Oleh: Umi Hafizha
(Kontributor SSCQMedia.Com)
Judul Buku: Ibu, Izinkan Aku Membangun Sakinah
Penulis: Athiefa Dienillah
Penerbit: SSCQ Publishing
Tahun Terbit: 2022
Jumlah Halaman: 182 hlm
Peresensi: Umi Hafizha
“Kalau kamu sudah punya gambaran bagaimana kehidupan berkeluarga, tanggung jawab, dan konsekuensi yang akan dihadapi, pada prinsipnya kami tak akan menghalangi. Mungkin hanya doa yang kami bisa berikan, agar kamu bisa membangun kehidupan sakinah, mawaddah wa rahmah.” (hlm. 3)
“Kalau sudah berani berumah tangga, kamu harus tahu akan dibawa ke mana biduk rumah tanggamu, agar tak kehilangan arah saat mengemudikannya.” (hlm. 3)
Buku Ibu, Izinkan Aku Membangun Sakinah karya Bunda Athiefa hadir untuk mengajak pembaca menyelami perjalanan pernikahan dari sudut pandang seorang anak, pasangan, sekaligus sebagai hamba Allah. Buku ini tidak sekadar membahas romantika rumah tangga, tetapi mengurai makna sakinah sebagai sebuah proses panjang yang sarat ujian, pengorbanan, dan ketundukan pada nilai-nilai Islam. Judulnya yang sederhana namun emosional langsung menyentuh relung hati, terutama bagi anak yang tengah bersiap melepaskan genggaman ibunya demi membangun bahtera rumah tangga.
Buku ini disusun dalam bentuk esai-esai pendek yang reflektif. Setiap bab mempresentasikan fase kehidupan pernikahan, mulai dari meminta restu ibu, proses penyatuan dua keluarga, realitas hubungan jarak jauh, konflik rumah tangga, hingga ujian ekonomi, pendidikan anak, dan kehilangan orang tua. Penulis tidak menarasikan kisah dengan gaya menggurui, melainkan mengajak pembaca merenung melalui pengalaman sehari-hari yang sangat dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada keberhasilannya menempatkan sosok ibu sebagai figur sentral dalam perjalanan menuju sakinah. Ibu tidak hanya digambarkan sebagai orang tua, tetapi juga sebagai sumber doa, restu, dan kekuatan ruhiyah. Dalam bab “Aku Meminta Restumu, Ibu” dan “Ibu, Cucu Untukmu”, pembaca diajak menyadari bahwa pernikahan bukanlah bentuk pemutusan hubungan dengan orang tua, melainkan fase baru yang menuntut kedewasaan dalam memuliakan ibu tanpa menafikan peran pasangan.
Penulis juga mengangkat tema-tema yang kerap dianggap tabu atau sensitif, seperti kegamangan antara ibu dan istri, miskomunikasi, pertengkaran pertama, hingga persoalan riba. Bab “Galau, Antara Ibu dan Istri”, misalnya, ditulis secara jujur dan empatik, menggambarkan dilema yang sering dialami pasangan muda. Namun, penulis senantiasa mengembalikan solusi pada prinsip-prinsip Islam, keadilan, komunikasi yang jujur, serta menjadikan Allah sebagai pusat orientasi kehidupan rumah tangga.
Dari sisi spiritualitas, buku ini kental dengan nilai-nilai ruhiyah. Bab-bab seperti “Kekuatan Ruh Jama’i”, “Aulawiyat”, “Pilihan Utama dan Taat”, serta “Bekerja untuk Allah, Dia yang Akan Membayar Upahmu” menegaskan bahwa kehidupan sakinah tidak akan terwujud tanpa pondasi iman yang kokoh. Pernikahan digambarkan sebagai ladang ibadah terpanjang, tempat pahala dan ujian berjalan beriringan. Dalam perspektif ini, sakinah bukan berarti tanpa masalah, melainkan ketenangan yang lahir dari kesadaran bahwa setiap persoalan dihadapi bersama Allah.
Bahasa yang digunakan penulis sederhana, mengalir, dan sarat sentuhan emosional. Gaya bertutur yang lembut membuat buku ini terasa seperti nasihat seorang sahabat. Kekuatan emosionalnya justru terletak pada kesederhanaan tersebut. Pembaca tidak disuguhi teori rumah tangga yang rumit, melainkan pengingat-pengingat kecil yang kerap terlupakan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Secara keseluruhan, Ibu, Izinkan Aku Membangun Sakinah merupakan bacaan yang relevan bagi calon pengantin, pasangan muda, maupun para orang tua. Buku ini menegaskan bahwa membangun sakinah bukan semata tanggung jawab suami dan istri, tetapi juga berkaitan erat dengan adab kepada orang tua serta ketundukan kepada Allah Swt. Karya Bunda Athiefa ini menjadi pengingat bahwa sakinah itu ada, nyata, dan dapat diraih selama dijalani dengan iman, kesabaran, serta doa seorang ibu yang tak pernah terputus. [My/WA]
Baca juga:
0 Comments: