kemakmuran di atas kehancuran bangsa lain.
Pada akhirnya, adab dan akhlakul karimah menjadi pembeda yang nyata. Amerika dengan mimpinya menjadi penguasa dunia hari ini bahkan ditentang oleh rakyatnya sendiri. Sementara negeri-negeri yang pernah mengalami futuhat Islam hingga kini masih kokoh memegang Islam, meski mungkin hanya tersisa jejak peradabannya. [MA/IWP]
Baca juga:
Alhamdulillah
BalasHapus