Sharing Literasi Opini Islam: Menjalin Hubungan Kepenulisan dengan Media
Kegiatan Sharing Literasi Opini Islam kembali digelar dengan mengangkat tema Menjalin Hubungan Kepenulisan dengan Media. Acara ini dipandu oleh Ustazah Mirojul Lailiyah Ummi Fatih dari Pasuruan dan menghadirkan Ustazah Rut Sri Wahyuningsih dari Sidoarjo sebagai pemateri.
Dalam pengantarnya, host mengajak peserta merenungi kondisi hubungan kepenulisan dengan media. Apakah masih berjalan sehat atau justru melemah. Apakah tulisan masih sering diterima atau lebih banyak ditolak dan tidak diterbitkan. Pertanyaan ini menjadi pengantar reflektif sebelum memasuki materi utama.
Profil Pemateri
Ustazah Rut Sri Wahyuningsih lahir di Banyuwangi pada 27 Juli 1974 dan saat ini berdomisili di Sidoarjo. Beliau dikaruniai satu putra dan satu putri.
Selain berperan sebagai ibu rumah tangga dan aktivis dakwah, beliau juga aktif di dunia media. Saat ini Ustazah Rut mengemban amanah sebagai Editor SSCQ Media, Redaktur Pelaksana LensaMediaNews, Admin Muslimah Times, Admin Tsaqofah.my.id, Admin Kebenaran.my.id, Ketua Tim Approval Suara Netizen Indonesia, serta kontributor di sejumlah media daring nasional.
Dalam dunia kepenulisan, beliau telah melahirkan delapan karya antologi, dua buku solo, satu e-book, serta dua buku solo yang masih dalam proses penulisan.
Penulis dan Media: Rel yang Berjalan Sejajar
Mengawali materinya, pemateri menyampaikan bahwa hubungan penulis dan media ibarat rel kereta api. Keduanya berjalan seiring dan saling membutuhkan, namun tidak pernah menyatu. Penulis membutuhkan media agar tulisannya dibaca luas, memberi pencerahan, bahkan memantik hidayah. Sebaliknya, media membutuhkan suplai tulisan berupa opini, reportase, dan karya jurnalistik lainnya.
Tantangan Penulis di Era Media Digital
Transformasi media cetak ke media daring membuka peluang besar bagi penulis. Namun, perubahan ini juga menuntut penulis untuk beradaptasi dengan ritme baru. Oplah berganti algoritma, koran berganti laman web, dan hadir berbagai perangkat pendukung seperti aplikasi penghitung kata, desain digital, cek plagiasi, hingga kecerdasan buatan.
Menurut pemateri, mengikuti perkembangan ini bukan semata demi keterbacaan tulisan, tetapi juga sebagai bagian dari ikhtiar menjaga keberlangsungan dakwah dan bekal amal menuju akhirat.
Kesalahan Umum Penulis Saat Mengirim Naskah
Pemateri mengungkapkan beberapa persoalan yang kerap ditemui di meja redaksi. Di antaranya, penulis tidak memahami tujuan media, mengirim naskah tanpa mempelajari ketentuan, hingga berkomunikasi tanpa menjaga adab. Ada pula penulis yang mengultimatum media agar segera menayangkan tulisan, padahal setiap media memiliki durasi dan mekanisme berbeda.
Banyak tulisan dari penulis baru masuk ke meja redaksi. Hal ini menjadi perkembangan yang menggembirakan, mengingat aktivitas menulis bukanlah hal yang dapat dilakukan oleh semua orang, terlebih menulis opini yang menuntut kekuatan data, ketajaman analisis, serta kesungguhan proses. Menulis opini tidak bisa dilakukan secara serampangan.
Bahkan, tidak sedikit penulis yang namanya sudah tercantum dalam grup challenge maupun grup kontributor, yang berarti telah terdaftar sebagai penulis tetap media, namun produktivitas karyanya masih belum konsisten. Ibarat klomang, kadang muncul, kadang menghilang.
Strategi Menjalin Hubungan Sehat dengan Media
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Ustazah Rut membagikan beberapa kiat praktis, sebagian berikut:
Perbanyak produksi tulisan.
Meski terasa lebih berat, langkah ini membuat penulis tidak terpaku pada satu naskah. Jika satu tulisan belum tayang, penulis tidak perlu gelisah karena masih memiliki stok tulisan lain. Dalam pengalaman tim redaksi, sering kali penulis hanya memiliki satu tulisan yang sudah mendekati tenggat, bahkan baru disetorkan di hari-hari terakhir masa pengumpulan, sehingga terkesan terburu-buru.Bangun platform pribadi.
Penulis dapat memanfaatkan platform umum seperti Retizen, SNI, Kompasiana, Kumparan, Detik, dan sejenisnya. Saat ini, platform tersebut telah diakui dan dapat menjadi bagian dari laporan kepenulisan ke media. Jika dahulu tulisan di platform pribadi belum dianggap sebagai publikasi media, kini ritmenya telah berubah. Bahkan blog pribadi pun sudah dapat diperhitungkan sebagai karya yang tayang.Pelajari aturan setiap media dengan saksama.
Penulis perlu memahami ketentuan media, mulai dari mekanisme pemberitahuan tayang, kebolehan membagikan tulisan di media sosial sebelum terbit, penggunaan foto, panjang naskah, hingga batas plagiasi. Semakin penulis memahami kebutuhan dan karakter media, semakin besar peluang tulisannya untuk diterbitkan. Menuntut tulisan agar segera tayang justru menunjukkan kurangnya perhatian terhadap kebijakan media tersebut.Cermati tulisan yang telah tayang.
Tulisan yang sudah diterbitkan merupakan hasil proses penyuntingan editor. Penulis sebaiknya belajar dari perubahan tersebut agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Proses ini merupakan bagian penting dari pembelajaran, selain mengikuti komunitas menulis atau kelas kepenulisan. Jadikan evaluasi sebagai penguat, bukan beban.Jangan mundur menghadapi kritik dan saran.
Hubungan penulis dan media merupakan simbiosis yang tidak lepas dari kritik dan masukan. Penulis perlu bersikap lapang, tidak mudah tersinggung, apalagi menghilang tanpa kabar. Dalam praktiknya, tidak jarang penulis diminta melakukan revisi, namun hasil perbaikannya tidak kunjung dikirimkan, bahkan memilih diam atau membatalkan secara sepihak. Sikap ini sebaiknya dihindari demi menjaga profesionalitas.
Media Internal dan Eksternal: Peluang dan Tantangan
Pemateri menjelaskan bahwa media internal maupun eksternal pada dasarnya sama, sama-sama terikat kode etik jurnalistik. Perbedaannya hanya pada kemudahan komunikasi dan proses negosiasi.
Ia juga mendorong penulis untuk berani mengirim tulisan ke media eksternal, terutama untuk isu nasional. Menurutnya, media nasional menjadi ruang strategis untuk mengarusutamakan narasi Islam sebagai penyeimbang wacana yang berkembang di masyarakat.
Sesi Tanya Jawab
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Mbak Purwanti di Kisaran Sumatra Utara, menanyakan batas kewajaran menanyakan status tulisan ke media eksternal. Pemateri menjelaskan bahwa karakter media sangat beragam. Ada media yang secara jelas memberitahukan bahwa jika dalam jangka waktu tertentu tulisan tidak tayang, maka naskah tersebut memang tidak diterbitkan. Ada pula media yang hanya menghubungi penulis ketika tulisan dinyatakan tayang, sementara komunikasi tidak dilakukan melalui email. Sebagian media bersikap pasif, tanpa pemberitahuan apakah tulisan diterbitkan atau tidak. Bahkan, ada pula media yang mensyaratkan penulis untuk mengikuti seluruh akun media sosialnya agar tulisan dapat ditayangkan.
Karena itu, penulis dituntut untuk jeli. Umumnya, informasi terkait kebijakan penayangan dapat ditemukan di bagian bawah laman situs, seperti pada menu redaksi atau kirim tulisan, yang dapat dibaca secara saksama.
Secara umum, masa tunggu penayangan tulisan maksimal tujuh hari. Sebelum batas waktu tersebut, penulis tidak diperkenankan mengirim naskah yang sama ke media lain karena hal itu melanggar kode etik. Apabila setelah tujuh hari tulisan belum juga tayang, penulis dapat mengirimkan pemberitahuan penarikan naskah secara santun, dengan rencana menggantinya menggunakan tulisan baru yang lebih mutakhir, tanpa perlu menyebutkan pengiriman ke media lain.
Pertanyaan lain menyinggung platform umum seperti Retizen dan Kompasiana yang memuat beragam sudut pandang. Pemateri menegaskan bahwa platform tersebut tetap memiliki sistem penyaringan melalui tim approval. Pengalamannya yang beberapa kali akunnya diturunkan justru menjadi bukti adanya pertarungan pemikiran di ruang publik. "Dalam kondisi seperti itu, saya biasanya beralih menulis tema-tema yang lebih ringan, seperti tulisan nafsiyah, kuliner, wisata, bahkan curahan hati," ujarnya.
Menanggapi komentar host yang mengusulkan agar penulis lebih mengutamakan media internal agar tidak kekurangan tulisan, pemateri menegaskan bahwa hal tersebut tidak menjadi keharusan. Menurutnya, tidak ada aturan yang mewajibkan penulis lebih banyak mengirim tulisan ke media internal. Yang terpenting adalah produktivitas serta konsistensi dalam menulis, tanpa berhenti meskipun menghadapi hambatan.
Pemateri kemudian membagikan strategi yang biasa ia terapkan. Tulisan dengan isu aktual dan berbasis TOR atau TOS ia kirimkan ke media eksternal, sedangkan tema tatabuk yang lebih baru dikirimkan ke media internal. Alasannya, isu nasional perlu diarusutamakan melalui media nasional agar mampu menjadi gelombang penyeimbang terhadap narasi negatif yang berkembang di ruang publik.
Ia juga mengingatkan bahwa terlalu sering menempatkan media internal sebagai tujuan utama justru berpotensi melahirkan tulisan yang terasa sekadar setoran. Dalam praktik di meja redaksi, tidak jarang diterima beberapa tulisan dengan judul yang sama, bahkan isi dan tanda bacanya pun serupa tanpa upaya parafrase. Selain itu, masih sering ditemukan pengiriman materi lama yang tidak lagi relevan secara waktu.
Meski tidak ada istilah tema basi, pemateri menekankan pentingnya kreativitas penulis. Materi lama tetap dapat diolah dengan mengombinasikannya dengan data terbaru atau sudut pandang penulisan yang berbeda.
Menurutnya, pekerjaan rumah terbesar penulis saat ini adalah kurangnya rasa percaya diri untuk mengirim tulisan ke media eksternal. Banyak yang takut dikritik atau khawatir tulisannya tidak tayang. Padahal, jika fokus pada proses belajar dan tujuan dakwah, menulis di media eksternal justru akan terasa menantang sekaligus memacu semangat, serta tidak seseram yang dibayangkan.
Menjaga Konsistensi dan Mood Menulis
Menutup sesi diskusi, pemateri memberikan motivasi bagi penulis yang mengalami naik turun semangat. Menurutnya, kondisi tersebut manusiawi. Dalam mengatasinya, pemateri menyarankan untuk bersikap santai dan rileks, tanpa memaksakan hati maupun pikiran. Penulis dapat melakukan afirmasi diri dengan menentukan waktu kapan akan mulai menulis. Ketika waktu tersebut sudah ditetapkan, misalnya dua jam ke depan, maka komitmen itu perlu dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Pemateri menegaskan bahwa cara setiap orang berbeda-beda, bergantung pada kesibukan serta pengenalan terhadap potensi diri masing-masing. Karena itu, penting untuk terus memohon pertolongan kepada Allah agar diberi kemudahan.
Secara teknis, penulis dapat menyiasatinya dengan mencicil draf tulisan. Setiap kali menemukan berita atau ide, poin-poin penting dapat langsung dicatat dan disimpan, misalnya di aplikasi pengolah kata, lengkap dengan tautan sumbernya. Dengan cara ini, ketika tiba waktu mengeksekusi tulisan, beban akan terasa lebih ringan dan tidak terlalu memengaruhi suasana hati.
Penutup
Sesi sharing pun berakhir dengan suasana hangat. Salah satu peserta, Maya Rohmah, memberikan apresiasi kepada host yang dinilai membawakan acara dengan diksi yang hidup dan mengalir. Host menanggapi dengan rasa syukur seraya berharap kemampuannya terus berkembang dan bermanfaat bagi dakwah di jalan Allah. [My/Des]
Baca juga:
0 Comments: